Momen arus balik Lebaran 2026 menyisakan cerita unik dari para pemudik yang kembali ke perantauan. Salah satunya Nur Fallah, warga Bogor yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan motor penuh muatan demi membawa 'bekal' dari kampung halaman di Surade, Sukabumi.
Pantauan di lokasi, Nur Fallah yang mengendarai Honda ADV berwarna sand ini tampak beristirahat sejenak di Posko Mudik Lebaran 2026 milik Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Motornya mencolok karena dipenuhi barang bawaan, mulai dari karung beras di bagian depan hingga bungkusan Opak Jampang yang diikat di windshield.
"Saya dari Surade, Jampang, mau ke Bogor, arah Bogor kita. Habis pulang kampung," kata Nur Fallah saat ditemui di posko, Kamis (26/3/2026).
Nur Fallah tidak sendirian. Ia memboyong istri dan anaknya yang masih bayi melintasi Pajampangan-Sukabumi-Bogor. Jarak sejauh 130 kilometer ia lahap meski harus berhadapan dengan kemacetan panjang di beberapa titik.
"Kalau dari maps 130 kilo-an dari Surade sampai Bogor. Iya, 130 kilo," tuturnya.
"Terjebak macet tadi di Cibadak, sebelumnya juga ada di arah Pelabuhan. Sekitar setengah jam, setengah jam-an ada," tambahnya.
Meski perjalanan melelahkan, ia mengaku sangat terbantu dengan adanya posko istirahat, apalagi ia membawa balita. Ia pun harus lebih sering menepi demi kenyamanan sang buah hati.
"Alhamdulillah lancar. Kalau dari sini lancar, kalau di sana macet, ada macetnya. Sempat berhenti-berhenti ada empat kali berhenti lah karena kan bawa anak bayi juga, bawa bayi juga," ungkapnya.
Karung Beras hingga Oleh-oleh Khas Jampang
Yang menarik perhatian adalah banyaknya buah tangan yang ia bawa di atas motornya. Seolah tak mau menyia-nyiakan hasil bumi dari kampung, Nur Fallah memboyong berbagai kebutuhan pokok dan camilan tradisional untuk dibawa ke Bogor.
"Kita bawa bekel-bekel kayak biasa dari orang tua pas mudik, kayak beras, ada oleh-oleh dikit juga kayak Opak Jampang khas dari sana. Sama ada pisang juga sebenarnya cuma di tas, di bagasi juga ada sih kayak kue-kuean gitu dari kampung, ya Opak-opakan lah banyak," jelasnya merinci barang bawaannya.
Kini, Nur Fallah bersiap melanjutkan sisa perjalanannya. Baginya, meski harus repot membawa banyak beban di motor, membawa oleh-oleh khas kampung halaman memberikan kepuasan tersendiri saat kembali ke rutinitas di kota.
"Iya, terakhir berhenti di sini nih. Udah kalau udah di sini mau lanjut lagi," pungkasnya.
(sya/sud)
