Gejolak geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Iran dan Amerika Serikat, mulai terasa dampaknya hingga ke Jawa Barat. Terganggunya distribusi energi membuat harga minyak melonjak dan berimbas langsung pada kenaikan harga plastik.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun bergerak menyusun langkah antisipasi agar dampaknya tidak semakin meluas, terutama bagi industri dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada bahan baku plastik.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Nining Yuliastiani, menjelaskan bahwa kenaikan harga ini merupakan efek berantai dari situasi global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tahu bersama bahwa bahan baku dari plastik ini itu dari turunan dari produk BBM dan pasti berdampak. Karena kebutuhan tetap pasti meningkatkan harga," ucap Nining, Kamis (9/4/2024).
Nining mengakui, Indonesia termasuk Jawa Barat masih sangat bergantung pada bahan baku impor untuk industri plastik. Produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar setengah dari kebutuhan.
"Di sisi lain pada posisi domestik kita itu memang sangat bergantung pada bahan baku luar. Bisa dibilang bahwa kita baru bisa memproduksi plastik itu 40 sampai 50% memenuhi kebutuhan, sedangkan sisanya masih sifatnya impor," katanya.
Di Jawa Barat sendiri, impor plastik memang bukan yang terbesar, namun tetap memiliki peran penting dalam struktur industri dengan persentase 8-9% dari seluruh nilai impor. Ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan harga pun semakin terasa.
"Dengan adanya masalah atau kemudian gangguan seperti ini tentu saja ini berdampak pada kenaikan harga plastik. Lebih lagi nilai tukar rupiah kita juga melemah dan ini berdampak pada harga juga semakin lebih tinggi lagi," ujarnya.
Cari Pemasok Baru, Kurangi Ketergantungan
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov Jabar kini mulai melakukan diversifikasi sumber impor bahan baku plastik. Hal ini, kata Nining, sejalan dengan kebijakan yang dianjurkan oleh pemerintah pusat.
Selama ini, pasokan bahan baku plastik menurutnya banyak bergantung pada negara seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Namun kini negara-negara tersebut mulai membatasi ekspor demi kebutuhan domestik.
"Maka kita sekarang sedang mencari potensi potensi negara lain yang memiliki produksi yang cukup tinggi untuk mau apa ekspor seperti Amerika Serikat, India," ungkapnya.
Tak hanya mencari, Pemprov juga akan mempertemukan pelaku industri dengan calon pemasok baru dengan tujuan mengatasi persoalan kenaikan harga yang kemungkinan terus terjadi selama eskalasi masih berlangsung.
"Jadi kita akan menghubungkan pihak yang membutuhkan di kita untuk kemudian kita hubungkan dengan produsen yang ada di negara lain," katanya.
Di tengah kenaikan harga, pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku plastik masih relatif aman. Namun, pengawasan terus dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan lebih lanjut.
"Stok sejauh ini masih aman, tapi memang harga naik. Dalam kaitan tersebut, kami nanti akan bisa melihat apa yang perlu dilakukan berkaitan dengan ketersediaan stok dan juga harga yang kemudian nanti kemungkinan bisa terus naik apabila tidak dilakukan treatment," jelas Nining.
Dorong Efisiensi hingga Daur Ulang
Selain dari sisi pasokan, Pemprov juga mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi produksi, salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahan baku.
"Kemudian yang berikutnya yang kita lakukan adalah mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian berkaitan misalnya kemasan plastik sekarang ketebalannya dipertipis sehingga bisa lebih murah dalam biaya produksinya," ucapnya.
Tak hanya itu, daur ulang plastik juga didorong untuk menekan ketergantungan bahan baku baru.
"Kemudian juga kita mendorong recycle plastik di mana sebenarnya sudah ada industri yang saat ini meresycle plastik yang ada untuk kemudian diproduksi kembali dengan kualitas yang cukup baik," tutur Nining.
Kenaikan harga plastik juga membuka peluang bagi bahan alternatif seperti plastik berbasis jagung atau singkong. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan plastik.
"Cukup baik juga apabila kemudian masyarakat karena dengan harga plastik yang mahal, untuk lebih bisa murah harga barang yang dibeli itu mereka membawa sendiri kantong plastik atau kemudian mereka menerapkan refill reduce," harap Nining.
Nining menegaskan, dalam situasi global seperti ini, kenaikan harga memang sulit dihindari. Namun, dampaknya masih bisa ditekan dengan strategi yang tepat, seperti mencari pemasok baru hingga efisiensi penggunaan plastik.
"Posisi ketergantungan kita masih cukup tinggi untuk bahan baku impor. Tentu saja kita perlu mencari negara supplier lainnya untuk mengisi kebutuhan plastik kita untuk nanti menghindari adanya shortage pasokan dan kita berharap dengan cara ini juga bisa nantinya menurunkan harga agak tidak terlalu melonjak naik," pungkasnya.
