Di tengah geliat modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, sebuah tradisi lama masih bertahan di sebuah kampung yang dikenal sebagai 'Blok Kupat' tepatnya di Jalan Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Nama itu bukan sekadar penanda wilayah, melainkan identitas kolektif yang telah hidup puluhan tahun dari generasi ke generasi.
Tak banyak yang mengetahui secara pasti asal-usul nama tersebut. Namun bagi warga setempat, label Blok Kupat sudah seperti warisan yang tak perlu dipertanyakan lagi. "Dari dulu, dari nenek moyang, sudah banyak yang bikin kupat di sini, bahkan dari sebelum ibu lahir" ujar Yati (65), salah satu sesepuh di kawasan tersebut saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (18/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak kecil, Yati sudah akrab dengan aktivitas menganyam janur ini. Ia bahkan mulai belajar membuat ketupat sejak usia tujuh tahun. Tradisi ini, menurutnya, bukan sekadar keterampilan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. "Dulu belajarnya juga sambil dipangku," ujarnya.
Di Blok Kupat, membuat ketupat bukan hanya dilakukan saat menjelang Hari Raya Idulfitri, tetapi sudah menjadi aktivitas turun-temurun yang mengakar sepanjang tahun. Bahkan, satu kampung dikenal memiliki kemampuan yang sama-menganyam dan mengisi ketupat dengan teknik khas mereka.
Keunikan ketupat dari wilayah ini terletak pada anyamannya yang padat tak berjarak, berbeda dengan kebanyakan ketupat lain yang memiliki rongga. Anyaman ketupat yang padat ini nantinya akan menghasilkan tekstur ketupat yang lebih "seseg". Padat, pulen, dan memiliki cita rasa tersendiri.
Namun, di balik tradisi yang kuat, para perajin menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan zaman membawa konsekuensi pada meningkatnya biaya produksi. Yati mengingat betul bagaimana harga ketupat dulu jauh lebih terjangkau. "Dulu mah jual satu ikat Rp5.000, terakhir sekitar tahun 2015," katanya.
Lonjakan harga bahan baku menjadi tantangan utama. Janur yang menjadi bahan utama pembungkus ketupat kini semakin sulit didapat. Pasokan yang dulu mudah diakses dari daerah seperti Tasikmalaya, Ciamis, hingga Pangandaran, kini jumlahnya semakin berkurang. "Sekarang satu ikat bisa Rp170 ribu isi 800 helai. Dulu mah murah. Sekarang susah juga nyarinya," jelas Yati.
Perubahan fungsi lahan di daerah penghasil janur pun turut memperparah kondisi. Beberapa wilayah yang dulunya menjadi sumber bahan baku kini telah beralih menjadi kawasan pembangunan, seperti vila dan properti lainnya.
Tak hanya itu, harga beras dan biaya memasak juga ikut meningkat. Proses merebus ketupat yang membutuhkan waktu dan bahan bakar tambahan menjadi semakin mahal. Hal ini berdampak langsung pada margin keuntungan para perajin.
Tantangan lain yang tak kalah penting juga datang dari regenerasi. Komala (46) melihat adanya perubahan pola pikir pada generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda yang mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. "Sekarang banyak yang lebih pilih kerja di pabrik. Soalnya hasil dari kupat ini nggak terlalu besar," ujarnya.
Produksi ketupat dinilai membutuhkan tenaga, waktu, dan ketelatenan tinggi, namun tidak selalu sebanding dengan hasil yang didapat. Akibatnya, minat generasi muda cenderung menurun.
Meski begitu, tradisi ini belum sepenuhnya ditinggalkan. Pada momen tertentu, seperti menjelang Lebaran, anak-anak muda tetap ikut terlibat meski tidak menjadikannya sebagai pekerjaan utama. "Biasanya kalau lagi libur kerja, mereka ikut bantu. Lumayan buat nambah penghasilan," tambah Komala.
Untungnya, di tengah tantangan tersebut, muncul cara baru yang dilakukan oleh generasi muda untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan usaha ketupat. Afrizal (20), salah satu perwakilan Gen Z di Blok Kupat, mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Sejak 2024, ia mencoba menjual ketupat secara online melalui berbagai platform seperti TikTok dan Facebook. "Awalnya coba-coba, tapi ternyata banyak yang pesan. Apalagi pas mendekati Lebaran," ungkapnya.
Ia juga memanfaatkan fitur live streaming untuk menarik perhatian pembeli secara langsung. Strategi ini terbukti efektif. Jika sebelumnya penjualan hanya mengandalkan pasar tradisional, kini jangkauan pembeli menjadi lebih luas. Pesanan tidak hanya datang dari sekitar wilayah, tetapi juga dari luar kota. Bahkan, Afrizal pernah menerima pesanan dari luar pulau.
Selain itu, media sosial juga membantu membangun jaringan pelanggan tetap. Dengan memanfaatkan akun pribadi dan grup komunitas, promosi menjadi lebih organik dan tepat sasaran. "Biasanya posting terus tag sosmed daerah-daerah, terus teman-teman juga banyak yang bantu share," tambahnya.
Transformasi ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap tradisi. Jika sebelumnya dianggap kurang menjanjikan, kini usaha ketupat mulai dilihat sebagai peluang bisnis yang bisa dikembangkan dengan pendekatan digital.
Blok Kupat pun menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Perpaduan antara kearifan lokal dan inovasi digital membuka peluang baru, tidak hanya untuk menjaga budaya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
(iqk/iqk)
