Di sebuah jalan di kawasan Ciroyom, Andir, tepatnya di Jalan Kelenteng Nomor 10/23A, berdiri bangunan dengan pilar-pilar merah kokoh yang menyangga atap berhias naga. Sesuai dengan nama jalannya, di sinilah Kelenteng di Kompleks Vihara Satya Budhi berada. Sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan masyarakat Tionghoa di Bandung yang telah bertahan selama 140 tahun.
Memasuki gerbangnya, asap hio dan aroma lilin langsung menyapa. Di tengah kesibukan persiapan menjelang Tahun Baru Imlek, tersimpan cerita panjang tentang ketahanan, restorasi, dan filosofi mendalam yang terus dijaga pengelolanya hingga saat ini.
Sejarah Kelenteng Tertua di Bandung
Bicara soal pembangunan kelenteng, banyak literatur menyebutkan angka tahun yang berbeda. Namun, menurut Edukator Kompleks Vihara Satya Budhi, The Kristanto Kurniawan, lini masa fisik bangunan ini dapat ditarik hingga akhir abad ke-19.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titik terang sejarah pembangunan terpahat di sebuah plakat peresmian yang mencantumkan tahun 1885. "Soal mulai kapan pembangunannya memang belum ada catatan yang benar-benar jelas. Kalau peresmiannya itu pada tahun 1885, hal ini jelas terpahat pada plakat. Setelah itu memang ada pembangunan dan renovasi selanjutnya yang salah satunya selesai pertama kali di tahun 1907," ujar Kristanto atau yang akrab disapa Tanto.
Plakat peresemian kelenteng (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
Nama Satya Budhi sendiri diadopsi pada era Orde Baru. Tanto menjelaskan, "Nama aslinya dalam bahasa Hokkien adalah Hiap Thian Kiong atau Xie Tian Gong dalam bahasa Mandarin."
Salah satu babak paling emosional dari perjalanan kelenteng ini adalah peristiwa kebakaran hebat pada 5 Februari 2019. Namun, Satya Budhi berhasil bangkit kembali melalui proses restorasi yang sangat teliti dan selesai pada awal 2022.
Cerita di Balik Pilar dan Ornamen
Meski sempat mengalami kebakaran hebat, Satya Budhi berhasil bangkit melalui proses restorasi mendalam yang tuntas pada awal 2022. Penting untuk dicatat bahwa ornamen-ornamen pada bangunan utama tetap dijaga keasliannya. "Yang di tengah ini kebanyakan masih otentik," ujar Tanto.
Menariknya, metode pembuatan dan perbaikan ornamen di sini dilakukan dengan cara yang sangat tradisional. Sebagai contoh, dalam restorasi fisik bangunan, pengelola tidak menggunakan semen modern, melainkan mengikuti teknik zaman dahulu dengan menggunakan tumbukan batu bata merah yang dicampur air.
Tanto menjelaskan bahwa menjaga keaslian material adalah prioritas utama. Keaslian ini bahkan mencakup jejak kerusakan yang sengaja dibiarkan sebagai bagian dari narasi sejarah. Pada bagian sayap kiri kelenteng, terdapat batu pilar yang permukaannya terlihat retak akibat kebakaran hebat pada 2019.
Bangunan utama kelenteng yang di restorasi (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
"Pilar batu pada pintu bagian sayap kiri yang meledak hingga retak akibat panas kebakaran itu sengaja dipertahankan. Itu menjadi bukti sejarah bagi generasi mendatang bahwa bangunan ini pernah mengalami ujian berat," tuturnya.
Keunikan arsitektur Satya Budhi juga terlihat pada pilar-pilar transisi yang berubah bentuk secara vertikal. "Filosofinya dari bentuk segi delapan di bawah, lalu naik ke segi empat, dan puncaknya lingkaran. Itu melambangkan hubungan antara manusia, bumi, dan langit (Tuhan)," jelas Tanto. Detail naga yang meliuk di atap pun bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlindungan yang sakral.
Klenteng Sebagai Cagar Budaya
Kelenteng yang berada di dalam Kompleks Vihara Satya Budhi pada dasarnya merupakan tempat ibadah bagi penganut Sam Kauw. Tanto menjelaskan bahwa *Sam Kauw adalah kepercayaan yang terdiri atas Tao, Konghucu, dan Buddha yang sudah bersinkretisme dan berakulturasi.
Ketiga ajaran ini saling melengkapi. Taoisme mengatur hubungan manusia dengan alam, Konghucu menekankan interaksi manusia dan bakti pada leluhur, sementara Buddhisme fokus pada kehidupan spiritual setelah kematian.
Ornamen sekitar bangunan kelenteng (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
Meskipun saat ini secara administratif dikenal sebagai vihara demi mengikuti regulasi negara, secara fungsi bangunan utama tetap berdiri sebagai kelenteng yang melestarikan budaya Tiongkok berlandaskan ajaran Sam Kauw.
Hingga saat ini, kelenteng memegang status sebagai bangunan cagar budaya yang dirawat dengan penuh dedikasi secara mandiri. Tanto menegaskan bahwa seluruh pengelolaan dan pendanaan kompleks ini murni berasal dari pihak yayasan dan bantuan umat.
Kelenteng Tertua di Kota Bandung (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar). |
"Pengelolaannya secara mandiri oleh Yayasan Satya Budhi. Dari zaman dulu sampai saat ini, restorasi dan renovasi pun dikelola penuh oleh yayasan dan umat," tegas Tanto. Dedikasi ini memastikan keberlangsungan Satya Budhi sebagai Cagar Budaya Level A yang tetap tegak berdiri di tengah modernitas.
Setiap malam Imlek, kawasan ini juga menjadi titik kumpul komunitas lintas iman di Bandung. Kehadiran Kelenteng di Kompleks Satya Budhi mempertegas identitas Bandung sebagai kota yang toleran, di mana sejarah masa lalu dan kehidupan modern bersanding dengan rukun.
Simak Video "Video: Kisruh Pembongkaran Cagar Budaya Eks Asrama VOC di Gresik"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)















































