Tjibadak 1921, dari Sumber Kehidupan ke Sunyi yang Tersisa

Tjibadak 1921, dari Sumber Kehidupan ke Sunyi yang Tersisa

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Minggu, 05 Apr 2026 07:30 WIB
Gedong Cai Tjibadak 1921
Gedong Cai Tjibadak 1921 (Foto: Gheyna Sabila Z/detikJabar)
Bandung -

Suara gemuruh itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatan Mira. Empat puluh dua tahun telah berlalu, namun gema air yang pernah memancar deras dari perut bumi Tjibadak masih terasa hidup di telinganya.

Dulu, saat ia kecil dan kerap bermain di pematang sawah kawasan Ledeng, bunyi air itu bahkan bisa terdengar hingga ke jalan besar, deras, penuh tenaga, seolah tak ada habisnya.

"Namanya Gedong Cai bukan karena bangunannya megah, tapi karena airnya yang luar biasa besar," kenang Mira, warga yang sejak lahir hingga kini tak pernah meninggalkan tempat itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi masyarakat sekitar, Gedong Cai Tjibadak 1921 bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Ia adalah pusat kehidupan. Di masa ketika jamban pribadi masih menjadi kemewahan dan air belum diperjualbelikan lewat meteran, tempat ini menjadi ruang bersama yang tak tergantikan. Air mengalir tanpa henti, bahkan saat kemarau panjang melanda.

ADVERTISEMENT

Di sanalah satu kampung berkumpul. Tawa, canda, dan percakapan sehari-hari berpadu dengan gemericik air yang tak pernah surut. Tradisi ngabungbang atau mandi tengah malam di enam mata air menjadi bagian dari keseharian warga, dipercaya membawa kesehatan dan keberkahan.

"Jam 12 malam itu harus mandi di berapa pancuran gitu, supaya sehat," kata Mira, mengulang kenangan yang kini terasa begitu jauh.

Namun di balik kelimpahan itu, tersimpan kisah duka yang nyaris terkubur waktu. Jauh sebelum masa kecil Mira, ketika bangunan ini masih dijaga ketat pada masa transisi kemerdekaan, sebuah tragedi memilukan pernah terjadi.

Sebuah rumah para penjaga mata air berdiri di bawah area tersebut. Pada suatu malam, hujan deras mengguyur tanpa henti hingga tanah di atasnya runtuh. Tebing longsor menimbun rumah itu, beserta seluruh penghuninya.

"Nggak ada yang ketolong, satu keluarga ketimbun semuanya," tutur Mira lirih.

Gedong Cai Tjibadak 1921Gedong Cai Tjibadak 1921 Foto: Gheyna Sabila Z/detikJabar

Sejak saat itu, Tjibadak bukan hanya tentang air, tetapi juga tentang pengorbanan yang terpatri dalam diam.

Waktu terus berjalan, dan perlahan, cerita tentang kelimpahan itu mulai memudar. Memasuki tahun 1999, Mira menyaksikan sendiri perubahan besar. Mata air yang dulu melimpah kini menyusut. Pembangunan perumahan di wilayah atas dituding menjadi salah satu penyebabnya, menggerus sumber air yang selama puluhan tahun menjadi nadi kehidupan warga.

"Dulu air yang keluar itu gede banget, segini," ujarnya, sembari membentuk lingkaran sebesar paha orang dewasa dengan kedua tangannya.

"Sekarang, kalau ada tiga orang mandi bareng saja, airnya langsung habis. Harus nunggu lama lagi supaya terisi," katanya menambahkan.

Ironi pun tak terelakkan. Di saat debit air kian menipis bagi warga sekitar, pipa-pipa besar tetap mengalirkan air menuju kawasan elit seperti Ciumbuleuit. Mereka yang tinggal dan tumbuh di tanah itu justru harus bangun lebih dini, berebut sisa aliran sebelum azan Subuh berkumandang.

Perubahan juga tampak pada wajah fisik Tjibadak. Batu-batu alami yang dulu menjadi ciri khas kini tertutup keramik dan semen. Nuansa alam perlahan tergantikan oleh sentuhan modern yang terasa asing bagi sebagian warga lama.

Di tengah perubahan itu, sisi mistis justru menjadi benteng terakhir yang menjaga kehormatan tempat ini. Bagi orang luar yang datang tanpa permisi, Tjibadak kerap menunjukkan "sifatnya". Mira bercerita tentang mahasiswa yang mengalami gangguan saat menerbangkan drone, hingga suara tangisan misterius yang terdengar di malam hari.

"Selama kita permisi, tidak akan ada yang mengganggu," katanya.

Di bawah naungan pohon-pohon tua yang dibiarkan tumbuh dan tumbang secara alami, Tjibadak tetap berdiri. Ia bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan ruang hidup yang menyimpan kenangan, duka, dan harapan. Di sanalah, warga dan mungkin, para penunggu lama, bersama-sama menjaga sisa-sisa sumber kehidupan yang kian langka di Kota Bandung.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads