Jabar Hari Ini: Tatapan Kosong-Ngelantur Remaja Garut di Gunung Guntur

Jabar Hari Ini: Tatapan Kosong-Ngelantur Remaja Garut di Gunung Guntur

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 22:00 WIB
Gunung Guntur Garut.
Gunung Guntur Garut. Foto: Hakim Ghani
Bandung -

Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Jawa Barat (Jabar) hari ini, Selasa (31/3/2026). Mulai dari kondisi remaja Garut yang ngelantur dikejar hantu usai dinyatakan hilang di Gunung Guntur, hingga Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan masalah di Bandung Zoo sudah rampung hingga 90 persen.

Berikut rangkuman Jabar Hari Ini:

Remaja Garut Ngelantur Dikejar Hantu Usai Hilang di Gunung Guntur

Seorang remaja berinisial MR, warga Garut, ditemukan dalam kondisi linglung tanpa mengenakan pakaian di permukiman warga di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Minggu (29/3) malam. Sebelumnya, MR dilaporkan hilang saat mencari serangga di kawasan kaki Gunung Guntur bersama dua saudaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Kapolsek Tarogong Kaler Iptu Ate Ahmad Hermawan, peristiwa bermula ketika MR bersama dua saudaranya berangkat menuju perbukitan Sanghiang, Kampung Cimuncang, Desa Rancabango.

ADVERTISEMENT

"Mereka berniat untuk mencari serangga jenis tongeret yang diperuntukan untuk bahan kosmetik. Berangkat dari rumah hari Minggu sekitar jam 10.00 WIB," kata Ate kepada wartawan, Senin (30/3/2026).

Setelah berjalan sekitar satu kilometer, rombongan tiba di sebuah kebun cabai milik warga sekitar pukul 12.00 WIB. Namun, di lokasi tersebut MR terpisah dari dua saudaranya.

"Pada pukul 13.00 WIB, saksi memutuskan untuk kembali ke permukiman karena korban tidak kunjung ditemukan dan segera melaporkan ke pihak keluarga dan warga setempat untuk melakukan pencarian," ujar Ate.

Karena belum ditemukan, keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tarogong Kaler sekitar pukul 20.30 WIB. Satu jam kemudian, tim gabungan dari TNI-Polri, BPBD, relawan, dan warga melakukan pencarian.

Sekitar pukul 22.15 WIB, petugas menerima informasi bahwa MR telah ditemukan. Namun, lokasi penemuan berada di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, yang berjarak cukup jauh dari titik awal hilangnya korban dan bahkan berada di kecamatan berbeda.

Ate menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, MR ditemukan dalam kondisi tidak mengenakan pakaian dan terlihat kebingungan.

"Ditemukan dengan kondisi bingung dan tidak memakai pakaian. Kemudian korban dibawa oleh kepala desa untuk diamankan ke kediamannya," ucap Ate.

Sebelum ditemukan, MR sempat terlihat oleh seorang pemilik lahan di sekitar perbukitan Sanghiang. Saat itu, MR tampak linglung, menatap kosong, dan berbicara sendiri.

"Saksi dua juga menyatakan jika sepanjang perjalanan yang bersangkutan ini melantur. Banyak membahas hal mistis seperti hantu, sehingga menyebabkan saksi dua ingin pulang," ucap Ate.

Meski keterangan saksi mengarah pada hal-hal mistis, pihak kepolisian menegaskan penyelidikan tetap dilakukan secara ilmiah untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

"Sejak malam tadi personel kami masih melakukan pendampingan. Anggota masih melakukan penyelidikan," pungkas Ate.

Sementara itu, pihak keluarga bersama aparat desa berencana membawa MR ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan.

"Benar, informasinya akan dibawa ke puskesmas dan akan diperiksa kondisi kesehatan serta kejiwaannya,"ucap Ate kepada wartawan, Selasa (31/3/2026).

Ate menambahkan, kondisi MR saat ini belum memungkinkan untuk dimintai keterangan secara jelas karena masih sering berbicara tidak nyambung.

"Saat kami melakukan penyelidikan dan memintai keterangan, memang yang bersangkutan tidak nyambung saat diajak berbicara. Kepada petugas yang bersangkutan bilang bisa hilang karena dikejar geng motor. Padahal, menurut keterangan saksi, kejadian itu tidak ada,"kata Ate.

Dedi Mulyadi Klaim Masalah Bandung Zoo Tuntas 90%

Harapan agar Kebun Binatang Bandung kembali dibuka untuk publik kian menguat. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan sebagian besar persoalan yang selama ini menghambat operasional sudah hampir sepenuhnya diselesaikan.

"Masalahnya sudah 90 persen selesai. Tinggal soal pengelolaan dan kepemilikan," ujar Dedi dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Pemerintah kini fokus menuntaskan aspek pengelolaan agar kebun binatang bisa kembali beroperasi secara aman dan profesional.

Di sisi lain, persoalan yang paling mendesak yakni nasib para pekerja sudah mulai menemukan solusi. Pemerintah memastikan mereka tidak lagi berada dalam ketidakpastian.

"Gaji mereka sudah ditanggung Pemkot Bandung, di bawah Wali Kota. Mulai gajian tanggal 25 April," jelasnya.

Tak hanya itu, tunggakan gaji yang sempat menjadi beban juga mulai dicicil oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Untuk gaji yang belum terbayarkan, nanti hari Jumat mulai dicicil oleh Pemprov Jabar," tambah Dedi.

Kondisi satwa yang sempat dikhawatirkan juga dipastikan aman meski sebelumnya dua ekor anak harimau di Bandung Zoo mati. Dedi menyebut pemerintah menjamin kebutuhan pakan dan nutrisi tetap terpenuhi

"Hewannya makanannya cukup? Cukup! Nutrisinya nanti juga dapat dukungan dari Bank Jabar Peduli," ungkapnya.

Bagi Dedi, keberadaan kebun binatang ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama tertutup. Selain menjadi ruang rekreasi, tempat ini juga memiliki fungsi edukasi yang penting, terutama bagi anak-anak.

"Semoga kebun binatang cepat dibuka untuk umum, supaya pengunjung bisa datang lagi dan jadi sarana edukasi," ujarnya.

Meski demikian, pembukaan kembali tidak akan dilakukan secara tergesa. Pemerintah tengah menyiapkan proses seleksi pengelola baru melalui mekanisme kompetisi terbuka, guna memastikan pengelolaan berjalan lebih baik ke depan.

"Pengelolanya sedang dalam proses kompetisi. Siapa yang berminat silakan, tapi harus punya sertifikasi. Mengelola kebun binatang itu tidak mudah," tegasnya.

Warga Ciamis Terpersok ke Sumur Tua

Suasana pagi yang tenang mendadak jadi kepanikan di Dusun Wetan Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). Seorang pria bernama Nana Juhana (47) jatuh ke sumur tua yang dalamnya 10 meter ketika bekerja menebang pohon bambu.

Beruntung Nana berhasil diselamatkan oleh Petugas Damkar dan BPBD Ciamis yang datang ke lokasi kejadian setelah mendapat laporan dari warga. Nana hanya mengalami luka ringan dan dibawa ke RSUD Ciamis untuk mendapat perawatan medis.

Kabid Damkar Dinas Satpol PP Ciamis Budi Rahmat membenarkan kejadian tersebut. Menurut keterangan di lokasi, peristiwa itu bermula ketika Nana bekerja bersama temannya menebang pohon bambu di kebun sekitar. Namun ketika menarik pohon bambu yang sudah ditebang, korban diduga terpeleset lalu jatuh ke sumur tua di sekitar yang tidak ditutup.

"Ketika korban menarik bambu yang sudah ditebang, terpeleset lalu jatuh ke dalam lubang yang ternyata sumur yang sudah tidak terpakai dengan kedalaman 10 meter," ujar Budi kepada detikJabar.

Budi menjelaskan, teman korban yang mengetahui kejadian itu kemudian meminta bantuan kepada warga sekitar. Salah seorang warga kemudian berinisiatif meminta bantuan Damkar Ciamis untuk melakukan evakuasi. Dalam proses evakuasi orang yang jatuh ke sumur tersebut, Damkar Ciamis berkolaborasi dengan BPBD Ciamis dan masyarakat setempat.

"Teman korban meminta bantuan warga sekitar, kemudian ada warga yang melapor ke pemadam kebakaran untuk meminta bantuan evakuasi. Kami langsung mendatangi lokasi, alhamdulilah korban selamat dan aman," ucapnya.

Menurut Budi, usai dievakuasi dari dalam sumur, korban kemudian dibawa ke RSUD Ciamis untuk mendapat pemeriksaan dan perawaran medis. Damkar Ciamis mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat berada di sekitar sumur, terutama untuk memastikan keamanan dan kebersihan area tersebut demi mencegah insiden serupa.

Sementara itu, Kepala Desa Cimari Riky Aryana membenarkan ada warganya yang jatuh ke dalam sumur saat sedang bekerja. Menurutnya saat ini korban telah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan medis. "Korban sudah di rumah sakit, aman," katanya.

Lansia Sebatang Kara Tewas di Kontrakan Sukabumi

Suara teriakan 'Allahu Akbar' sempat memecah keheningan Selasa (31/3/2026) siang di sebuah rumah kontrakan di wilayah Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi. Tak lama setelah itu, seorang pria lanjut usia ditemukan dalam kondisi terlungkup dan tak bernyawa.

Korban diketahui bernama Rully P Ahmadsyah (68), warga Jakarta Selatan yang selama bertahun-tahun ini tinggal seorang diri di kontrakan tersebut. Ketua RW 03 Kelurahan Jayaraksa, Yusuf Sopian mengatakan, warga sebelumnya sempat mendengar kondisi korban yang sedang sakit.

"Informasi dari tetangga, tadi malam korban mengeluh sakit dan sempat minta tolong dibelikan obat. Warga akhirnya membantu membelikan obat," kata Yusuf saat ditemui detikJabar di lokasi.

Menurut Yusuf, korban dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Bahkan, selama tinggal di sana, ia tidak pernah terbuka soal identitas keluarga.

"Dia hidup sebatang kara di sini. Tidak pernah cerita soal keluarga, anak, atau saudara. Bahkan saat diminta KTP oleh RT juga tidak diberikan," ujarnya.

Menjelang siang, sekitar pukul 12.00 WIB, warga kembali mendengar suara dari dalam kontrakan korban. Namun, karena hubungan yang tidak terlalu dekat, warga tidak berani masuk.

"Sekitar jam 12 siang ada suara seperti orang kesakitan. Lalu terdengar teriakan 'Allahu Akbar'. Tidak lama kemudian, warga coba buka pintu kamarnya dan melihat korban sudah dalam posisi terlungkup," ungkap Yusuf.

Warga yang curiga kemudian melapor ke pengurus lingkungan. Sekitar setengah jam setelah suara itu terdengar, warga bersama aparat wilayah mendatangi lokasi dan menemukan korban sudah tidak bergerak. Di dalam kamar pun, warga menemukan banyak jejak bungkus obat-obatan.

"Saya ke lokasi sekitar jam 1 siang, kondisinya sudah terlungkup. Warga juga tidak berani menyentuh karena tidak tahu sudah meninggal atau belum," katanya.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian, Koramil, dan petugas Puskesmas setempat. Dari hasil pemeriksaan awal, korban diduga sudah meninggal dunia karena tidak ditemukan detak jantung maupun napas.

Di sisi lain, guna memastikan penyebab kematian, jenazah Rully kemudian dibawa ke RSUD Syamsudin SH oleh pihak kepolisian untuk dilakukan autopsi.

"Dibawa oleh Polres untuk memastikan apakah meninggal karena sakit atau ada hal lain. Akan dilakukan visum," jelas Yusuf.

Ia menambahkan, berdasarkan keterangan warga, korban telah tinggal di lokasi tersebut lebih dari tiga tahun. Meski dikenal tertutup, sesekali korban disebut menerima kiriman uang dari anaknya. Saat ini, pihak keluarga korban yang berada di Bekasi telah dihubungi dan dikabarkan dalam perjalanan menuju Sukabumi.

Plt Kasi Humas Polres Sukabumi Kota Ipda Ade Ruli membenarkan peristiwa tersebut. Dia mengatakan, tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam tubuh korban.

"Hasil pemeriksaan sementara tidak ditemukan luka atau tanda kekerasan pada tubuh korban. Korban diduga sakit karena ditemukan banyak obat di ruang tamu," kata Ade.

Produsen Tahu di Bandung Kena Imbas Perang Timur Tengah

Asap tipis mengepul dari tungku-tungku besar di sentra tahu Cibuntu, Kota Bandung. Sejak pagi buta, para perajin sudah sibuk mengaduk sari kedelai, menuangkannya ke cetakan, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak putih yang siap jual.

Aktivitas tersebut sekilas tampak normal. Namun di balik rutinitas itu, ada beban yang kian menghimpit, yaitu harga bahan baku yang melonjak tajam. Para perajin kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa harga kedelai terus merangkak naik.

Muhamad Zamaludin, salah satu perajin tahu di kawasan tersebut, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa. Dampaknya pun instan, harga jual yang sebelumnya Rp60 ribu per papan kini terkerek menjadi Rp62 ribu.

"Sekarang tahu mulai hari ini ada kenaikan harga. Dari harga Rp60 ribu per papan sekarang Rp62 ribu, naik Rp2 ribu," ujar Zamaludin saat diwawancarai, Selasa (31/3/2026).

Kenaikan itu, kata dia, tak lagi bisa dihindari. Hampir semua komponen produksi mengalami lonjakan, terutama kedelai dan plastik pembungkus. Harga kedelai impor kini menembus angka yang jauh di atas batas normal, padahal produksi sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

"Untuk bahan baku sekarang Rp10.600 - Rp10.700 per kilogram dari Amerika, kalau dari Kanada Rp10.300. Naiknya tinggi dari sebelum puasa, normalnya Rp8 ribu, sekarang Rp10 ribu lebih," jelasnya.

Ia menyebut, lonjakan harga ini tak lepas dari dampak konflik global di Timur Tengah. Hal itu, kata dia, merembet hingga ke rantai pasok bahan baku di tingkat lokal.

"Ini karena dampak perang di Timur Tengah, ngaruh sekali karena seperti plastik, biji plastiknya dari luar. Kedelai juga impor dari Amerika, Kanada juga ada," tuturnya.

Di tengah tekanan biaya produksi, para perajin terpaksa memutar otak untuk bertahan. Sebagian memilih menaikkan harga jual, sementara lainnya terpaksa mengurangi ukuran produk agar tidak kehilangan pelanggan.

"Untuk sekarang ada yang naikan harga, ada yang dikurangi ukurannya. Untuk stok sendiri banyak, cuma harganya aja," katanya.

Ia bahkan memprediksi tekanan harga belum akan mereda. Jika harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik dalam waktu dekat, biaya produksi dipastikan kembali membengkak dan berimbas langsung pada harga jual tahu di pasar.

"Ini juga kemungkinan akan naik lagi kalau BBM naik, kemungkinan semua bahan naik juga. Kalau BBM naik bisa sampai Rp65 ribu per papan," ujarnya.

Dampak kenaikan harga dari dapur produksi ini langsung menjalar hingga ke lapak pedagang eceran. Yanto, seorang pedagang tahu, mengaku sudah menerima penyesuaian harga baru dari pihak perajin.

"Iya ada kenaikan, dari Rp60 ribu per papan, sekarang jadi Rp62 ribu," katanya.

Namun, kenaikan harga di tingkat produsen belum sepenuhnya direspons oleh pasar. Yanto masih menahan diri untuk tidak langsung menaikkan harga ke konsumen, meski rencana tersebut sudah sulit dihindari.

"Harusnya naik juga. Tapi belum karena baru sekarang kan naiknya (dari perajin)," ujarnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Yanto mengaku tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual, dari semula Rp12 ribu menjadi Rp13 ribu per bungkus.

"Paling naik dari Rp12 ribu satu bungkus, sekarang jadi Rp13 ribu," katanya.

(ral/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads