Putusnya jembatan gantung di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, mulai berdampak serius pada aktivitas pendidikan. Sejumlah pelajar kini terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan perahu demi bisa sampai ke sekolah.
Salah seorang pelajar Erin Febriani Putri mengaku was-was karena harus melintasi sungai yang arusnya sewaktu-waktu bisa meninggi. "Biasanya saya kalau ke sekolah tuh lewat jembatan sana. Tapi karena hari ini jembatannya runtuh, jadi saya terpaksa menaiki perahu bersama teman-teman," ujar Erin, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erin menyebut tidak ada pilihan lain bagi para siswa selain menggunakan jasa perahu atau sampan. Rasa takut pun menyelimuti para pelajar, terutama saat cuaca buruk melanda wilayah tersebut.
"Kalau naik perahu kan cuaca kita nggak tahu, kadang hujan, arusnya tinggi. Jadi ngerasa takut gimana gitu kalau naik perahu," ungkapnya.
Ia pun menaruh harapan besar kepada tokoh nasional agar jembatan tersebut segera diperbaiki secara permanen.
"Harapannya semoga cepat ada bantuan jembatan yang lebih besar. Khususnya untuk Bapak KDM dan Bapak Prabowo, saya mohon percepat pembangunan jembatannya karena emang susah, nggak ada lagi akses buat ke sekolah," tegas Erin.
Kekhawatiran senada juga diungkapkan Ibu Yunita (45), warga Lingkungsari. Sebagai orang tua, ia merasa tidak tenang melihat anak-anak harus bertaruh nyawa setiap pagi.
"Sebenarnya saya merasa was-was karena itu akses untuk anak sekolah, sangat dibutuhkan. Terpaksa anak sekolah naik perahu dan harus diantar sama orang tua," kata Yunita.
Yunita juga menyentil kualitas pembangunan jembatan yang terkesan rapuh meski belum terlalu lama diperbaiki.
"Harapan saya secepatnya dibangun kembali jembatannya yang lebih kuat, yang lebih kokoh. Jangan sampai yang kayak sekarang ya, jangan sampai yang baru 4 tahun sudah rusak," cetusnya.
Mengingat kondisi cuaca yang mulai memasuki musim penghujan, Yunita mendesak pemerintah pusat untuk segera turun tangan.
"Apalagi di musim sekarang cuaca nggak menentu, lagi musim penghujan sangat khawatir sekali untuk anak-anak yang menyeberang," pungkas Yunita.
(sya/sud)
