Tragedi putusnya jembatan gantung di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, menyisakan trauma mendalam bagi para korban.
Salah seorang warga, Tutang Suryadi, menceritakan kengerian saat dirinya terjatuh dan sempat terjepit kendaraan di tengah aliran sungai yang sedang pasang.
Saat kejadian, Tutang tengah menuju lokasi pemilihan kepala desa (Pilkades) PAW Desa Sumberjaya. Ia merupakan salah satu pemilik hak suara yang harus menyeberangi jembatan tersebut untuk sampai ke lokasi pemilihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin itu Desa Sumberjaya melaksanakan pemilihan lurah Desa Sumberjaya Pergantian Antar Waktu (PAW). Dan kebetulan saya menjadi salah satu hak pilih dari pemilihan kepala desa PAW itu," ujar Tutang saat ditemui, Jumat (3/4/2026).
Tutang mengaku sudah merasakan firasat tidak enak saat mulai melintasi jembatan. Menurutnya, kondisi jembatan terasa sangat tidak stabil ketika dilalui banyak kendaraan secara bersamaan.
"Di perjalanan saya berangkat sebanyak 18 orang. Terus tragedi jembatan putus itu, saya tidak tahu bahwa dari belakang itu ada banyak motor yang mengikuti. Di depan saya itu Mang Dirman. Kerasa sama saya jembatan itu waktu dilewati, oleng," tuturnya.
Merasa tidak nyaman, Tutang sempat menghentikan laju motornya di tengah jembatan untuk memastikan kendaraan di depannya sudah melintas dengan aman. Namun, saat ia kembali memacu motor, petaka itu datang.
"Saya berhenti dulu karena saya merasa nggak nyaman di tengah-tengah jembatan. Saya lihat dulu motor yang di depan biar lewat dulu. Sudah aman, saya gas. Pas waktu saya ngegas, di depan saya itu kedengar ada suara yang ngejepret gitu. Tau-tau saya jatuh, kemudian jembatan putus," kenang Tutang.
Saat jembatan ambruk, Tutang melihat rekan-rekannya yang lain ikut terjun ke sungai. Bahkan, salah satu motor milik warga hanyut terbawa arus. Tutang sendiri tidak bisa berkutik karena tertimpa motornya sendiri di dasar sungai.
"Saya melihat ke belakang ternyata teman-teman saya juga ada yang jatuh di belakang sebanyak lima motor. Dan satu motor yang punya Mang Dera itu hanyut ke sungai. Saya luka di lutut karena posisi motor ketimpa, tertimpa motor itu saja. Saya sampai tidak bergerak, tidak bisa bangun karena tubuh saya terhimpit oleh motor," ungkapnya.
Dalam kondisi terjepit, Tutang menyaksikan momen dramatis saat anak dari rekannya berjuang di tengah air. Ia spontan berteriak meminta pertolongan warga yang berada di pinggiran sungai agar segera mengevakuasi balita tersebut.
"Waktu saya minta tolong ke bapak-bapak yang ada di pinggiran sana, saya lihat anak Mang Dera itu nangis, teriak-teriak. Saya bilang tolong itu anak satu, maksudnya biar cepat ditolong. Pas saya lihat di bawah ternyata istri saya juga ada jatuh ke bawah gitu saja," jelas Tutang.
Meski sempat mencekam, Tutang bersyukur seluruh korban termasuk keluarganya berhasil diselamatkan. Ia pun mendesak pemerintah untuk segera membangun kembali jembatan tersebut karena merupakan akses tunggal bagi warga.
"Harapan saya minta kepada pemerintah untuk segera menangani masalah Jembatan Cibugel karena itu adalah kebutuhan yang paling utama. Nggak ada alternatif, kecuali kalau lewat perkebunan itu yang jalannya rusak, rutenya juga jauh. Pokoknya ini adalah jembatan satu-satunya akses bagi warga Cilampahan untuk menuju ke desa," tegas Tutang.
Sementara itu, Camat Tegalbuleud Encep Iskandar menjelaskan jembatan tersebut merupakan infrastruktur vital yang dibangun oleh TNI. Ia mengonfirmasi bahwa mayoritas korban merupakan warga yang hendak menggunakan hak pilihnya.
"Jembatan tersebut merupakan jembatan penghubung dari Desa Sumberjaya ke wilayah Cibugel, di mana jembatan tersebut dibangun tahun 2022 oleh TNI pada waktu itu. Nah, kebetulan pada hari ini ada kegiatan pemilihan kepala desa antar waktu, jadi sebagian yang tadi mengalami kecelakaan tersebut mereka adalah para pemilih," kata Encep.
Encep memastikan para korban telah mendapatkan perawatan medis di puskesmas setempat. Pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memulihkan akses transportasi warga yang kini terputus total.
"Alhamdulillah dari empat korban itu mereka hanya menderita luka ringan dan semuanya sudah diobati atau diatasi dengan berobat ke Puskesmas Tegalbuleud. Ke depannya mungkin kami selalu berkoordinasi dengan BPBD dan juga dari pihak PU untuk melakukan perbaikan, sehingga kecelakaan tersebut tidak terulang kembali," tambahnya.
Selama proses perbaikan belum dilakukan, Encep menyebut warga terpaksa menggunakan moda transportasi sungai atau menempuh jalur darat yang lebih jauh untuk bisa keluar dari wilayah kedusunan.
"Mereka memakai perahu yang ada atau memakai sampan, tidak menggunakan jembatan tersebut. Atau melakukan jalan alternatif yang ke Cilampahan itu, cuma agak jauh dari sisi jarak gitu. Jadi untuk akses sebetulnya masih bisa dilalui cuma dari sisi waktu mungkin lebih lama," pungkas Encep.
(sya/sud)
