Filosofi 'Buaya' di Sunda dan Kaitannya dengan Preman Dadang

Filosofi 'Buaya' di Sunda dan Kaitannya dengan Preman Dadang

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Selasa, 07 Apr 2026 06:29 WIB
Dadang Buaya, preman kahot dari Garut berbuat onar lagi. Dia membacok dua orang warga tak berdosa hingga mengalami luka parah.
Dadang Buaya (pakaian oranye) Foto: Hakim Ghani/detikJabar
Bandung -

Residivis dari Garut Selatan berjuluk Dadang 'Buaya' kembali berulah. Baru-baru ini, ia menganiaya seorang pria yang berupaya menagih utang kepadanya. Cara yang ia gunakan dalam aksi penganiayaan tersebut tergolong nekat dan tak terduga.

Jika Keanu Reeves dalam John Wick: Chapter 2 (2017) menggunakan pena sebagai senjata, atau Denzel Washington menggunakan pensil dalam The Equalizer (2014), Dadang 'Buaya' justru menggunakan remote televisi. Dalam kejadian ini, bibir bawah korban berinisial AR (62) dihantam menggunakan alat elektronik tersebut.

Saat keluarga AR mendatangi rumah Dadang 'Buaya' untuk mempertanyakan kejadian yang menimpa orang tua mereka, Dadang justru kembali melakukan penganiayaan. Kejadian ini menjadi catatan hitam keempat bagi Dadang untuk kembali berurusan dengan penegak hukum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain aksi-aksi kriminal yang dinilai 'fenomenal', seperti penyerangan ke Markas Koramil dan Polsek Pameungpeuk beberapa waktu lalu, hal lain yang menarik untuk disimak adalah julukan 'Buaya' yang disematkan di belakang namanya.

ADVERTISEMENT

Dalam budaya Sunda, 'buaya' pernah menjadi julukan resmi untuk orang yang profesinya 'memangsa' pajak. Apakah status preman yang juga sering 'memangsa' dapat dikaitkan dengan makna buaya di Sunda masa silam? Simak ulasannya.

Muasal Julukan 'Buaya' untuk Dadang

Artikel detikJabar berjudul 'Jejak Kriminal Dadang 'Buaya', Preman Fenomenal asal Garut' mengungkapkan bagaimana julukan tersebut pertama kali melekat pada sosok Dadang.

Mengenai julukan 'buaya', Dadang mengaku sebutan tersebut telah menempel sejak lama. Nama itu diberikan oleh teman-temannya terdahulu karena Dadang dianggap sangat mahir berenang.

"Awalnya ya karena dianggap jago menyelam. Jadi, saya bisa menyelam menangkap ikan di laut. Julukannya itu dari teman saya. Sudah dari dulu," kata Dadang.

Selain mendapat julukan akibat kemampuannya berenang-bahkan diklaim mampu menempuh puluhan depa dalam sekali tarikan napas-Dadang ditakuti oleh masyarakat di kawasan pantai selatan Garut karena dianggap kebal senjata.

Dadang dikenal sakti karena konon kebal terhadap senjata api maupun senjata tajam. Hal tersebut diakui oleh dirinya sendiri. Dadang menjelaskan bahwa kemampuan tersebut didapat dari sang ayah yang bernama Ikar.

"Ya tinggal dibilas bisa rapat lagi lukanya," katanya.

Dadang mengaku, setelah terlibat keributan, ia akan mendatangi ayahnya untuk dimandikan. Menurut pengakuannya, segala macam luka di tubuhnya akan hilang dengan sendirinya keesokan hari setelah prosesi tersebut. Namun, hal ini tidak bisa lagi dilakukan oleh Dadang setelah sang ayah meninggal dunia.

"Jadi dimandikan sama bapak, dikasih air terus sembuh. Kalau sendiri tidak bisa. Makanya setelah meninggal tidak bisa lagi," katanya.

Makna Buaya di Masa Silam Sunda

Pernah ada suatu masa di tanah Sunda ketika kata 'buaya' disematkan bagi mereka yang bertugas memungut harta atau pajak dari rakyat. Kala itu, petugas pajak kerap dijuluki sebagai 'buaya'.

Kata 'buaya' dalam diksi aslinya, 'buhaya', ditemukan pada masa-masa akhir Kerajaan Pajajaran, sekitar abad ke-15. Wilayah-wilayah yang dikecualikan dari pemungutan pajak saat itu adalah wilayah keagamaan yang dihuni para Wiku atau Kawikuan.

Dina Amalia dalam artikel berjudul 'Gairah Sejarah dan Bahasa' mengutip pembacaan filolog Ayatrohaedi dalam buku 'Bahasa Sunda di Daerah Cirebon' atas naskah yang tertulis dalam sebuah prasasti.

"Kata buhaya pertama kalinya ditemukan pada prasasti Kebantenan 2 (abad ke-15)," kutip Dina.

Kata 'buhaya' yang dalam bahasa Indonesia ditulis 'buaya' pada saat itu disandang oleh para pemungut pajak. Pada derivasi lainnya, kata 'dibuhaya' mungkin berarti 'dipungut pajak'.

"Dan menunjuk kepada pejabat yang tugasnya memungut pajak di Pelabuhan," kutip Dina.

Lantas muncul pertanyaan, apakah penyematan kata 'buaya' pada pemungut pajak dikarenakan adanya persamaan sifat antara kedua entitas tersebut yang sama-sama 'memangsa'?

"Mengingat bahwa di dalam naskah-naskah yang lebih muda tidak pernah lagi dikenal istilah buhaya yang menunjuk kepada jabatan itu, maka besar kemungkinannya bahwa buhaya prasasti Kebantenan 2 itu merupakan istilah yang lahir berdasarkan penyifatan seperti itu," kutip Dina.

Karena prasasti merupakan produk 'negara', maka kata 'buhaya' kemungkinan besar adalah istilah resmi yang diberikan otoritas saat itu untuk menyebut para pengutip pajak.

Namun, arti 'buhaya' dalam bahasa Sunda saat ini seolah semakin meneguhkan status kepremanan Dadang 'Buaya' yang disebut-sebut lebih nekat dibandingkan figur kriminal lainnya. Kamus Sundadigi merekam beberapa arti mengenai kata ini, dan detikJabar mengutip tiga makna yang relevan dengan citra kekerasan.

Pertama, 'ngabuhaya' yang berarti berperangai jahat seperti buaya. Kedua, 'buhaya' yang bermakna penjahat besar. Ketiga, 'buhayana' atau pemimpin dalam suatu kelompok kriminal yang biasanya memiliki nafsu besar terhadap perempuan. Wallahu a'lamu.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads