Menanti Keajaiban bagi Bocah Tasikmalaya yang Kritis Dipatuk Ular

Round-Up

Menanti Keajaiban bagi Bocah Tasikmalaya yang Kritis Dipatuk Ular

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 08 Apr 2026 09:00 WIB
Potret ular weling (Bungarus candidus) sedang merayap di tanah.
Ular Weling (Bungarus candidus). (Foto: Benjamin Michael Marshall/Flickr/Lisensi CC BY-NC 2.0)
Bandung -

Pasangan suami istri asal Kabupaten Tasikmalaya, Andis Kuswara dan Siti Hindun, kini sedang gundah gulana. Mereka menanti keajaiban untuk kesembuhan anaknya, DK (12), yang sedang berjuang melewati fase kritis setelah dipatuk ular berbisa.

Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Minggu (29/3/2026) malam. Saat kejadian, korban sedang tertidur bersama ibunya beralas tikar di ruang tengah rumahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesaat kemudian, DK menyadari kemunculan ular weling (Bungarus candidus) di hadapannya. Tanpa menaruh curiga, bocah tersebut justru mendekati ular berbisa itu karena menganggapnya sebagai mainan.

"Tidurnya di rumah bersama saya, tidur di ruangan tengah, tidak di ranjang. Kemudian dia bilang, mah ada ular. Dipegang, karena dikiranya mainan," ujar ibu kandung korban, Siti Hindun kepada detikJabar di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa, Selasa (7/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sesaat kemudian, petaka tidak bisa dielakkan. Tangan kanan DK dipatuk ular weling yang membuatnya kini harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Awalnya, korban tak merasakan sakit apa pun setelah dipatuk ular tersebut. Kedua orang tuanya sempat membawa DK ke tabib kampung setempat, sebelum akhirnya disarankan untuk langsung dilarikan ke rumah sakit.

"Dibawa dulu ke orang yang bisa, katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa," ujar Hindun.

Saat di perjalanan, korban mulai mengeluhkan sakit di bagian perut. Perlahan, kondisi korban kian mengkhawatirkan karena mengalami kesulitan menelan makanan dan sesak napas, hingga akhirnya jatuh pingsan.

Kondisi ini terjadi karena ular weling memiliki racun neurotoksin yang sangat berbahaya. Menurut sejumlah sumber, bisa ular weling mampu menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan, terutama pada otot pernapasan yang membuat korbannya kesulitan bernapas.

"Anak saya pingsan, sampai akhirnya dibawa ke ruangan ICU," ujar Hindun.

Pihak RSUD KHZ Musthafa memastikan telah menangani pasien dengan cepat dan tepat. Pasien tercatat sudah 10 hari menjalani perawatan di ruang ICU RSUD KHZ Musthafa hingga Selasa (7/4/2026).

Tim dokter spesialis langsung dikerahkan, termasuk dokter spesialis toksinologi dari Jawa Barat. Pasien mengalami gagal napas hingga terpaksa dipasang alat bantu pernapasan atau ventilator.

"Benar ada pasien anak dipatuk ular kami tangani dengan maksimal untuk membantu masyarakat," kata Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr Eli Hendalia.

Eli menambahkan, kasus yang menimpa DK terbilang jarang. Biasanya, jika bisa ular ditangani dengan tepat, pasien akan sembuh dengan cepat. Namun, kondisi pasien kali ini membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama.

Biasanya, pemberian antibisa atau antivenom hanya menghabiskan tiga sampai empat vial saja. Namun, kasus yang menimpa DK telah menghabiskan 50 vial antivenom. Disinyalir, racun ular tersebut telah melemahkan otot paru-paru korban.

"Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom," kata Eli.

Pengobatan pasien ditanggung oleh BPJS Kesehatan, meski biayanya telah melebihi ketentuan plafon. Kendati demikian, pihak RSUD KHZ Musthafa tetap berkomitmen memberikan pelayanan medis maksimal demi menyelamatkan nyawa pasien.

"Kami berupaya selamatkan pasien bantu masyarakat. Kami sekuat tenaga dengan dinas provinsi adakan anti venom, anti venom saja sudah habis 50 vial. Pembiayaannya Rp 200 jutaan. Walau ke-cover BPJS tapi sudah lewat dari ketentuan, Kami tetap berusaha menyelamatkan jiwa apalagi anak ini insya Allah RS komitmen. Kita bisa cari dana untuk bantu pasien," ucap Eli.

Eli mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap hewan berbisa. Ia menyarankan warga untuk membiasakan tidur di atas dipan atau ranjang, bukan di lantai, terutama bagi mereka yang rumahnya berdekatan dengan area sawah atau kolam.

"Anak dipatuk ular lagi posisi tidur harus mendapat perhatian khusus. Biasakan tidur di atas jangan di lantai. Pakai juga keselamatan lain kaya kelambu kalau ada. Kemudian juga yang rumahnya di areal sawah atau ada kolam hati-hati," ujarnya.

(ral/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads