Bayi Istimewa Lahir, Warga Satu Desa Kompak Ucapkan Selamat

Bayi Istimewa Lahir, Warga Satu Desa Kompak Ucapkan Selamat

Hestianingsih Hestianingsih - detikJabar
Sabtu, 28 Mar 2026 21:00 WIB
Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha setelah 17 tahun.
Kelahiran Bayi Pertama di Desa Eunha (Foto: Dok. Koreatimes)
Korea Selatan -

Selama hampir 20 tahun, tak pernah terdengar suara bayi menangis di Eunha, sebuah wilayah kecil di Distrik Hongseong, Korea Selatan. Hingga pada Maret 2026, suasana itu akhirnya berubah oleh sebuah peristiwa yang sangat dinantikan.

Tangisan pertama seorang bayi laki-laki bernama Yong-jun memecah keheningan yang telah berlangsung selama 17 tahun. Bagi masyarakat setempat, momen tersebut bukan sekadar kelahiran biasa, melainkan peristiwa yang sarat makna.

Desa yang biasanya sunyi mendadak dipenuhi spanduk ucapan selamat. Warga menyambut Yong-jun sebagai sosok istimewa, simbol harapan baru di tengah kekhawatiran akan masa depan komunitas mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu spanduk yang terpasang bahkan menyampaikan pesan penuh haru: "Sebuah hadiah berharga hadir di tahun 2026. Selamat atas kelahiran Yong-jun."

Mengutip laporan Vn Express, Yong-jun adalah anak dari pasangan Jeong Hae-deok dan SYardani, perempuan berdarah Kamboja yang kini menetap di desa tersebut. Kehadirannya bukan hanya menambah anggota keluarga, tetapi juga membawa secercah harapan bagi wilayah yang jumlah penduduknya terus menurun.

ADVERTISEMENT

Dalam kurun 10 tahun terakhir, populasi Eunha menyusut dari lebih dari 2.600 menjadi kurang dari 2.000 jiwa. Mayoritas warganya berusia lanjut, sementara angka kelahiran hampir tidak ada.

Tak heran, suara tangisan bayi menjadi sesuatu yang begitu dirindukan. Kebahagiaan warga pun semakin lengkap ketika pada bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di desa itu menerima empat murid baru di kelas satu, jumlah yang kecil, namun sangat berarti bagi kelangsungan hidup komunitas tersebut.

Kepala pemerintahan setempat, Shim Seon-ja, menyebut kelahiran Yong-jun sebagai kebahagiaan terbesar yang dirasakan wilayah itu dalam bertahun-tahun.

"Kami berkomitmen memberikan dukungan administratif dan kesejahteraan semaksimal mungkin, agar tempat ini tidak hanya menjadi desa yang damai, tetapi juga lingkungan terbaik untuk membesarkan anak," ujarnya.

Kelahiran bayi pertama setelah 17 tahun di Eunha menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar di Korea Selatan. Negara tersebut tengah menghadapi krisis demografi serius, dengan angka kelahiran yang terus menurun.

Pada 2023, tingkat kelahiran Korea Selatan tercatat hanya 0,72-terendah di dunia dan jauh di bawah angka ideal 2,1 untuk menjaga populasi tetap stabil. Sementara itu, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai lebih dari 21% dari total populasi, menempatkan negara ini dalam kategori 'super-aged society'.

Berbagai kebijakan telah digulirkan pemerintah, mulai dari bantuan finansial, fasilitas penitipan anak gratis, hingga kemudahan akses hunian bagi pasangan muda. Semuanya demi mendorong angka kelahiran.

Artikel ini telah tayang di wolipop. Baca selengkapnya di sini.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads