Evaluasi Pemkot Usai Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo

Evaluasi Pemkot Usai Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 26 Mar 2026 15:15 WIB
Anak harimau di Bandung Zoo, Senin (22/9/2025)
Anak harimau di Bandung Zoo. Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara mati di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. Kematiannya jelas membawa catatan persoalan dalam urusan konservasi di kawasan tersebut.

Huru dan Hara lahir dari pasangan induk Shah Rukh Khan (22 tahun) dan Jelita (4,5 tahun) pada 12 Juli 2025. Hara mati terlebih dahulu, kemudian menyusul Huru karena terjangkit virus panleukopenia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai kejadian ini, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan akan ada evaluasi. Sebab, Bandung Zoo menurutnya tetap berfungsi sebagai lembaga konservasi dan menjadi rumah untuk hewan endemik di Jawa Barat.

"Lembaga konservasi itu kan punya juga kewajiban seperti kebun binatang ini, jadi kegiatan reproduksi dari satwa langka yang ada di kebun binatang Bandung ini tidak boleh berhenti. Selanjutnya yang belum pernah dilakukan oleh Kebun Binatang Bandung adalah upaya untuk melakukan pelepasliaran, itu nanti akan jadi tujuan," katanya, Kamis (26/3/2026).

"Dan yang ketiga adalah memastikan bahwa satwa langka endemik Jawa Barat pun harus menjadi salah satu yang bisa direproduksi di Kebun Binatang Bandung ini," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Ke depan, Farhan memastikan akan meningkatkan faktor biosecurity di Bandung Zoo. Pencegahan juga bakal dimaksimalkan, termasuk segera menunjuk lembaga konservasi untuk pengelola Bandung Zoo.

"Nah tentunya kami harus meningkatkan berbagai macam cara dan metode untuk memastikan, satu biosekurity-nya aman. Kedua penanganan pencegahan juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan yang ketiga tata kelola yang baik yang harus kami selesaikan dalam waktu satu bulan ini," ungkapnya.

"Sehingga sebulan ke depan kita sudah bisa menentukan bersama secara fair gitu ya. Pemerintah akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum yang bisa dijadikan sebagai mitra dalam skema kerjasama pemanfaatan Kebun Binatang Bandung," tuturnya.

Bandung Zoo saat ini diketahui telah disegel Kementerian Kehutanan. Namun ke depan, Farhan ingin memastikan tata kelola di kawasan tersebut bisa dievaluasi untuk perbaikan yang lebih optimal.

'Tantangannya besar. Saya tahu karena banyak sekali kritik yang mengatakan bagaimana mungkin kalau anak harimau, ini tantangannya di situ. Bahwa memang menuju langkah perbaikanlah tidak semudah itu. Keterbukaan kami dalam hal ini tentu saja menunjukkan bahwa kami ingin masyarakat terlibat secara aktif. Kritik, masukan akan sangat kami perhatikan dengan transparansi yang seperti sekarang ini. Insya Allah kita akan punya rasa memiliki yang kuat terhadap kebun binatang sebagai lembaga konservasi," katanya.

"Saya mohon maaf karena sampai sekarang kita masih demi kepentingan biosecurity, memang Drenten masih belum bisa dibuka sampai kita betul-betul yakin pengelolaannya sudah sangat baik baru kita akan buka nanti untuk masyarakat," pungkasnya.

(ral/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads