Blak-blakan Pria Joget Cuan MBG Usai SPPG Ditutup

Round-up

Blak-blakan Pria Joget Cuan MBG Usai SPPG Ditutup

Tim detikJabar - detikJabar
Sabtu, 28 Mar 2026 08:30 WIB
Hendrik Irawan (tengah), pria yang viral joget cuan MBG
Hendrik Irawan (tengah), pria yang viral joget cuan MBG (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Bandung -

Hendrik Irawan akhirnya muncul ke publik setelah jadi buah bibir. Buntut aksi joget-joget yang nyeleneh dengan klaim cuan Rp 6 juta per hari dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pria itu kemudian menyampaikan penjelasan soal tindakannya yang viral di media sosial.

Sebelum buka suara, Hendrik terlebih dahulu dirujak netizen. Buntutnya, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) miliknya di Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini telah ditutup, meski ada klaim narasi sudah mengeluarkan uang Rp 3,5 miliar dan belum balik modal.

Dalam pernyataannya, Hendrik berdalih aksi joget-joget di dalam SPPG itu dilakukan sudah sejak lama, namun baru diunggah di akun media sosialnya. Dia beralasan tak bermaksud menyombongkan soal insentif yang diterima, meski kemudian sudah memantik kemarahan netizen di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi video itu saya buat sudah lama, waktu itu juga sedang libur (operasional SPPG). Kemudian ada yang menggabungkan video itu sama omongan soal Rp6 juta," kata Hendrik saat ditemui, Jumat (27/3/2026).

Di momen itu, dia juga berdalih sama sekali tak berniat merendahkan program Presiden RI, Prabowo Subianto. Saat videonya viral dengan tendensi negatif, ia sempat tersulut emosi sampai berniat melaporkan beberapa akun media sosial ke polisi.

ADVERTISEMENT

"Tapi enggak jadi (laporan polisi), waktu itu saya tersulut emosi. Saya terima kalau netizen sekarang menghujat saya, enggak apa-apa," kata Hendrik.

Hendrik menyampaikan permohonan maaf terbuka atas aksinya tersebut. Ia menerima konsekuensi penutupan sementara SPPG miliknya atas huru-hara yang ia ditimbulkan.

"Saya mohon maaf kepada netizen, ini jadi pelajaran buat saya. Ya saya juga terima kalau SPPG ditutup sementara, sambil kita juga terus berbenah," kata Hendrik.

Bahkan, Hendrik mengaku kini legawa atas konsekuensi yang dia terima. Bahkan, dia menerima hujatan yang datang kepadanya sebagai konsekuensi dari tindakannya.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (PPG) Regional Bandung, Ramzi, sebelumnya menyebut tindakan Hendrik dinilai tidak pantas dilakukan di lingkungan SPPG dan berpotensi mencoreng citra program MBG.

"Ya itu kan urusan personal sebetulnya, tidak mewakili siapapun. Cuma tidak sepatutnya juga dia seperti itu, apalagi di dalam SPPG. Kita ingatkan kedepan SPPG di KBB fokus mengurus MBG saja, jangan mencoreng nilai positif dengan aksi seperti itu," kata Ramzi.

Selain faktor viralnya video, penutupan sementara juga dilakukan karena adanya infrastruktur yang belum memenuhi standar operasional.

"Ditutup sementara, dari beberapa dapur dia baru 1 yang beroperasi. Jadi ada infrastruktur yang belum sesuai standar, nanti akan dicek lagi sebelum kembali dibuka. Waktu penutupan ya sesuai lamanya dia melakukan perbaikan," kata Ramzi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa aktivitas di media sosial, terutama yang berkaitan dengan fasilitas publik dan program pemerintah, dapat berdampak luas, baik secara personal maupun institusional.

(ral/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads