Monumen Cagar Budaya Cikadut Bukti Sejarah Masyarakat Tionghoa di Bandung

Monumen Cagar Budaya Cikadut Bukti Sejarah Masyarakat Tionghoa di Bandung

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 30 Mar 2026 09:00 WIB
TPU Cikadut Bandung
TPU Cikadut Bandung (Foto: Wisma Putra/detikJabar).
Bandung -

Suasana pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, Kota Bandung, tampak ramai. Warga hilir mudik memadati area pemakaman untuk berziarah atau sekadar nyekar ke pusara keluarga.

Setibanya di makam keluarga, mereka membersihkan daun kering dan memungut sampah plastik yang mengotori area tersebut. Doa dipanjatkan dengan khidmat, beberapa peziarah tampak terisak sembari menyeka air mata dengan tisu.

Mereka kemudian menaburkan bunga dari plastik transparan ke atas pusara. Tak lupa, air dalam botol disiramkan hingga membasahi nisan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya pasca Lebaran, setiap waktu-khususnya saat akhir pekan-banyak warga mendatangi TPU ini. Meski TPU Cikadut dikenal sebagai lokasi pemakaman warga komunitas Tionghoa, terdapat pula area pemakaman warga muslim di lokasi tersebut.

TPU Cikadut merupakan kompleks pemakaman terbesar dan bersejarah di kawasan perbukitan Cimenyan, Kabupaten Bandung, serta Mandalajati, Kota Bandung. TPU ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka, tepatnya sebelum tahun 1905.

ADVERTISEMENT

Bagi warga lokal, tempat ini sering disebut sebagai 'Kuburan Cina'. Lokasi ini menyimpan banyak cerita tentang jejak komunitas Tionghoa di Bandung sejak era Hindia Belanda.

Makam di sini memiliki gaya arsitektur yang khas dan megah, bahkan ukurannya menyerupai tempat tinggal atau vila kecil. Gaya bangunan tersebut selaras dengan kepercayaan bahwa makam adalah rumah masa depan. Selain itu, terdapat fasilitas krematorium yang telah beroperasi sejak 1961.

Di tengah lalu-lalang peziarah, berdiri sebuah tugu obelisk berwarna cokelat muda dengan ujung berbentuk piramida. Tugu yang dihiasi tulisan Mandarin ini berdiri di sekitar kompleks pemakaman sebagai pengingat bagi para leluhur.

Selain itu, terdapat Monumen Cagar Budaya Cikadut yang baru diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Kawasan ini telah terdaftar sebagai salah satu Situs Cagar Budaya Kota Bandung berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2018.

Monumen Cagar Budaya Cikadut

TPU Cikadut BandungTugu penghormatan leluhur yang ada di TPU Cikadut (Foto: Wisma Putra/detikJabar).

Tokoh Komunitas Tionghoa Bandung, Oting Hambali atau karib disapa Abah Oting, mengatakan bahwa tugu tersebut merupakan upaya melestarikan lingkungan cagar budaya. Tak hanya monumen, kawasan TPU Cikadut kini ditata dengan lebih rapi.

"Menghormati, kalau tidak ada mereka di sini, tidak akan ada kita juga. Tiap makam harus kita hormati," kata Abah Oting kepada detikJabar, Minggu (29/9/2024).

Abah Oting menyebut kawasan TPU Cikadut merupakan area cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, sehingga berpotensi menjadi ikon wisata.

"Ini ikon wisata, makam ini sudah ada yang lebih dari 100 tahun," ujarnya.

Banyak tokoh Tionghoa Bandung dimakamkan di sini, seperti Tan Joen Liong, Kapiten Tionghoa pertama di Bandung yang wafat pada 1917. Makamnya berada di Blok Kapiten dan menjadi salah satu situs sejarah tertua di TPU Cikadut.

"Ada juga tokoh terkaya di Bandung dulu, makam Yok Goksi, ada juga makam pemilik tekstil ternama di Jalan Sudirman namanya Yostex," tuturnya.

"Monumen ini sebagai pengingat, kalau ada yang datang ke sini ada tujuan untuk melihat monumen dan mengetahui sejarahnya," tambahnya.

Monumen Ceng Beng

TPU Cikadut BandungMonumen Ceng Beng yang ada di TPU Cikadut (Foto: Wisma Putra/detikJabar).

Monumen Cagar Budaya Cikadut juga dikenal sebagai Monumen Ceng Beng. Menurut kepercayaan warga Tionghoa, Ceng Beng adalah hari khusus untuk berziarah setahun sekali.

"Ini monumen cagar budaya, kebudayaan ini bukan milik salah satu golongan, agama dan suku Tionghoa. Jadi kebiasaan ada nyekar, kalau di Tionghoa adalah Ceng Beng menghormati leluhur. Jadi tanpa ada leluhur, kita-kita di sini tidak akan ada," kata salah satu perwakilan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa, Djoni.

Djoni juga memberikan apresiasi kepada warga sekitar, Pemerintah Kota Bandung, dan Pemkab Bandung yang bersinergi menjaga kawasan serta sejarah TPU Cikadut.

"Kita wajib lestarikan, jangan telantarkan makam yang ada, ini bisa jadi obyek wisata seperti di luar negeri, jadi kebanggaan dan tujuan wisata di Kota Bandung," tuturnya.

"Kami berharap, kawasan ini ditata dengan baik dan menghidupkan perekonomian masyarakat disekitar TPU Cikadut," tambahnya.

Meskipun TPU Cikadut sudah terdaftar sebagai Situs Cagar Budaya berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2018, Pemkot Bandung akan melakukan kajian lebih mendalam. Kajian ini bertujuan menentukan apakah seluruh kawasan seluas 56 hektare tersebut masuk kategori cagar budaya atau hanya sejumlah makam bersejarah saja.

"Kajian tidak mudah, ini total luas 56 hektare, apakah semuanya masuk cagar budaya? Maka kajiannya harus clear, apa klasifikasinya, apa definisinya, apakah semua makam atau beberapa makam saja dan kajian ini akan disusun bersama-sama sehingga SK nya kuat," ujar Wali Kota Bandung Muhammad Farhan usai meresmikan Monumen Cagar Budaya Cikadut.

Farhan menyebutkan bahwa keberadaan "Kuburan Cina" di TPU Cikadut merupakan bukti nyata keberagaman budaya yang berkembang di Kota Bandung.

"Kota Bandung itu adalah kota yang dibangun sebagai kota cosmopolitan. Salah satu ciri kota cosmopolitan adalah keberagaman budaya dan latrar belakang rasialnya yang sangat kuat. Di Kota Bandung ini ada Kampung Pecinan, ada penginggalan budaya Jepang, Arab juga ada, Belanda, Inggris, perkebunan, Sunda jelas, bahkan selain Sunda juga ada di Bandung, semua harus terlibat dalam kebinekaan latar belakang budaya kita," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "VIdeo: Saling Tuding Soal Pembongkaran Cagar Budaya di Gresik"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads