Pilu Pria Bandung di Sorong Papua: Tak Dapat Kerja, Hidup Telantar

Pilu Pria Bandung di Sorong Papua: Tak Dapat Kerja, Hidup Telantar

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 02 Apr 2026 14:19 WIB
Rahman Ramdani (41), warga Ciparay yang hidup telantar di Sorong, Papua
Rahman Ramdani (41), warga Ciparay yang hidup telantar di Sorong, Papua (Foto: Dok Pemkab Bogor)
Bandung -

Nasib pilu menimpa seorang warga Ciparay, Kabupaten Bandung, Rahman Ramdani (41). Niatnya mengadu nasib demi meraih pundi-pundi keuangan, namun malah jadi telantar selama satu bulan di Sorong, Papua Barat.

Pria tersebut semula dijanjikan bekerja di perkebunan kelapa sawit dengan gaji yang menggiurkan. Namun setelah sampai di lokasi, pria tersebut tidak lolos tes kesehatan dan tidak dikembalikan pulang sesuai dengan perjanjian.

Camat Ciparay Anjar Lugiyana membenarkan ada warganya yang saat ini terlantar di Papua Barat. Bahkan saat ini pihaknya telah melakukan penelusuran keberadaan keluarganya.

"Ya, perihal tadi warga kami yang sedang katakanlah telantar di Sorong ya. Informasi tadi setelah ditelusuri betul, warga kami dan keluarganya juga masih ada," ujar Anjar, kepada awak media, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anjar mengungkapkan kondisi keluarganya yang ada di Ciparay dalam keadaan sakit dan sulit berkomunikasi. Namun setelah berupaya dan akhirnya bisa berkomunikasi secara langsung dengan Rahman.

"Kebetulan beliau sedang di Sorong ingin pulang dan sekarang sedang dikomunikasikan dengan Dinas Sosial supaya bisa membantu kepulangannya," katanya.

ADVERTISEMENT

Dia menyebutkan saat ini pihak Kecamatan melalui TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) berkolaborasi dengan Puskesmas dan Desa. Hal tersebut dilakukan dalam mengupayakan kepulangan Rahman.

"Kami telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk bisa memulangkan dia (Rahman)," jelasnya.

Sementara itu, Rahman mendapatkan informasi lowongan pekerjaan tersebut di sosial media Facebook. Pekerjaan yang ditawarkan adalah sebagai pemeliharaan dan memanen di perkebunan kelapa sawit, Sorong, Papua Barat.

"Upah yang dijanjikan adalah Rp6 juta sampai Rp8 juta per bulan. Kami juga dijanjikan akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal, kasur untuk istirahat, serta sembako gratis selama satu bulan pertama," ujar Rahman, dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Selain itu, biaya transportasi dari rumah menuju ke Papua Barat ditanggung oleh pihak agen. Nantinya biaya tersebut akan dipotong dari gaji setiap bulannya. Setelah itu dirinya menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Pada Sabtu 7 Maret 2026, Rahman bersama 16 calon pekerja lainnya berangkat menuju ke Sorong. Setelah tiba di Sorong pada 14 Maret 2026, para calon pekerja tersebut langsung berangkat menuju lokasi perusahaan perkebunan sawit.

"Setelah tiba di lokasi kerja, kami diberikan makan selama tiga hari sambil menunggu proses pemeriksaan kesehatan (medical check-up). Pada tanggal 16 Maret 2026 kami langsung menjalani pemeriksaan kesehatan tersebut," kata Rahman.

Pemeriksaan dilakukan secara bersama-sama dengan calon pekerja lainnya. Setelah itu hasil tes kesehatan menunjukan Rahman dan empat orang lainnya tidak dinyatakan lolos tes kesehatan.

"Saya dinyatakan tidak lolos karena kondisi mata minus jarak jauh serta riwayat saraf kejepit yang pernah saya alami pada tahun 2017. Pihak perusahaan menyampaikan bahwa mereka tidak dapat menerima saya bekerja karena alasan kesehatan dan tidak ingin mengambil risiko," ucapnya.

Rahman menjelaskan, setelah itu Rahman dan empat calon pekerja lainnya dijanjikan akan dipulangkan pada 28 Maret 2026. Namun 31 Maret 2026, mereka masih terlantar dan tidak bisa dipulangkan.

"Sampai saat ini saya masih belum mendapatkan kepastian dari pihak perusahaan maupun agen mengenai pemulangan ke daerah asal," ungkapnya.

Pihaknya menambahkan saat ini telah meminta bantuan polisi setempat dan bisa ditampung di yayasan rumah singgah. Kemudian dirinya pun telah mencoba meminta bantuan melalui Dinsos Pemprov Jabar.

"Saya di sini belum jelas. Saat ini kondisi saya tidak memiliki uang sama sekali atau akses biaya untuk kembali ke kampung halaman di Bandung, Jawa Barat. Jadi harapannya bisa segera pulang," pungkasnya.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads