Hilal Tak Terlihat di Seluruh Titik Jabar, Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat

Hilal Tak Terlihat di Seluruh Titik Jabar, Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat

Bima Bagaskara - detikJabar
Selasa, 17 Feb 2026 18:50 WIB
Pemantauan hilal di Bandung
Pemantauan hilal di Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar).
Bandung -

Hilal tidak terlihat di seluruh titik pemantauan di Jawa Barat pada Selasa (17/2/2026) petang, meski pengamatan telah dilakukan menjelang magrib. Hasil ini segera dilaporkan ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan.

Kepastian tersebut disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Barat, Ali Abdul Latif, usai pemantauan di Observatorium Al Biruni Unisba, Kota Bandung.

"Kami dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat bertempat di Observatorium Al Biruni Unisba, didampingi dari seluruh unsur baik itu dari pemerintah daerah, dari ormas ulama keagamaan, kemudian dari BMKG, dari PA, dari BHRD memastikan pada sore hari ini tadi pukul 18.17 atau magrib sore ini kita memastikan hilal tidak terlihat," ujar Ali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, posisi hilal saat matahari terbenam berada di bawah kriteria imkanur rukyat. Menurutnya, kondisi tersebut membuat hilal hampir dipastikan tidak dapat diamati.

"Sehingga, ketidakpastian tidak terlihatnya ini nanti kita akan sampaikan sore ini juga, hari ini juga langsung ke Jakarta, ke sidang isbat yang akan dipimpin oleh Bapak Menteri Agama. Jadi, hasil keputusannya nanti kita tunggu setelah sidang isbat dari Bapak Menteri Agama," katanya.

ADVERTISEMENT

Ali juga memastikan bahwa seluruh titik pemantauan di Jawa Barat mengalami kondisi serupa.

"Sampai saat ini yang di Jawa Barat dari 6 atau 7 lokasi, tadi sama semuanya sama, tidak terlihat baik itu yang di sini Al Biruni, yang di Banjar, di Pangandaran, kemudian di Subang, dan Sukabumi. Semuanya tidak terlihat," ungkapnya.

Secara nasional, pemantauan dilakukan di 98 titik di seluruh Indonesia.

"Dan sesuai informasi semuanya di Indonesia ada 98 titik lokasi," tambahnya.

Terkait kemungkinan awal Ramadan, Ali menyebut secara hisab terdapat peluang besar bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari. Ia juga menerangkan penyebab utama hilal tidak terlihat karena posisi ketinggiannya belum memenuhi batas minimal visibilitas.

"Di posisi kita di Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke itu posisi wujud hilal ketika matahari terbenam itu dalam posisi minus 2 derajat sampai 0 derajat. Nah, kepastian untuk dapat terlihat hilal itu adalah ketika posisinya di atas 3 derajat," jelasnya.

"Nah, ini posisi seluruh Indonesia ini dalam keadaan antara minus 2 derajat sampai 0 derajat. Sehingga, kemungkinan besar itu tidak akan ada terlihat hilal," sambungnya.

Karena itu, jika pada hari pengamatan hilal tidak terlihat, maka bulan Syakban otomatis digenapkan dan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

"Tidak, jadi kita menggenapkan bulan Syaban ini menjadi 30, jadi kemungkinan Ramadan kita menunggu dari Menteri Agama 1 Ramadan misalnya hari Kamis," tutupnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gol-gol Al Hilal saat Taklukan Al Shabab 2-0 di Liga Saudi"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads