Ketidakstabilan pada aspek finansial memaksa mereka mencoba hal baru. Walau penuh pertimbangan dan resiko, sebagian orang memilih untuk menerobos segala tantangan demi diri sendiri dan keluarga yang mereka sayang. Satu dari sekian banyak warga Jawa Barat yang berjibaku dengan kerasnya ekonomi, Tatan (41) pedagang kopi di lampu merah Buah Batu menghabiskan hari-harinya di jalan menunggu pembeli datang.
Tatan menceritakan mengenai perjalanannya mulai dari bekerja sebagai petani di kampung hingga keputusan sulit yang membawanya menjadi seorang pedagang kopi yang hadir di setiap pergantian lampu lalu lintas di Buah Batu.
"Saya awalnya bekerja di kampung, sebagai petani. Kurang lebih cukup aja membiayai keluarga. Jadi petani cukup lama, sampai dua anak yang dewasa ini kerja. Di sini (berdagang kopi di lampu lalu lintas Buah Batu) ketemu juga orang yang senasib, jadi gak merasa sendiri. Lalu dulu itu penghasil tidak seperti sekarang, tapi karena ekonomi lagi anjlok waktu itu harus segera mikir lagi apakah dilanjutkan atau tidak (menjadi petani)," ujar Tatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan bahwa menjadi petani cukup untuk membiayai seluruh keluarganya yang terdiri dari Tiga anak dan istrinya. Waktu terus berjalan, anak-anaknya mula tumbuh dewasa dan biaya juga ikut membengkak. Ditambah lagi, ekonomi negara yang berada di fase krisis mengharuskan ia berpikir keras dan mempertimbangkan apakah perlu bertahan menjadi petani atau memilih hijrah ke Kota Bandung.
"Saya sudah dari tahun 2008 berjualan di sini. Dulu karena ekonomi yang memburuk, makanya ganti profesi aja kata saya. Saya aslinya Tasikmalaya, penjualan beras biasanya naik-turun tiap tahun. Saya pilih tidak lanjut, saya ke kota buat nyari kerja. Ya alasannya karena ingin tahu kerja di kota di Bandung seperti apa," ungkap Tatan kepada detikJabar.
Rasa keingintahuannya terhadap kondisi Kota Bandung membuatnya melepas pekerjaan sebagai petani di daerah Tasikmalaya. Walaupun penghasilan yang ia dapatkan dari berdagang tidak sebanyak ketika ia menjadi petani, hasil dagangannya cukup untuk membiayai dirinya sendiri. Penjualan beras pada waktu itu cenderung fluktuatif sehingga pendapatan dari sana juga tidak menentu setiap tahun.
"Kalau sekarang anak-anak sudah pada besar, kecuali yang satu masih sekolah di Tasikmalaya. Ketiganya bersekolah di kampung. Anak pertama dan kedua sudah kerja, satunya kerja di konveksi di Bandung, satunya lagi kerja di Bogor. Dua-duanya sudah mandiri, bisa membiayai diri sendiri, kecuali yang kecil ini masih sekolah," ungkap Tatan sambil menyeduh kopi buat pembeli.
Kedua anaknya yang telah bekerja dapat dikatakan cukup mandiri karena penghasilan yang mereka dapatkan dari bekerja. Namun, anaknya yang terakhir masih di bangku sekolah, sehingga Tatan harus bekerja ekstra untuk biaya sekolahnya. Tatan telah berjualan selama 19 tahun di jalan, dulunya ia berjualan di daerah Margahayu, lalu pindah ke lampu lintas hingga saat ini.
"Waktu kemarin Lebaran mudik, semuanya balik ke Tasikmalaya termasuk anak-anak balik ke kampung. Baru jualan lagi tiga hari yang lalu. Baru sampai ke Bandung Minggu kemarin, sebelumnya memang dari awal puasa sampai Lebaran di kampung," ujar Tatan.
Bulan puasa kemarin ia habiskan waktu berkumpul bersama keluarga. Hal tersebut ia lakukan karena tidak setiap bulan berkunjung ke kampung halaman. Tatan balik ke Tasikmalaya ketika momen-momen tertentu saja. Ia bersyukur bisa dapat bercengkerama bersama keluarganya di hari raya Idul fitri. Ia berharap di kemudian hari ia dapat pekerjaan yang lebih baik dan rezeki lebih yang datang padanya.
"Ya semoga ke depan ada rezeki. Bisa dapat kerja yang stabil. Umur juga sudah tidak muda, ya menunggu ada rezeki yang datang aja. Kadang pemerintah ada bantuan, tapi semoga ada lagi." Tutup Tatan.
(dir/dir)
