Konflik Iran tidak hanya berlangsung di dunia nyata, tetapi juga merambah ke ruang siber. Kelompok peretas asal Iran bernama Handala dilaporkan membobol email pribadi Direktur FBI, Kash Patel. Pihak FBI menyatakan data yang bocor merupakan arsip lama dan tidak berkaitan dengan pemerintahan Amerika Serikat.
Dilaporkan BBC, Minggu (29/3/2026), Handala Hack Team berhasil mengakses email pribadi Patel. Sejumlah isi email, foto, dan dokumen kemudian diambil dan disebarkan melalui situs khusus.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan Patel dalam berbagai aktivitas, seperti mengendus cerutu, merokok, mengemudikan mobil antik, hingga berpose dengan botol minuman. FBI membenarkan bahwa email Patel menjadi target peretasan, namun menegaskan data tersebut bukan informasi terbaru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data yang bocor bersifat historis dan tidak terkait informasi pemerintahan," kata juru bicara FBI, Ben Williamson.
FBI menyatakan telah mengambil langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi risiko dari insiden tersebut. Lembaga itu juga menawarkan hadiah sekitar USD 10 juta bagi pihak yang dapat membantu mengidentifikasi anggota kelompok Handala.
Sementara itu, peneliti dari Halcyon Ransomware Research Center, Cynthia Kaiser, menilai peretasan ini kemungkinan bukan kejadian baru.
"Emailnya tampak sudah tua dan membuat saya percaya kalau pembobolan ini sudah lama dari grup lain di lain waktu, tapi didaur ulang hari ini," kata Kaiser.
Handala dikenal sebagai kelompok peretas pro-Palestina yang berbasis di Iran. Sejumlah peneliti Barat menganalisis kelompok ini sebagai bagian dari unit intelijen siber pemerintah Iran. Sebelumnya, Handala mengklaim telah membobol data milik Stryker, perusahaan peralatan medis yang berbasis di Michigan, Amerika Serikat.
Dalam kasus email Patel, kelompok tersebut juga membocorkan sekitar 300 email bertanggal 2010 hingga 2019. Isi email mencakup urusan pribadi hingga pekerjaan.
Kantor berita Reuters menyebut tidak dapat mengotentikasi secara independen keaslian email tersebut. Namun, akun Gmail pribadi Patel yang diklaim diretas menunjukkan kecocokan dengan data yang ditemukan dalam laporan perusahaan intelijen dark web, District 4 Labs.
Aktivitas Handala dilaporkan meningkat seiring eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Selama periode tersebut, kelompok ini juga mengklaim membobol data pribadi pegawai Lockheed Martin yang berbasis di Timur Tengah.
Kepala perusahaan keamanan siber Israel Check Point, Gil Messing, menilai aksi peretasan ini sebagai upaya mempermalukan pejabat Amerika Serikat.
"Membuat mereka jadi rentan. Iran menyerang apapun yang mereka bisa," kata Messing.
Serangan siber terhadap pejabat tinggi negara bukan hal baru. Peretas asing sebelumnya pernah membobol email kepala tim kampanye Hillary Clinton, yaitu John Podesta, saat pemilihan presiden. Selain itu, mantan Direktur CIA, John Brennan, juga pernah menjadi korban peretasan akun pribadinya.
Artikel ini telah tayang di detikINET. Baca selengkapnya di sini.
(fay/sud)










































