Selama ini, kepunahan hewan berukuran besar kerap menjadi sorotan sebagai tanda kerusakan lingkungan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mamalia kecil justru bisa menjadi indikator yang tak kalah penting bagi kesehatan ekosistem.
Salah satu yang disorot adalah celurut gajah atau bushveld sengi. Meski berukuran kecil, hewan ini menyimpan peran besar sebagai penanda kondisi lingkungan.
Dilansir dari detikEdu, peneliti menyebut, penurunan drastis populasi mamalia kecil seperti sengi dapat menjadi sinyal awal terganggunya keanekaragaman hayati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mamalia kecil merupakan indikator yang kuat untuk kesehatan lingkungan, namun pelacakan mereka telah lama menjadi tantangan karena banyak spesies menempati peran ekologis yang berbeda meskipun terlihat hampir identik," ujar peneliti, dikutip dari Science Daily.
Melacak dari Jejak Kaki
Tantangan dalam membedakan spesies mamalia kecil kini mulai teratasi. Tim ilmuwan dari University of Oxford dan Duke University mengembangkan metode baru untuk mengidentifikasi spesies hanya dari jejak kaki, tanpa perlu tes DNA.
Metode ini pertama kali diuji pada dua spesies sengi di Afrika Selatan, mamalia kecil yang sekilas mirip tikus dan sulit dibedakan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dengan pendekatan tersebut, peneliti mampu mengidentifikasi spesies dengan tingkat akurasi hingga 96 persen.
"Sangat penting untuk mengetahui mana yang mana, karena meskipun spesies-spesies ini mungkin terlihat sama, mereka menghadapi ancaman lingkungan yang berbeda dan memainkan peran yang berbeda di lingkungan," kata Dr. ZoΓ« Jewell.
Perbedaan habitat, seperti antara sengi yang hidup di bebatuan dan di pasir, membuat masing-masing spesies menjadi indikator unik bagi kondisi lingkungannya.
Baca juga: Jejak 'Unicorn' di Gurun Sahara |
Pesan dari Jejak yang Nyaris Tak Terlihat
Sekilas, kedua spesies sengi tampak identik. Namun, perbedaan kecil pada bentuk kaki ternyata menghasilkan pola jejak yang berbeda di tanah.
Teknik identifikasi berbasis jejak ini dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak mengganggu kehidupan satwa, dibandingkan metode pemantauan langsung.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa dua spesies sengi yang sebelumnya dianggap hidup terpisah ternyata berbagi wilayah di Afrika Selatan. Temuan ini mengindikasikan adanya perubahan habitat, baik akibat perubahan iklim maupun aktivitas manusia.
Para peneliti menilai metode ini memiliki potensi luas untuk diterapkan pada berbagai spesies mamalia kecil di seluruh dunia.
"Mamalia kecil hidup di hampir semua ekosistem di planet ini, dan teknologi ini cukup fleksibel untuk diterapkan di semuanya," ujar Jewell.
Temuan ini menegaskan bahwa jejak kecil di alam bisa membawa pesan besar. Dari tapak kaki mamalia mungil, ilmuwan kini memiliki cara baru untuk membaca tanda-tanda kerusakan lingkungan lebih dini.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Ecology and Evolution pada 27 Januari 2026.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
