Jabar Hari Ini: Perawat RSHS Dinonaktifkan Buntut Bayi Nyaris Tertukar

Jabar Hari Ini: Perawat RSHS Dinonaktifkan Buntut Bayi Nyaris Tertukar

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 10 Apr 2026 22:00 WIB
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung.
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, Jumat (10/4/2026). Mulai dari cerita pilu siswa di Cianjur yang belajar di ruangan tak berdinding, hingga penonaktifan oknum nakes di RSHS Bandung akibat pelayanan ceroboh. Berikut rangkuman Jabar hari ini:

Siswa Madrasah Cianjur Belajar di Ruangan Tak Berdinding

Kondisi memprihatinkan masih membayangi dunia pendidikan keagamaan di Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Sebanyak 170 siswa Madrasah Diniyah Takmiliyah (DTA) terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di tempat seadanya sejak gempa besar melanda wilayah tersebut pada 2022.

Bangunan madrasah yang sebelumnya digunakan runtuh akibat Gempa Cianjur 2022. Sejak saat itu, para siswa DTA Sabilunajah Al Bariyah harus belajar di gubuk bambu dan area pos ziarah yang jauh dari kata layak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa dinding pelindung, hanya beralaskan fondasi bambu dan beratapkan genting, ruang belajar tersebut tak mampu menahan terpaan cuaca. Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam ruangan, memaksa para siswa berkumpul di tengah untuk menghindari basah.

ADVERTISEMENT

"Kalau udah mendung langsung tidak tenang, takutnya hujan deras. Jadi belajar tidak fokus. Kan kalau hujan jadi harus berkumpul di tengah, karena tidak ada dinding jadinya air hujan masuk," ungkap Hani (11), salah satu siswa, Kamis (9/4).

Kendati demikian, semangat belajar para siswa tetap terjaga. Mereka tetap mengikuti kegiatan mengaji dan pelajaran agama setiap hari sepulang sekolah formal.

Pimpinan DTA Sabilunajah Al Bariyah, Misbahudin, menjelaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung hampir tiga tahun. Ia menyebut bangunan madrasah sebelumnya tidak dapat digunakan lagi akibat kerusakan parah pascagempa.

"Jadi memang ini kan ada dua ruangan, satu dari saung bambu itu dan tempat ziarah makam dan keduanya ruangan terbuka, jadi ketika hujan ya kita berhenti dulu, ke pinggir dulu sambil nunggu hujan reda," tuturnya.

Keterbatasan ruang membuat proses belajar harus dibagi ke beberapa lokasi. Sekitar 100 siswa kelas 4 hingga 6 belajar di bangunan bambu tersebut, sementara siswa kelas 1 dan 2 belajar di rumah pribadi Misbahudin. Adapun siswa kelas 3 menggunakan lantai dua masjid sebagai ruang belajar.

Meski serba terbatas, Misbahudin mengaku terharu melihat antusiasme para siswa yang tetap semangat menuntut ilmu. "Alhamdulillah masih pada semangat walaupun dengan kondisi kekurangan fasilitas," ujarnya.

Namun, hingga kini belum ada bantuan atau tindak lanjut dari pemerintah, baik di tingkat desa maupun daerah, meski pihak madrasah telah berulang kali menyampaikan kondisi tersebut.

"Sudah 3 tahun ini tidak ada tanggapan baik dari pemerintah desa hingga pemerintah daerah. Padahal kami sudah menyampaikan kondisi selama ini," pungkasnya.

Cemburu Berujung Petaka, Pria di Bandung Jatuh ke Sungai Citarum

Seorang pria berinisial EH (27) terpeleset dan jatuh ke Sungai Citarum di Jembatan Cikarees, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis (9/4/2026) malam. Petugas gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian.

Kapolsek Baleendah AKP Hendri Noki membenarkan insiden tersebut. Ia menyatakan proses pencarian terhadap korban masih berlangsung dengan melibatkan personel TNI, Polri, Basarnas, dan Damkar.

"Iya hari ini masih dilakukan pencarian. Tadi pencarian menyusuri sungai Citarum sampai ke wilayah Kecamatan Katapang," ujar Hendri, kepada detikJabar hari ini.

Hendri mengungkapkan peristiwa bermula saat EH dan istrinya, V (26), mendatangi Taman Ceria di pinggir Jembatan Cikarees. Keduanya datang ke lokasi untuk berkumpul bersama rekan-rekannya.

"Iya pria inisial EH dan istrinya V datang ke TKP sekitar jam 23.00 WIB, Kamis 9 April 2026. Tujuannya untuk kumpul atau nongkrong sama teman-temannya," katanya.

Saat suasana berkumpul berlangsung, EH diduga terbakar cemburu karena melihat seorang temannya terlalu akrab dengan V. EH yang tersulut emosi kemudian memutuskan pulang untuk mengambil sebilah pisau.

"Setelah itu EH kembali lagi ke TKP dan EH langsung akan menusuk temannya, akan tetapi saudari V mencegahnya, hingga pisau tersebut terjatuh ke besi bawah jembatan," jelasnya.

EH kemudian berusaha mencari pisau tersebut ke bawah jembatan dengan diikuti V. Namun, saat tengah mencari pisau tersebut, EH tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke aliran Sungai Citarum. "Iya jadi saat EH mencari pisau, terus terpeleset dan terjatuh ke sungai Citarum Cikarees," ucapnya.

Hendri menyebutkan, setelah menerima laporan tersebut, petugas langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Hingga saat ini, tim gabungan masih terus melakukan pencarian di sekitar lokasi. "Sampai sekarang EH masih dalam pencarian," pungkasnya.

Perawat RSHS Dinonaktifkan Buntut Insiden Bayi Nyaris Tertukar

Insiden nyaris tertukarnya bayi di ruang NICU Rumah Sakit Hasan Sadikin menjadi sorotan serius pihak rumah sakit. Peristiwa tersebut mendorong manajemen untuk segera mengambil langkah evaluasi menyeluruh guna mencegah kejadian serupa terulang.

Direktur Utama RSUP Dr. Hasan Sadikin, Rachim Dinata Marsidi, mengungkapkan bahwa perawat yang terlibat dalam kelalaian tersebut telah dinonaktifkan dari tugas pelayanan pasien. "Perawatnya di nonaktifkan dipindahkan ke bagian yang tidak melayani pasien dan diberikan SP1," kata Rachim dalam keterangannya hari ini.

Ia menegaskan, pihak rumah sakit bersikap terbuka terhadap evaluasi dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kesehatan. "Kami RSHS siap untuk dilakukan evaluasi oleh Kemenkes dan kami sudah melaporkan ke Kemenkes terkait kejadian ini," ujarnya.

Tak hanya itu, pembenahan internal juga akan dilakukan melalui penguatan kembali standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam proses penyerahan bayi kepada orang tua.

"RSHS akan mengevaluasi dan melakukan pembinaan lagi kepada para perawat terhadap kepatuhan melaksanakan SOP mengenai penyerahan bayi ke pada orang tauanya yang selama ini sudah berjalan dengan baik," pungkasnya.

Wanita Pembunuh Pria Disabilitas Subang Divonis 15 Tahun Bui

Minggu, 26 Januari 2025, warga Dusun Cemara, Desa Kalentambo, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, digegerkan dengan penemuan mayat pria penuh luka. Dalam gelapnya malam, jasad korban ditemukan tergeletak di pematang sawah dekat Jalan Pertamina.

Setelah warga melapor ke polisi, jasad korban akhirnya berhasil diidentifikasi. Korban bernama Toikin, pria disabilitas dengan kondisi medis tertentu yang saat itu berusia 22 tahun dan tercatat beralamat di Desa Kebon Danas, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang.

Temuan itu kemudian ditindaklanjuti kepolisian. Kamis, 30 Januari 2025, polisi mengumumkan bahwa pelakunya telah diamankan. Ironisnya, pelaku merupakan dua orang wanita yakni Ais Nurliani (22) dan seorang remaja berinisial TK (16).

Berkas perkara keduanya pun rampung disusun. Februari 2025, TK diadili terlebih dahulu di Pengadilan Negeri (PN) Subang, menyusul Ais Nurliani pada Maret 2025 dengan dakwaan pembunuhan berencana.

Dalam berkas dakwaan, terbongkar bagaimana kekejian ini mereka lakukan terhadap Toikin. Semuanya bermula pada dua pekan sebelum pembunuhan saat Ais Nurliani terbakar api cemburu karena TK kembali berkomunikasi dengan korban.

Ais dan TK sendiri sudah menjalani hubungan asmara sesama jenis sekitar 10 bulan. Sedangkan korban diketahui merupakan mantan kekasih TK yang sempat menjalin hubungan asmara.

Terbakar api cemburu, Ais kemudian mengonfrontasi TK soal hubungan masa lalunya dengan korban. Di momen inilah, TK berterus terang pernah menjalin hubungan intim layaknya suami-istri dengan Toikin.

Sampai kemudian pada hari kejadian pembunuhan, Sabtu, 25 Januari 2025, Toikin kembali menghubungi TK tepatnya sekitar pukul 14.00 WIB. Korban mengajaknya untuk bertemu, namun hal itu ternyata menimbulkan rasa risih dalam diri TK.

TK lalu menceritakan hal itu kepada Ais Nurliani. TK saat itu meminta Ais untuk menemaninya bertemu dengan Toikin, sembari membawa pisau yang tadinya disiapkan untuk berjaga-jaga.

Pukul 18.30 WIB, TK menjemput Ais untuk bertemu dengan Toikin. Keduanya ternyata sama-sama membawa pisau yang disimpan di dalam bagasi atau jok motor.

Setengah jam kemudian, dua wanita muda itu menjemput Toikin yang berada di Desa Cigugur, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang. Dari sana, mereka membawa korban untuk berkumpul di sekitar kawasan Pelabuhan Patimban.

Dari kawasan Pelabuhan Patimban, Ais dan TK mengajak Toikin untuk bergeser ke tempat sepi yang mereka tentukan di lokasi kejadian. Sesampainya di sana sekitar pukul 22.00 WIB, TK mengambil sebilah pisau dari dalam jok motor dan menyimpannya di saku celana.

Tak diduga, setibanya di lokasi, Toikin malah memicu emosi kedua wanita muda itu. Korban memperlihatkan video porno hubungannya dengan TK, sembari meraba dan memegang area vital kedua wanita tersebut.

Tak pikir panjang, Ais dan TK langsung melampiaskan amarahnya. Keduanya terlebih dahulu memukul bagian badan Toikin yang ternyata memicu perlawanan dari korban.

Ais yang sudah tersulut emosinya kemudian mengambil pisau yang disimpan di dalam jok motor, langkah ini diikuti oleh TK. Pisau tersebut dihunuskan ke bagian belakang kepala Toikin, namun korban masih bisa menghindar.

Setelah beberapa kali percobaan, keduanya berhasil melukai tubuh Toikin. Sebuah hunusan pisau ke arah punggung korban membuatnya ambruk dan tak bisa lagi melawan.

Dengan gelap mata, Ais Nurliani menusuk punggung Toikin sebanyak 10 kali. Sementara TK yang ikut emosi juga menghunuskan pisau yang dipegangnya berkali-kali hingga korban bersimbah darah.

Begitu korban tumbang, keduanya langsung kabur meninggalkan lokasi kejadian. Namun di tengah perjalanan, mereka memutuskan kembali ke lokasi tersebut untuk memastikan kondisi korban.

Sekitar pukul 23.00 WIB, mereka tiba kembali di lokasi kejadian. TK yang menyadari korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan justru menusuk Toikin lagi hingga pisaunya tertancap di bagian kepala korban.

Dengan tergesa-gesa, mereka lalu kabur untuk menutupi jejak kejahatannya. Pisau TK tertancap di kepala korban, sedangkan pisau yang dibawa Ais dibuang di daerah Patimban.

Meski telah kabur untuk menghilangkan jejak, aksi kejahatan dua wanita muda asal Subang ini akhirnya terbongkar. Semuanya bermula saat jasad korban ditemukan oleh warga sekitar pada keesokan harinya, Minggu, 26 Januari 2025.

Di persidangan, keduanya didakwa pasal berlapis. Mulai dari Pasal 340 KUHP Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP, serta Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Subang saat itu menuntut Ais dengan hukuman 18 tahun kurungan penjara, sementara TK dituntut dengan hukuman 9 tahun penjara. Keduanya ditengarai bersalah melanggar Pasal 340 KUHP Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Sampai kemudian, Majelis Hakim PN Subang menjatuhkan putusannya. Pada 28 Februari 2025, TK divonis hukuman 6 tahun penjara di Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung karena dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Sementara Ais Nurliani divonis 15 tahun kurungan penjara di Lapas Subang. Setelah putusan itu dibacakan, kedua wanita tersebut memutuskan tidak melakukan banding atas perkara ini.

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 15 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Subang," demikian bunyi petikan putusan Majelis Hakim PN Subang sebagaimana dilihat detikJabar, Jumat (10/4).

Ratusan Siswa SMAN 1 Cisayong Tasikmalaya Diduga Keracunan MBG

Ratusan pelajar SMAN 1 Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami gejala keracunan massal diduga usai menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Belasan pelajar bahkan dibawa ke Puskesmas Cisayong untuk mendapatkan penanganan medis pada Kamis (9/4).

Satu orang pelajar bahkan harus dirujuk ke RSUD KHZ Musthafa karena kondisinya yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.

"Terdeteksi 114 orang, 14 dirawat. Ini makannya kemarin Rabu, bukan hari ini Kamis, tapi mulai kerasa malamnya," ujar Guru SMA N 1 Cisayong, Arif di Puksesmas Cisayong hari ini.

Pihak sekolah mendeteksi sebanyak 114 siswa mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan buang air terus-menerus. Dari jumlah tersebut, 17 siswa harus dilarikan ke Puskesmas Cisayong untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

"Jadi dirawat di Puskesmas beberapa dan sisanya ada yang balik lima orang," kata Arif.

Camat Cisayong, Ayi Mulyana membenarkan kejadian tersebut. Para korban langsung ditangani petugas medis dengan pemberian cairan infus serta obat-obatan. Sementara itu, siswa lain yang hanya mengalami gejala ringan diperbolehkan pulang setelah menjalani observasi.

"Sudah ditangani oleh petugas medis. Penyebab dan lainya masih dalam penyelidikan," kata Ayi Mulyana pada detikJabar, Jumat (10/4) pagi.

Berdasarkan pengakuan sejumlah siswa, mereka mulai merasakan gejala keracunan usai mengonsumsi sayur sup dari program MBG. Petugas gabungan pun langsung mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Sejumlah saksi, termasuk para korban, juga dimintai keterangan guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

"Kami Forkopimcam hadir untuk pastikan para korban mendapatkan pelayanan yang baik. Bagi siswa yang merasakan gejala yang sama segera datangi layanan medis terdekat," ujar Ayi Mulyana.

Ketua Tim Satgas MBG Tasikmalaya, Ruby Azhari memastikan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya langsung menangani persoalan ini secara serius. Satgas sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium di Bandung.

Asisten daerah ini menyebutkan bahwa penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih dalam tahap penyelidikan mendalam.

"Dugaan keracunan makanan penerima manfaat yang mengkonsumsi menu MBG. Penyebab Masih diselidiki karena baru kita ambil sampel dan dikirim ke lab di Bandung," kata Ruby Azhara.

Satgas MBG memastikan para korban mendapatkan penanganan medis yang maksimal. Kejadian ini pun telah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Buntut dari peristiwa ini, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bersangkutan telah diberhentikan operasionalnya oleh BGN terhitung mulai Jumat (10/4).

"Kami memastikan korban ditangani dengan baik, melaporkan ke BGN dan SPPG tersebut per hari ini diberhentikan operasional sementara oleh BGN," kata Ruby.

Ruby menambahkan bahwa pihaknya sangat menyayangkan peristiwa dugaan keracunan program MBG ini kembali terulang. Pihaknya meminta agar seluruh pengelola SPPG lebih berhati-hati dalam mengolah makanan.

"Sangat menyayangkan terjadi kejadian ini dan menghimbau sppg di wilayah Kabupaten Tasik agar semakin serius dan berhati hati jangan ada lagi masyarakat yg menjadi korban," pungkas Ruby.

Halaman 2 dari 2
(wip/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads