Saat Mang Becak Jadi Tamu Kehormatan Bupati

Kabupaten Karawang

Saat Mang Becak Jadi Tamu Kehormatan Bupati

Irvan Maulana - detikJabar
Selasa, 17 Mar 2026 04:52 WIB
Bah Arman saat diundang buka bersama di Kantor Bupati Karawang.
Bah Arman saat diundang buka bersama di Kantor Bupati Karawang. (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)
Karawang -

Empat dekade lamanya, Bah Arman (65) hanya bisa menatap kemegahan Aula Husni Hamid dari balik kemudi becak tuanya.

Baginya, gedung di Kompleks Perkantoran Pemkab Karawang itu adalah batasan yang memisahkan debu jalanan dengan dinginnya ruang kekuasaan. Namun, pada Senin itu, garis pembatas tersebut luruh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lelaki senja yang telah 40 tahun mengadu nasib di aspal Karawang ini tak datang untuk mengantar penumpang. Ia hadir sebagai tamu kehormatan. Bersama ratusan rekan seprofesinya dan para penjaga perlintasan kereta api, Arman melangkah masuk ke dalam aula dengan perasaan campur aduk.

Suasana haru seketika menyergap ruangan saat Bupati Karawang, Aep Syaepuloh mulai menyapa satu per satu para pejuang jalanan ini. Pertemuan tersebut jauh dari kesan seremonial yang kaku.

ADVERTISEMENT

Di sana, bantuan berupa paket sembako, beras, hingga santunan uang tunai diserahkan bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan bentuk penghormatan terhadap para pekerja jalanan.

Bupati Aep tampak tak berjarak. Ia turun langsung, menyalami tangan-tangan legam yang setiap hari memutar pedal dan menjaga nyawa di perlintasan kereta. Sesekali, sang Bupati berhenti, menyimak keluh kesah, hingga tertawa mendengar candaan renyah dari para tamu istimewanya.

Di sudut ruangan, Bah Arman tak mampu membendung emosinya. Berkali-kali jemarinya yang kasar menyeka air mata yang jatuh di pipi yang mulai keriput.

Baginya, momen ini bukan sekadar tentang paket beras yang ia dekap erat, melainkan tentang pengakuan atas eksistensinya selama puluhan tahun di jalanan.

"Baru pertama kali saya masuk ke sini, biasanya hanya lewat di depan gerbang saja. Rasanya sedikit aneh dan tak percaya, tapi juga bahagia bisa bertemu langsung dengan Bapak Bupati," kata Arman dengan wajah haru.

Bagi pria yang separuh hidupnya dihabiskan di atas jok becak ini, perhatian dari pimpinan daerah adalah sebuah kemewahan batin. Ia merasa, untuk pertama kalinya, keringat yang ia cucurkan di jalanan Karawang dipandang dengan penuh martabat oleh pemerintahnya sendiri.

"Terima kasih banyak kepada Bapak Bupati sudah mengundang kami, sudah memperhatikan kami para, dan juga sudah memberikan bantuan. Tentu bantuan ini sangat berarti untuk keluarga saya di rumah apa lagi sekarang dekat lebaran yang sudah pasti butuh uang untuk keluarga," kata dia.

Agenda silaturahmi ini menjadi jembatan bagi Pemerintah Kabupaten Karawang untuk menyentuh lapisan masyarakat yang sering kali tak terdengar suaranya di gedung pemerintah.

Lebih dari sekadar pemberian bantuan ekonomi, acara ini juga menjadi ruang bagi para pekerja kecil untuk menitipkan aspirasi langsung ke telinga sang pemimpin.

Kehadiran para pengayuh becak dan penjaga perlintasan ini menjadi pengingat kuat bahwa setiap profesi, sekecil apa pun dalam pandangan mata, adalah urat nadi yang menggerakkan kehidupan sosial dan ekonomi di Karawang.

Bagi Bah Arman dan kawan-kawannya, hari ini bukan hanya tentang bantuan yang dibawa pulang ke rumah. Ini adalah tentang rasa dihargai. Sebuah catatan bersejarah yang akan ia ceritakan pada anak cucunya, bahwa suatu hari, becaknya pernah membawanya masuk ke jantung pemerintahan untuk duduk bersanding dengan sang Bupati.

Sementara itu, Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengungkap kegiatan tersebut telah berlangsung setiap tahun menjelang Lebaran. Namun, dalam setiap tahunnya, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dibagi per profesi.

"Alhamdulillah tahun ini kita bisa bersilaturahmi bersama masyarakat, pengayuh becak, dan penjaga perlintasan kereta api. Kami mengundang para pekerja informal inj untuk berbuka bersama dan sedikit berbagi keluh kesah," kata Aep, usai acara.

Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk melindungi setiap warganya, khususnya para pekerja informal seperti sopir angkot dan penjaga perlintasan kereta api yang tidak berpenghasilan tetap.

"Kami dari pemerintah tentu berupaya bagaimana menyerap aspirasi setiap warga. Kita setiap tahun mengadakan acara ini, kemarin kan para sopir angkot, sekarang tukang becak dan penjaga perlintasan kereta api. Mereka juga perlu kita perhatikan," pungkasnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads