Tangis Anwar Lihat Kondisi Anak yang Diduga Dianiaya Ibu Tiri

Kabupaten Sukabumi

Tangis Anwar Lihat Kondisi Anak yang Diduga Dianiaya Ibu Tiri

Siti Fatimah - detikJabar
Jumat, 20 Feb 2026 19:21 WIB
Anwar Satibi, ayah bocah histeris usai anaknya selesai diautopsi
Anwar Satibi, ayah bocah histeris usai anaknya selesai diautopsi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Tangis Anwar Satibi (38) pecah saat mengingat kondisi putranya, NS (12), yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya. Di sela isak, Anwar tak kuasa menahan emosi ketika menceritakan detik-detik ia mendapati anaknya dalam kondisi mengenaskan.

"Ya kan faktanya saya pulang dari Kota Sukabumi seperti itu, sudah sakit. Faktanya pas saya ke Kota Sukabumi anak sehat, baik-baik saja. Setelah pulang, pas malam pertama sahur," kata Anwar dengan suara bergetar saat ditemui detikJabar di RS Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Jumat (20/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sehari-hari NS tinggal di pesantren. Saat kejadian, ia sedang libur untuk persiapan berpuasa bersama keluarga.

Anwar mengaku meninggalkan anaknya selama dua hari dua malam karena bekerja memasang gigi di Kota Sukabumi. Ia pulang setelah mendapat telepon dari istrinya.

ADVERTISEMENT

"Saya ditelepon, 'pulang yah, si Raja teu damang, tos ngalantur, panas'. Itu kata istri saya," ujarnya.

Namun setibanya di rumah, Anwar terkejut melihat kondisi anaknya. Kulit NS disebut sudah melepuh di sejumlah bagian tubuh dan terdapat beberapa luka lebam.

"Pas sampai di rumah saya kaget kondisi anak saya sudah pada melepuh. Saya tanya kenapa? Dia (istri) jawab, ini kan sakit panas, makanya melepuh," tuturnya.

Awalnya Anwar mengira luka tersebut akibat demam biasa. Ia bahkan sempat berniat membeli salep. Siang harinya, NS dibawa ke rumah sakit. Di tengah proses itu, seorang kerabat datang dan menanyai NS.

"Ditanya lah, ngaku dikasih minum air panas (oleh ibu tirinya). Makanya itu ada di dalam video saya sempat brutal," kata Anwar.

Ia menyebut kulit anaknya melepuh di bagian kaki, punggung, hingga tangan. NS kemudian dibawa ke RS Jampangkulon dan mendapat penanganan pada Kamis (19/2) dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Tak ingin berspekulasi, Anwar mendorong dilakukan autopsi terhadap anaknya. Ia mengaku tak ingin menuduh tanpa bukti.

"Makanya kenapa saya mendorong ingin mengadakan autopsi. Intinya saya tidak bisa menuduh, saya ingin tahu, ingin memastikan. Tidak mau menuduh sembarangan, nanti kena fitnah," ujarnya.

Ia sempat ragu melanjutkan autopsi karena tak tega terhadap kondisi sang anak. Namun demi kepastian hukum, ia akhirnya menyetujui proses tersebut.

Dugaan KDRT Sempat Terjadi Sebelumnya

Dugaan penganiayaan yang menimpa NS pun menyeruak ketika ia ditanya Isep Dadang Sukmana (62), salah satu pembina ponpes yang dekat dengan anak tersebut. Dengan napas terakhirnya, NS sempat menyebut bahwa luka bakar dari air panas itu disebabkan oleh ibu tirinya.

"Dalam pengakuan (luka) itu sama mamanya. Langsung bapaknya juga marah di situ (rumah sakit). Saya tidak menuduh siapa-siapa tapi pengkuan anak sendiri seperti itu. Mungkin ke bapaknya nggak berani bilang karena anak ini dekat dengan saya jadi dia terbuka," kata Isep kepada detikJabar, Jumat (20/2/2026).

Sementara itu, Anwar mengungkap, dugaan kekerasan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Sekitar satu tahun lalu, ia sempat melaporkan dugaan penganiayaan ke polisi.

"Pas terjadi penganiayaan yang saya laporkan satu tahun lalu di polres. Jadi ini sudah pernah terjadi, cuma dimediasi. Dia (ibu tiri korban) sujud ke saya jangan lapor, mamah mau taubat," ucapnya sambil menirukan perkataan sang istri dari pernikahannya yang keenam kali.

Ia menyebut saat itu anaknya dipukul menggunakan benda. Meski sempat dimediasi, laporan tersebut diakuinya belum dicabut.

"Ini ujian buat saya," katanya sambil menyeka air mata.

Sebelumnya diberitakan, Satreskrim Polres Sukabumi tengah mendalami kasus kematian tragis seorang bocah laki-laki asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi. Korban meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi luka lebam di beberapa bagian.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa tim medis tengah melakukan autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.

"Pagi ini mau otopsi untuk dugaan terhadap narasi (KDRT) tersebut. Kami masih menunggu hasil otopsi," jelas Hartono, Jumat (20/2/2026) pagi.


Informasi dalam berita ini telah diperbarui pada Jumat 20 Februari 2026 pukul 20.05 WIB



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads