Sebanyak 564 pengungsi berdesakan di GOR Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), sejak longsor menerjang Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda pada Sabtu (24/1/2026).
BNPB menyebut para pengungsi akan meninggalkan lokasi pengungsian dalam dua hari ke depan. Mereka diberikan opsi untuk tinggal di rumah kerabat atau di hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah.
"Dalam waktu satu-dua hari ini, pengungsi akan dipindahkan ke hunian sementara atau diberikan dana tunggu hunian selama dua bulan," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di Desa Pasirlangu, Rabu (28/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dana tunggu hunian untuk setiap kepala keluarga (KK) diberikan sebesar Rp600 ribu per bulan. Namun jika proses pemulihan masih berjalan, waktu tunggu hunian tersebut bisa diperpanjang.
"Bisa dimulai dari Januari, Februari, dan Maret. Apabila sampai Maret rumah masyarakat terdampak yang rusak atau hilang belum selesai dibangun, maka (dana tunggu) akan diperpanjang," ujar Suharyanto.
Pihaknya juga menyiapkan huntara jika warga enggan mengontrak atau tinggal di rumah kerabat. Dalam skemanya, pemerintah daerah menyiapkan lahan, sementara pembangunan hunian dilakukan oleh pemerintah pusat.
"Nilai pembangunannya mencapai Rp25 juta sampai Rp30 juta per huntara. Namun, bisa juga dibuat mirip barak dengan nilai Rp100 juta sampai Rp110 juta. Huntara ini sifatnya sementara, bisa menggunakan lahan fasilitas umum atau meminjam tanah lapang milik masyarakat," kata Suharyanto.
Selama masa tunggu, BNPB terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait penyiapan lahan relokasi. Rumah di lokasi baru tersebut sepenuhnya akan dibangun oleh pemerintah pusat.
"Pemerintah menyiapkan Rp60 juta per rumah. Catatan kami, ada 48 rumah yang terdampak langsung, namun jumlahnya berpotensi bertambah," tutur Suharyanto.
Penentuan titik relokasi saat ini masih menunggu kajian Badan Geologi guna memastikan lokasi baru benar-benar aman dari potensi bencana. Pemerintah daerah berwenang menentukan lokasi tersebut sesuai arahan teknis Badan Geologi.
"Pemkab Bandung Barat harus menyiapkan tanahnya. Baik itu tanah pemda, tanah masyarakat yang dibeli pemda, tanah Perhutani, maupun PTPN. Intinya harus tanah negara yang nantinya dihibahkan kepada masyarakat terdampak," pungkas Suharyanto.
Terkendala Cuaca Buruk, Cuma 2 Body Packs Korban Longsor yang Ditemukan
Sementara itu, hujan tak berhenti mengguyur sejak Rabu (28/1/2026) dini hari. Kabut tebal membuat keadaan menjadi lebih menyulitkan bagi petugas yang melakukan pencarian korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Operasi pencarian korban tertimbun longsor yang menerjang Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, berjalan tak optimal. Tim SAR gabungan cuma bisa menemukan dua body packs dari worksite.
"Cuaca dan visibilitas terbatas sehingga berpengaruh pada pelaksanaan pencarian. Namun di waktu pencarian yang sangat minim, petugas berhasil menemukan 2 body pack," kata Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana saat ditemui, Rabu (28/1/2026).
Dua body pack itu ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Korban pertama ditemukan pada pukul 11.06 WIB di sekitar sektor A2, disusul penemuan korban kedua pada pukul 14.56 WIB di lokasi yang sama.
Berdasarkan data validasi terakhir hingga pukul 16.00 WIB, total korban yang telah berhasil dievakuasi mencapai 53 body pack sejak hari pertama longsor pada Sabtu (24/1/2026).
"Dari total 53 body pack itu, jumlah korban yang masih dalam pencarian tercatat sebanyak 27 jiwa. Mudah-mudahan pencarian besok bisa optimal dan didukung oleh kondisi cuaca," kata Ade.
Potensi bahaya di lokasi longsor disebut masih tinggi, terutama di sektor A2 dan A3 yang memiliki jalur rawan longsor dari mahkota. Untuk sementara, aktivitas pencarian di sektor tersebut sempat dihentikan.
"Kegiatan tim SAR dilakukan secara terbatas dengan tetap mengutamakan keselamatan. Karena kita tahu, situasi cuaca dan visibilitas yang terbatas sejak pagi, berpengaruh pada pelaksanaan operasi," kata Ade Dian.
(orb/orb)
