Skala bencana pergerakan tanah yang menerjang Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kini kian meluas dengan dampak yang memprihatinkan. Data yang diperoleh hingga Kamis (5/3/2026) mencatat sebanyak 101 unit rumah mengalami kerusakan, yang berakibat pada mengungsinya 112 KK atau total 367 jiwa.
Di balik angka-angka tersebut, terselip kecurigaan mendalam dari para penyintas bencana yang menduga adanya aktivitas manusia sebagai pemicu utama amblasnya tanah di bawah pemukiman mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum bencana datang warga mengaku sering mendengar deru alat berat serta nyanyian gergaji mesin (sinso) yang merambah kawasan hutan tepat di atas permukiman mereka.
Pepohonan yang kini telah gundul dan rata dengan tanah diduga menjadi penyebab air merembes liar hingga merusak stabilitas lahan yang sebelumnya aman dari bencana. Aisyah salah seorang warga menceritakan bagaimana air mulai merembes ke bawah dan menghantam pemukiman setelah pohon-pohon di atas sana tumbang.
"Ngerembes ke bawah, jadi ke warga sekarang. Jadi turun ke warga, sebelumnya belum pernah kena pergerakan tanah. Semenjak adanya pepohonan ditebangan jadi rata, jadi sekarang musibah," ujar Aisyah dengan nada tegas kepada sejumlah awak media diamini emak-emak lain yang sengaja berkumpul ketika melihat kedatangan awak media.
Kesaksian itu diperkuat oleh Annisa Agustina, warga lainnya. Ia membenarkan sebelum bencana datang, warga sering diteror suara alat berat dan mesin penebang pohon.
"Iya, ada. Ada suara. Ada suara beko, doser (buldoser), semuanya ada," seru Annisa bersama warga lainnya.
Ia menambahkan gundulnya hutan mulai terlihat jelas karena pohon-pohon sudah mulai ditebangin. Annisa juga mengungkap warga tidak tinggal diam. Mereka pernah berdemonstrasi ke kantor desa pada tahun 2024 hingga 2025, namun aspirasi itu tidak berakhir dengan solusi.
"Warga pernah juga demo ke desa, tapi enggak ditanggapi. Malah ini dampaknya ke kita," tuturnya menduga.
Menurut Annisa, ia mendapat kabar pembukaan lahan itu bertujuan untuk perkebunan buah-buahan dan proyek sapi, kandang sapi. Ia menyayangkan sikap perusahaan yang masuk tanpa izin warga.
"Ini mah enggak ada izin dari kita sekali. Tiba-tiba saja. Intinya kalau PT itu berjalan, mungkin yang enggak tahu itu di desanya sudah diizinin," kata Annisa.
"Untuk saat ini kita mohon kepada aparat setempat pengen disetop. Iya, diestop. Kembaliin hutan seperti semula. Semuanya sudah kena dampak, pengen ada ganti rugi tanah atau permukiman," sambungnya.
Camat Bantargadung Syarifudin Rahmat mengakui adanya aktivitas penebangan di area tersebut saat ia melakukan pengecekan ke titik 'mahkota' pergerakan tanah yang berjarak sekitar 1 kilometer dari permukiman yang terdampak bencana.
"Saya sebetulnya waktu itu sudah ngecek ke atas langsung, ngecek langsung ya, di pas batas tanah perkebunan warga, tanah kebun rakyat ya, belum sampai ke tanah perkebunan yang perusahaan. Nah itu melihat ada pola retakan itu, itu mahkotanya di situ. Tapi di kebun warga juga sendiri gundul pas saya tanjakin gitu," ujar Syarifudin.
Syarifudin menjelaskan bahwa wilayah tersebut merupakan area salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan perindustrian dan perdagangan dan memegang sertifikat HGU.
Ia membenarkan adanya diversifikasi usaha di lahan tersebut. "Dari awal perkebunan karet, ada usahanya perkebunannya menjadi penanaman duren sama alpukat, ditambah ada peternakan sapi. Ternyata pas itu ada informasi di atas ternyata ada lahan perkebunan karetnya itu sudah ditebangin, ya memang informasinya itu untuk persiapan lokasi peternakan sapi dimaksud," ungkapnya.
Meski membenarkan adanya penebangan, Syarifudin berkilah bahwa penyebab utama tetaplah faktor alam. "Perkiraan kaitan pengaruh terjadinya pergerakan tanah kan biasanya curah hujan tinggi, kekuatan daya tahan tanahnya sendiri, dan faktor yang lain kaitan lingkungan atau vegetasi itu yang terakhir," jelasnya.
Kini, retakan di titik mahkota yang semula hanya 50 sentimeter dilaporkan telah melebar hingga lebih dari satu meter. Syarifudin menyebut jarak dari mahkota longsor ke permukiman warga hanya sekitar satu kilometer saja.
(sya/sud)










































