Warga Bekasi Meninggal Saat Trail Run 'Lebarun' di Sentul

Kabupaten Bogor

Warga Bekasi Meninggal Saat Trail Run 'Lebarun' di Sentul

Andry Haryanto - detikJabar
Senin, 30 Mar 2026 10:43 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilustrasi. (Foto: Thinkstock)
Bogor -

Seorang peserta ajang lari lintas alam Lebarun, Rosi Adiputra Firdaus (34), meninggal dunia saat mengikuti perlombaan di kawasan Sentul City, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Sabtu (28/3/2026). Korban yang merupakan warga Kabupaten Bekasi tersebut diduga mengalami kelelahan saat melintasi jalur perlombaan.

Kapolsek Babakan Madang Kompol Trias Karso Yuliantoro menjelaskan, korban sempat terjatuh di KM 5, Kampung Gunung Pipisan, Desa Bojong Koneng. Peristiwa itu pertama kali diketahui oleh rekan korban yang kemudian berupaya memberikan pertolongan pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Korban tiba-tiba berhenti lalu terjatuh. Dari mulutnya keluar busa dan napasnya terdengar seperti mendengkur. Saat itu langsung ditangani oleh rekan dan panitia sebelum dievakuasi ke rumah sakit," ujar Trias saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, kondisi korban sudah melemah saat dalam perjalanan menuju Rumah Sakit EMC Sentul City. Tim medis sempat memberikan penanganan darurat, namun nyawa korban tidak tertolong.

ADVERTISEMENT

"Denyut nadinya terus menurun. Setelah mendapatkan penanganan medis, korban dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 10.30 WIB," kata dia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, Trias menyebut korban meninggal akibat kelelahan saat mengikuti lomba. Pihak keluarga pun telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki proses hukum lebih lanjut.

"Dari hasil pengecekan sementara, penyebabnya karena kelelahan. Keluarga juga sudah menerima ini sebagai takdir," ujarnya.

Ajang Lebarun merupakan lomba lari lintas alam (trail run) dengan jarak tempuh sekitar 28,7 kilometer. Perlombaan dimulai sejak pukul 03.00 WIB dengan rute Sentul Nirwana - Desa Karang Tengah - Desa Bojong Koneng, lalu kembali finis di Sentul Nirwana sekitar pukul 16.30 WIB.

Menanggapi kejadian ini, kepolisian mengingatkan pentingnya kesiapan fisik peserta sebelum mengikuti kegiatan olahraga ekstrem. Trias menekankan aspek kesehatan harus menjadi perhatian utama, baik bagi peserta maupun pihak penyelenggara.

"Kami selalu mengimbau kepada peserta dan panitia, kesiapan kesehatan itu harus benar-benar diperhatikan. Jangan dipaksakan jika kondisi tidak memungkinkan," tegasnya.

Sementara itu, pihak penyelenggara melalui akun resmi media sosial @sentulultra menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya salah satu peserta. Panitia menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan guna meningkatkan standar keselamatan di masa mendatang.

Kormi Bogor Harap Ada Evaluasi Total

Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) Kabupaten Bogor, Rike Iskandar atau yang akrab disapa Akew, menegaskan bahwa trail run bukan sekadar olahraga rekreasi, melainkan kategori ekstrem yang memiliki risiko tinggi.

"Trail run itu termasuk extreme sport, jadi risikonya memang lebih tinggi dibanding olahraga lain," kata Akew dalam keterangan tertulis yang diterima detikJabar, Senin (30/3/2026).

Ia menekankan bahwa setiap peserta wajib memiliki kesiapan menyeluruh sebelum terjun ke kegiatan tersebut. Kesiapan yang dimaksud tidak hanya soal fisik, tetapi juga mental serta pemahaman mendalam terhadap risiko yang mungkin dihadapi selama berlari di medan alam terbuka.

"Peserta harus benar-benar mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental. Semua faktor risiko harus dipahami sejak awal, jangan hanya ikut-ikutan," ujarnya.

Ketua Kormi Bogor Rike Iskandar.Ketua Kormi Bogor Rike Iskandar. (Foto: Istimewa)

Di sisi lain, Akew juga menyoroti tanggung jawab penyelenggara. Menurutnya, setiap kegiatan trail run, baik dalam bentuk latihan bersama maupun event resmi, wajib memperhitungkan aspek keselamatan dan prosedur kondisi darurat secara matang.

"Penyelenggara harus mempertimbangkan aspek kedaruratan. Ini bukan sekadar event olahraga biasa, tapi kegiatan berisiko tinggi," tegasnya.

Ia menambahkan, setiap kegiatan yang mengandung risiko tinggi wajib melalui proses perizinan yang ketat. Dalam proses tersebut, biasanya dilakukan analisis mendalam terkait dampak sosial serta potensi kondisi darurat yang mungkin terjadi selama kegiatan berlangsung.

"Perizinan itu penting, karena di situ ada analisa dampak, termasuk bagaimana penanganan jika terjadi situasi darurat," kata Akew.

Ke depan, Kormi mendorong adanya evaluasi menyeluruh dari berbagai pihak agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Ia menyebut perlunya keterlibatan organisasi terkait seperti Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) bersama kepolisian untuk menyusun pedoman atau regulasi yang jelas.

"Harus ada evaluasi dari semua pihak, termasuk ALTI dan kepolisian. Perlu dibuat juklak dan juknis untuk event trail run, supaya tidak asal membuat kegiatan," ujarnya.

Menurutnya, kejelasan standar operasional prosedur (SOP) menjadi kunci utama agar olahraga trail run tetap berkembang pesat di Jawa Barat tanpa mengabaikan aspek keselamatan nyawa peserta.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads