7 Fakta Kasus Joget Cuan Dapur MBG, Minta Maaf hingga Dapur Ditutup

7 Fakta Kasus Joget Cuan Dapur MBG, Minta Maaf hingga Dapur Ditutup

Tya Eka Yulianti - detikJabar
Kamis, 26 Mar 2026 13:24 WIB
Aksi joget seorang pria pemilik dapur SPPG viral di media sosial dan membuat netizen geram. Dinarasikan seorang pria yang diketahui bernama Hendrik Irawan tersebut flexing penghasilan Rp 6 juta per hari dari usaha SPPG yang dimilikinya.

Badan Gizi Nasional pun merespons hal tersebut. Wakil Ketua BGN, Nanik S Deyang, menyebut pihaknya telah memberikan teguran keras. BGN juga telah men-suspend dapur miliknya lantaran tidak sesuai ketentuan petunjuk teknis (juknis).
Foto: Media Sosial
Bandung -

Kasus viral yang melibatkan mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir. Sosok Hendrik Irawan mendadak ramai diperbincangkan setelah video dirinya berjoget di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebar luas di media sosial.

Video tersebut bukan hanya mengundang perhatian, tetapi juga memicu kontroversi yang berujung pada teguran hingga penutupan sementara dapur. Berikut rangkuman lengkap fakta-fakta di balik kasus "joget cuan" yang ramai diperbincangkan.

1. Video Joget di Dapur MBG Viral di Media Sosial

Awal mula polemik ini berasal dari video yang diunggah Hendrik melalui akun TikTok pribadinya pada 15 Maret 2026. Dalam video tersebut, ia terlihat berjoget di dalam area dapur MBG yang juga sedang digunakan oleh pekerja lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi tersebut menjadi sorotan karena dilakukan di lingkungan dapur yang seharusnya steril dan mengikuti standar operasional tertentu. Terlebih, Hendrik tampak tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), berbeda dengan pekerja lain yang mengenakan perlengkapan lengkap.

Video tersebut dengan cepat viral dan ditonton lebih dari satu juta kali, meskipun kolom komentarnya kemudian dinonaktifkan.

ADVERTISEMENT

2. Klaim Penghasilan Rp 6 Juta Picu Perdebatan

Selain aksi joget, pernyataan Hendrik terkait penghasilannya dari program MBG turut memperkeruh situasi. Ia menyebut bisa memperoleh hingga Rp 6 juta per hari, yang langsung memicu berbagai spekulasi di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Hendrik memberikan klarifikasi bahwa angka tersebut merupakan insentif dari pemerintah, bukan berasal dari anggaran makanan anak-anak.

Ia juga menegaskan bahwa nominal tersebut tidak diterima setiap hari penuh dalam satu bulan, melainkan dihitung berdasarkan hari operasional program.

3. Bangun Dapur dengan Modal Rp 3,5 Miliar

Hendrik mengungkapkan bahwa dapur SPPG yang ia kelola dibangun secara mandiri dengan biaya yang cukup besar, mencapai Rp 3,5 miliar.

Ia menjelaskan bahwa dana dari pemerintah bukanlah bantuan gratis, melainkan bentuk penggantian biaya operasional selama program berjalan. Dengan kata lain, ia tetap menanggung investasi awal secara pribadi.

Meski disebut mendapatkan insentif harian, Hendrik mengaku hingga kini belum mencapai titik balik modal dari investasi yang telah dikeluarkannya.

4. Minta Maaf Usai Dihujat Netizen

Setelah menuai kritik tajam dari warganet, Hendrik akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengaku tidak memiliki niat untuk merendahkan program MBG maupun pihak tertentu.

Dalam pernyataannya, ia juga mengaku siap menerima kritik yang datang, serta menyesalkan kegaduhan yang terjadi akibat tindakannya.

"Saya Hendrik Irawan memohon maaf pada netizen, saya tidak masalah dihujat setiap hari, dan saya tidak ada tujuan melecehkan program Bapak Presiden Prabowo Subianto," kata Hendrik dalam unggahannya.

Ia menambahkan bahwa skema insentif yang ia sebutkan sebenarnya berlaku untuk semua mitra, bukan hanya dirinya.

5. Badan Gizi Nasional Beri Teguran Keras

Kasus ini kemudian mendapat perhatian dari Badan Gizi Nasional (BGN). Pihak BGN langsung melakukan langkah pengawasan dan memberikan teguran keras terhadap Hendrik.

BGN menilai tindakan membuat konten di area dapur tanpa mengikuti standar keamanan merupakan pelanggaran serius. Selain itu, aksi tersebut dinilai tidak mencerminkan profesionalisme dalam menjalankan program pemerintah.

Pihak BGN juga menegaskan bahwa dapur MBG harus memenuhi standar ketat, termasuk penggunaan APD dan prosedur kebersihan yang sesuai.

6. Dapur SPPG Disuspend karena Pelanggaran

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dapur SPPG yang dikelola Hendrik akhirnya dibekukan sementara. Keputusan ini diambil setelah ditemukan sejumlah ketidaksesuaian dengan petunjuk teknis.

Beberapa pelanggaran yang ditemukan antara lain tata letak dapur yang tidak sesuai standar serta sistem pengolahan limbah (IPAL) yang tidak memenuhi ketentuan.

BGN menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar peluang bisnis, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, sehingga standar operasional harus dipatuhi secara ketat.

7. Ratusan Relawan Terdampak Penutupan

Penutupan dapur tersebut berdampak langsung pada sekitar 150 relawan yang selama ini terlibat dalam operasional SPPG. Mereka terdiri dari berbagai peran, mulai dari memasak, pengemasan, distribusi, hingga pencucian peralatan makan.

Hendrik mengaku prihatin terhadap kondisi para relawan yang kini harus berhenti bekerja akibat keputusan tersebut. Ia juga menyadari bahwa kegaduhan yang terjadi turut membawa dampak luas.




(tya/tya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads