Kebahagiaan Hajatan Terjaga Meski di Tengah Banjir Dayeuhkolot

Kebahagiaan Hajatan Terjaga Meski di Tengah Banjir Dayeuhkolot

Yuga Hassani - detikJabar
Minggu, 12 Apr 2026 15:37 WIB
Hajatan di tengah banjir Dayeuhkolot
Hajatan di tengah banjir Dayeuhkolot (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Hentakan musik dangdut memecah suasana siang yang basah. Di tengah genangan air yang menggenangi jalan dan halaman rumah, tawa dan irama tetap berpadu, menghidupkan suasana hajatan yang tak biasa. Kaki-kaki para tamu basah, sebagian celana tergulung, namun tak satu pun mengurangi semangat mereka untuk hadir dan berbagi kebahagiaan.

Di Kampung Leuwi Bandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kebahagiaan itu tetap digelar, meski banjir merendam hampir seluruh akses menuju lokasi.

Air setinggi 10 hingga 30 sentimeter menggenangi area hajatan, sementara jalan utama yang harus dilalui para tamu justru lebih parah, dengan ketinggian mencapai 60 sentimeter. Bahkan dari arah lain, genangan di Kampung Cijagra mencapai hingga satu meter, seolah menjadi ujian bagi siapa saja yang ingin datang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun satu per satu, tamu tetap berdatangan. Mereka menembus air, melangkah perlahan, menjaga keseimbangan di tengah arus yang tenang namun pasti menghambat. Di bawah tenda sederhana, musik tetap mengalun. Dangdut tak peduli pada banjir, ia tetap mengajak siapa pun untuk bergoyang.

ADVERTISEMENT

Di balik semua itu, ada rasa syukur yang lebih besar. Hajatan tersebut digelar untuk merayakan khitanan seorang anak, sebuah momen penting yang telah direncanakan jauh hari.

"Alhamdulillah (hajatan) lancar, agak sedikit terhambat sih," ujar Acep Mamat Rohimat (35), perwakilan keluarga, dengan nada tenang meski situasi tak sepenuhnya bersahabat.

Banjir sendiri sudah datang sejak malam sebelumnya. Air perlahan naik, merendam jalan dan halaman, membawa kekhawatiran yang sempat menyelimuti persiapan.

"Iya, tetap lanjut saja. Kalau selutut juga tetap lanjut, alhamdulillah undangan pada datang," katanya.

Hajatan di tengah banjir DayeuhkolotHajatan di tengah banjir Dayeuhkolot Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Tak ada pilihan untuk membatalkan. Undangan telah tersebar, persiapan sudah matang, dan harapan sudah terlanjur dipasang tinggi.

"Nggak ada, nggak ada (ngebatalin undangan), tetap lanjut saja. Ya kan soalnya undangan sudah kesebar," jelasnya.

Di tengah kondisi itu, para tamu tetap datang dari berbagai arah. Dari selatan, timur, barat, semuanya membawa cerita yang sama, perjuangan menembus banjir demi sebuah silaturahmi.

"Iya tamu kebanjiran memang, datang dari sana, dari selatan, dari timur, dari barat, kebanjiran tamu teh," ucapnya.

Momen makan bersama pun harus beradaptasi. Kursi-kursi dipindahkan ke rumah yang tak terdampak banjir, menciptakan ruang aman di tengah genangan yang tak bisa dihindari.

"Makan di rumah, kursi juga disediain. Area rumah nggak banjir semenjak ada polder itu. Makan juga di rumah berarti," bebernya.

Bagi warga setempat, banjir bukan hal baru. Leuwi Bandung sudah lama dikenal sebagai wilayah langganan genangan. Namun kini, setidaknya ada sedikit perubahan.

"Biasanya kan ini (Leuwi Bandung) dalam, kalau di orang dewasa lah segini (dada). Alhamdulillah semenjak ada polder di sana (sungai Cikapundung), jadi agak surut. Jadi kalau Ria Busana, Dayeuhkolot, kalau banjir selutut orang dewasa, di sini laput, istilahnya mah tenggelam lah kalau orang dewasa gitu," pungkasnya.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads