Temuan DLH Terkait Penumpukan Sampah di Pangalengan Bandung

Temuan DLH Terkait Penumpukan Sampah di Pangalengan Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 02 Apr 2026 14:49 WIB
Tumpukan sampah di kebun teh Pangalengan
Tumpukan sampah di kebun teh Pangalengan (Foto: Tangkapan layar/detikJabar).
Kabupaten Bandung -

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung angkat bicara mengenai tumpukan sampah yang berserakan di jalur menuju perkebunan teh, Kampung Bojongwaru, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan. Keberadaan sampah tersebut dilaporkan mengganggu aktivitas warga dan estetika kawasan wisata.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy, mengungkapkan bahwa tumpukan sampah tersebut berada di sebuah lahan pribadi. Awalnya, pemilik lahan menyewakan lokasi tersebut sebagai tempat penampungan sampah pasar.

"Terus pihak pasar bayar ke dia secara personal, pribadi," ujar Abdul saat dikonfirmasi, Kamis (2/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Abdul menyebutkan bahwa di lokasi tersebut tidak terdapat sistem pengolahan sampah yang mumpuni. Sampah-sampah itu hanya ditumpuk begitu saja tanpa melalui proses pengolahan yang memadai.

ADVERTISEMENT

"Nah, yang jadi persoalan kan ternyata kan tidak ada pengolahan di situ. Dia hanya pemilahan dan sisa sampahnya dibiarkan menumpuk begitu saja (open dumping). Mereka tidak memiliki mesin pengolahan," katanya.

DLH Kabupaten Bandung bersama pihak kecamatan telah rutin memantau lokasi tersebut sejak satu bulan lalu. Langkah ini diambil guna mencegah munculnya titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar baru di kawasan tersebut.

"Itu sudah kita cek langsung sama Pak Camat, sebulan lalu lah. Memang kita mau ada penanganan khusus ya, apalagi itu jalur menuju ke PTPN. Jadi penanganan harus dilakukan secara bersama-sama," jelasnya.

Sektor pariwisata di Kecamatan Pangalengan memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Abdul menyayangkan para pelaku usaha wisata yang dinilai masih kurang mandiri dalam mengelola sampah mereka.

"Jadi ternyata selama ini mereka dalam tanda kutip ya, tidak melibatkan DLH. Ternyata setelah ditelusuri, ternyata memang katanya ada tetap yang sama, tetap dibuang ke Bojongwaru tidak dikelola sama mereka teh," ucapnya.

Ia menilai para pengusaha hanya mementingkan kebersihan di area internal objek wisata mereka saja. Para pelaku wisata dianggap abai terhadap dampak lingkungan di lokasi pembuangan sampah akhir yang mereka gunakan.

"Kalau seperti itu tidak dikelola buat apa juga. Tapi ya biasa pengusaha mah kan pengennya aman. Tapi kan tidak berpikir sampai ke ujung gitu, ke hilir sampahnya kamanakan. Yang penting di kawasan mereka aja we yang bersih," tegasnya.

Saat ini, DLH tengah mendorong pemilik lahan dan pengelola sampah mandiri untuk meningkatkan standar operasional mereka. Jika ingin mengelola secara mandiri, mereka diharapkan mampu membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

"Iya kami tidak melarang kerja sama masyarakat, bahkan itu bagus. Namun, kami mendorong agar pemilik lahan mau berinvestasi pada mesin pengolah dan manajemen gedung yang jelas. Harus tuntas di tempat, tidak sekadar pindah tumpukan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads