Genangan air setinggi lutut orang dewasa menutup seluruh badan Jalan Raya Dayeuhkolot, Minggu (12/4/2026). Jalan yang biasanya menjadi urat nadi penghubung Kabupaten Bandung menuju Bandung itu mendadak lumpuh total. Tak ada deru mesin kendaraan, yang terdengar hanya cipratan air dan langkah kaki warga yang mencoba bertahan.
Sejak pagi, banjir dengan ketinggian 60 hingga 80 sentimeter menguasai jalan. Sepeda motor dan mobil tak lagi berdaya, semuanya terhenti. Sebagian warga memilih berjalan kaki menembus arus, sementara lainnya bergantung pada delman sebagai satu-satunya moda transportasi yang masih bisa melintas.
Pemandangan tak biasa pun tersaji. Pengendara motor yang nekat menerjang banjir harus menyerah saat mesin kendaraannya mati di tengah genangan. Mereka hanya bisa mendorong motor perlahan, melawan arus air yang tak bersahabat. Di sisi lain, sebagian warga memilih memutar arah, mencari jalur alternatif yang belum tentu lebih cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah kondisi itu, Hendra (43) tetap berjuang. Dengan sepeda, ia mencoba menembus banjir dari Ciparay menuju kawasan Kopo. Setiap kayuhan terasa lebih berat, setiap langkah seperti melawan arus yang tak kunjung surut.
"Iya ini luapan dari Kota Bandung, soalnya dari kemarin hujan gede banget. Sama luapan sungai Citarum juga," ujar Hendra saat ditemui di lokasi.
Banjir bukan sekadar genangan bagi Hendra, melainkan hambatan nyata yang mengganggu rutinitas hariannya. Jalan yang biasa ditempuh dalam 45 menit kini bisa memakan waktu lebih dari satu jam.
Banjir Dayeuhkolot Bandung Foto: Yuga Hassani/detikJabar |
"Kalau kerja suka lewat sini, apalagi saya kerja cuma pakai sepeda. Kalau lewat Bojongsoang, macet parah. Perjalanan biasanya 45 menit kalau enggak banjir. Kalau banjir bisa satu jam lebih," katanya.
Keterlambatan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Meski begitu, ia bersyukur tempat kerjanya masih bisa memahami kondisi yang terjadi.
"Iya sering telat masuk kerja kalau banjir gini," jelasnya.
Di balik genangan yang tak kunjung surut, tersimpan harapan sederhana. Hendra ingin ada solusi nyata, agar banjir yang kerap datang tak lagi menjadi langganan.
"Saya pengennya bisa segera ditindaklanjuti aja sama pemerintah supaya tidak terjadi lagi. Terus kesadaran masyarakat juga jangan membuang sampah sembarangan. Harapannya bisa segera ditangani," pungkasnya.
(dir/dir)












































