Bagi generasi 1990-an di Bandung, nama gedung Wisata Graha tentu sudah tidak asing lagi. Di lantai tiga gedung tersebut, terdapat sebuah bioskop andalan masyarakat pada masanya yang bernama Bioskop Regent.
Selain menjadi tempat pemutaran film, gedung ini menjadi saksi beragam aktivitas sosial, mulai dari pertemuan keluarga hingga kebiasaan menyantap pizza yang populer pada masanya, sebelum akhirnya berhenti beroperasi. Kini, kondisi bangunan tampak usang dengan sisa-sisa mural di dindingnya.
Bagi warga Bandung, sebutan Bioskop Regent jauh lebih melekat di ingatan dibanding nama asli gedungnya, Wisata Graha. Terletak strategis di Jalan Sumatera, gedung ini berdiri kokoh tepat berseberangan dengan Rumah Sakit Umum Bungsu yang berlokasi di Jalan Veteran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Resmi dibuka pada tahun 1989, gedung ini sempat menjadi pusat gravitasi hiburan bagi kawula muda di jantung Kota Kembang. Tulisan Regent yang masih samar terlihat di bagian samping bangunan menjadi penanda bahwa tempat ini pernah menjadi destinasi utama.
Dedi (54), seorang warga Bandung yang mengalami langsung masa keemasan bioskop tersebut, mengenang betapa megahnya Regent di mata masyarakat kala itu. Baginya, Regent adalah simbol kemewahan yang tetap merakyat.
"Bioskop pertama waktu ngedate dengan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Nonton, terus setelah beres makan pizza," kenang Dedi saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (2/4/2024).
Bagi generasi yang tumbuh di era tersebut, Bioskop Regent dianggap sebagai tempat hiburan yang terjangkau. Istilah Nomat atau Nonton Hemat menjadi daya tarik bagi pelajar dan mahasiswa. Dedi menceritakan harga tiket yang cukup bersahabat kala itu. Cukup dengan biaya Rp7.500 pada Senin hingga Kamis, dan Rp15.000 untuk akhir pekan, penonton sudah bisa menikmati film-film box office.
Salah satu layanan yang diingat pelanggan adalah fasilitas kulinernya. Dedi mengungkapkan bahwa Regent dikenal sebagai salah satu bioskop yang memungkinkan penonton memesan makanan dari kantin (food court) untuk kemudian diantar langsung ke dalam teater.
"Seingat saya, sepertinya Regent salah satu bioskop di Bandung yang bisa pesan makanan dari food court dan diantar ke dalam teater, ungkap Dedi.
Pada masa bioskop lain mulai beralih ke sistem komputerisasi, Regent tetap mempertahankan penggunaan tiket kertas dan nomor tempat duduk dengan stiker manual. Sistem ini memberikan pengalaman tersendiri bagi para penikmatnya.
"Dulu, di saat bioskop lain sudah memakai tiket yang dipesan dari komputer, saya masih sempat menonton di sini dengan model tiket kertas biasa dan nomor tempat duduknya masih memakai stiker," katanya.
Wisata Graha juga menjadi bagian dari perkembangan gaya hidup. Di sana pernah berdiri Pink Cadillac Cafe, tempat yang sering dijadikan titik temu sebelum pemutaran film dimulai. "Dulu ada juga kafe namanya Pink Cadillac kalau tidak salah, tempat janjian kalau mau nonton," tambah Dedi.
Kehadiran penyewa besar seperti Pizza Hut dan Dairy Queen turut melengkapi keramaian gedung ini.
Memori tentang Regent juga berkaitan dengan film-film populer yang ditayangkan. Salah satunya adalah film The House of the Spirits yang dibintangi Winona Ryder. Pengalaman visual pada zamannya membuat Regent kerap dipadati penonton saat film-film Hollywood dirilis.
"Sangat legend bagi saya itu bioskop. Saya mulai sering menonton di situ saat film The House of the Spirits yang ada Winona Ryder tayang, sekitar tahun 94," kenang Dedi.
Seiring dinamika yang terjadi, fungsi ruang di dalam gedung sempat berubah. Lantai tengah yang dulunya dihuni gerai makanan sempat beralih fungsi menjadi pusat permainan daring atau warung internet (warnet) sebagai upaya beradaptasi dengan perubahan minat masyarakat terhadap dunia digital.
Namun, seiring bermunculannya bioskop-bioskop baru dengan fasilitas modern, eksistensi Regent mulai menghadapi tantangan besar. Kehadiran bioskop modern dengan kualitas audio-visual dan kenyamanan gedung yang lebih baik membuat masyarakat mulai memiliki banyak pilihan.
"Dulu tutupnya itu sepertinya karena sudah banyak bioskop yang lebih bagus di mal-mal seperti sekarang. Jadi orang lebih memilih nonton di bioskop baru itu," ungkap Dedi.
Selain faktor kompetisi bisnis, perubahan pola konsumsi media juga berpengaruh. Maraknya peredaran DVD serta perkembangan teknologi internet yang memudahkan akses film secara mandiri turut memengaruhi tingkat kunjungan ke Regent.
"Terus dulu sempat ramai DVD bajakan. Jadi orang-orang berpikir beli DVD saja kalau mau nonton. Murah dan bisa nonton di rumah," tambah Dedi.
Operasional Bioskop Regent akhirnya resmi dihentikan pada tahun 2011. Sejak saat itu, gedung Wisata Graha tidak dialihfungsikan secara total namun dibiarkan tanpa aktivitas komersial yang masif. Gedung ini kini berdiri di tengah modernisasi Bandung yang kian pesat.
Berdasarkan pantauan terkini detikJabar, kondisi fisik bangunan tampak kusam. Beberapa kaca jendela mulai pecah. Dinding-dindingnya kini dipenuhi coretan mural dan noda. Meski tidak lagi beroperasi, gedung ini tetap menyimpan nilai sejarah bagi mereka yang pernah menghabiskan waktu di sana.
(sud/sud)
