Bagi banyak orang tua, momen mengambil gadget atau mematikan YouTube sering menjadi situasi paling menegangkan. Anak yang sebelumnya tenang bisa tiba-tiba berubah agresif, berteriak, hingga menangis histeris. Fenomena ini dikenal sebagai tech tantrum.
Reaksi ekstrem tersebut bukan tanpa sebab. Di baliknya, terjadi proses kimiawi di otak anak. Otak manusia memiliki neurotransmitter bernama dopamin yang berperan dalam mengatur rasa senang dan motivasi. Saat anak mengakses media sosial atau menonton video pendek, otak mereka menerima lonjakan dopamin secara instan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube, dokter anak dari Harvard's Boston Children's Hospital, Dr Rupa Wong, bersama psikolog klinis Dr Gabie Izralson, menjelaskan bahwa konten digital memberikan rangsangan yang sangat kuat bagi otak anak.
"Apa yang dilakukan layar adalah memberikan semua input, ini seperti kepuasan instan dan terus berubah sehingga otak terserap ke dalamnya dan itu menghabiskan semua cadangan dopamin," jelas Dr Gabie.
Masalah muncul ketika layar dimatikan. Kadar dopamin yang sebelumnya tinggi mendadak turun drastis. Kondisi ini memicu dopamine crash yang membuat anak merasa sangat tidak nyaman secara emosional.
Fenomena ini bahkan kerap disamakan dengan gejala putus zat atau 'sakau'. Berdasarkan laporan American Behavioral Clinics, rangsangan cepat dari konten digital dapat menurunkan kemampuan anak untuk fokus pada aktivitas di dunia nyata yang cenderung lebih lambat.
"Stimulasi berlebihan dari konten yang bertempo cepat dapat menyebabkan peningkatan agresi, tantrum, atau ledakan emosi terutama ketika waktu layar tiba-tiba dibatasi. Beberapa anak mengalami 'tech tantrums' yang menyerupai gejala putus zat (sakau)," tulis American Behavioral Clinics.
Di sisi lain, kebiasaan orang tua memberikan gadget untuk menenangkan anak justru memperburuk kondisi. Pakar psikologi perkembangan anak, Caroline Fitzpatrick, menyebut cara tersebut dapat meningkatkan frekuensi tantrum di kemudian hari.
"Ini adalah siklus yang merusak, di mana menggunakan layar untuk menenangkan tantrum sebenarnya meningkatkan seberapa sering seorang anak mengalami tantrum di masa depan... hal itu mengalihkan fokus anak-anak dari emosi mereka ke layar. Ini adalah perbaikan cepat, tetapi menghentikan anak-anak untuk belajar mengatur diri mereka sendiri," papar Fitzpatrick.
Secara biologis, otak anak memang belum berkembang sempurna, khususnya pada bagian Prefrontal Cortex yang berfungsi mengatur logika dan kontrol diri. Saat dopamine crash terjadi, bagian otak emosional mengambil alih. Anak tidak mampu berpikir logis, seperti memahami bahwa mereka bisa kembali bermain di lain waktu. Yang dirasakan hanyalah kehilangan sumber kesenangan secara tiba-tiba.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.
(kna/sud)










































