Langkah kaki Wa Indi saat hendak menuju ke kebun berubah jadi pertarungan hidup dan mati. Petani asal Kabupaten Muna tersebut tiba-tiba diserang ular piton di hutan Desa Maligano.
Di tengah rimbun pepohonan kawasan hutan tersebut pada Selasa (17/2) pagi kemarin, langkahnya terhenti lantaran ular piton berukuran 6,5 meter tiba-tiba menyerangnya.
"Iya, digigit kaki kirinya baru dililit sama itu ular," ujar keponakan korban, Hijrah sebagaimana dilansir dari detikSulsel, Rabu (18/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gigitan di kaki kiri membuat Wa Indi terjatuh ke tanah. Dalam hitungan detik, tubuhnya dililit kuat. Ular itu membungkus badannya hingga ke pinggang, menghimpit napas dan melumpuhkan tenaga.
"Kakinya digigit baru dia jatuh di tanah, setelah itu dililit badannya sampai pinggang," kata Hijrah.
Dalam kondisi terjepit dan nyaris tak berdaya, satu-satunya harapan Wa Indi adalah parang yang masih berada di genggamannya. Dengan sisa tenaga, ia mengayunkan senjata itu ke arah ekor ular. Tebasan demi tebasan akhirnya membuahkan hasil.
"Dia terlepas itu ular karena ada parang dia pegang, dia potongkan ke bagian ekornya. Mungkin kesakitan baru dilepas," tuturnya.
Begitu lilitan mengendur, Wa Indi segera menjauh dan berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan.
Teriakan itu didengar seorang petani lain yang berada tak jauh dari lokasi. Petani lain bergegas datang, namun nyalinya ciut melihat ukuran ular yang begitu besar.
"Dia teriak minta tolong, datang satu orang petani coba mau bunuh itu ular, tapi dia takut karena besar sekali," ujar Hijrah.
Warga kemudian dihubungi untuk meminta bantuan. Tak lama, sejumlah orang dari kampung datang membawa peralatan. Bersama-sama, mereka akhirnya menaklukkan ular tersebut.
"Itu petani yang bantu dia telepon orang di kampung baru datang dibunuh ramai-ramai. Kalau panjangnya sekitar 6,5 meter pas diukur kemarin sebelum dijual," katanya.
Usai insiden menegangkan itu, Wa Indi segera dilarikan ke pelayanan kesehatan terdekat. Luka gigitan dan trauma akibat lilitan sempat membuat kondisinya mengkhawatirkan.
"Tanteku langsung dibawa ke puskesmas dan mendapat perawatan. Sorenya sudah baikan dan keluar dari puskesmas," tutur Hijrah.
Artikel ini sudah tayang di detikSulsel
(dir/dir)











































