Fenomena 'hujan hitam' dilaporkan terjadi di Iran pada awal bulan ini. Peristiwa tersebut bukan merupakan fenomena alam biasa, melainkan dampak dari serangan terhadap fasilitas minyak yang memicu kebakaran besar dan menghasilkan asap beracun.
'Hujan hitam' terjadi ketika partikel berbahaya, seperti jelaga dan bahan kimia dari asap kebakaran, naik ke atmosfer lalu bercampur dengan awan. Melansir detikInet, partikel tersebut kemudian turun kembali ke permukaan bersama air hujan.
Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi dalam sejumlah peristiwa besar, seperti Perang Teluk 1991 dan setelah Pemboman Hiroshima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip The Guardian, dalam kasus di Iran, hujan hitam muncul setelah serangan yang memicu kebakaran di fasilitas bahan bakar. Para ahli menyebut hujan tersebut membawa berbagai zat kimia berbahaya.
Air hujan dalam kondisi ini berpotensi mengandung senyawa seperti benzena, toluena, serta bahan kimia lain yang berisiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Paparan zat-zat tersebut dapat mencemari sumber air, merusak tanaman, hingga meningkatkan risiko penyakit jika terjadi dalam jangka panjang.
Membersihkan Udara, Namun Berbahaya
Fenomena hujan hitam memiliki dampak ganda. Di satu sisi, hujan membantu membersihkan udara dari partikel asap. Namun di sisi lain, polusi tersebut justru berpindah ke tanah dan sumber air.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa partikel beracun yang terbawa hujan akan mengendap di permukaan, sehingga menciptakan ancaman baru bagi lingkungan dan manusia.
Peristiwa ini menjadi contoh nyata bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada lingkungan. Serangan terhadap infrastruktur energi, seperti kilang minyak dan depot bahan bakar, berpotensi memicu bencana ekologis dengan dampak jangka panjang.
Meski tidak separah hujan radioaktif seperti yang terjadi di Hiroshima, fenomena hujan hitam di Iran tetap berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang serius. Jika konflik terus berlanjut dan lebih banyak fasilitas energi terdampak, maka kejadian serupa dikhawatirkan akan kembali terjadi dan memperparah kondisi lingkungan.
Artikel ini sudah tayang di detikInet
(rns/dir)
