Terjebak Macet? Kenali Traffic Stress Syndrome dan Cara Mengatasinya

Terjebak Macet? Kenali Traffic Stress Syndrome dan Cara Mengatasinya

Jilan Salsabila - detikJabar
Kamis, 29 Jan 2026 06:30 WIB
Terjebak Macet? Kenali Traffic Stress Syndrome dan Cara Mengatasinya
Macet di Jalan Ahmad Yani Bandung. (Foto: Istimewa/ Jatnika Sadili)
Bandung -

Kemacetan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat urban. Dari jam berangkat hingga pulang kerja atau sekolah, jalanan yang padat membuat durasi perjalanan membengkak dan menguras energi.

TomTom Traffic Index 2025 menempatkan Bandung sebagai kota termacet di Indonesia, sekaligus menduduki peringkat ke-16 dunia. Rata-rata indeks kemacetan di Kota Kembang ini mencapai 64,1%.

Kemacetan kronis berdampak buruk pada emosi, kesehatan, hingga kualitas hidup. Terjebak berjam-jam di tengah kepungan kendaraan, menghirup polusi, hingga menghadapi perilaku agresif pengemudi lain dapat memicu kelelahan mental. Kondisi yang terjadi terus-menerus ini berisiko memicu traffic stress syndrome.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Traffic Stress Syndrome?

Traffic Stress Syndrome (TSS) adalah kondisi kecemasan psikologis yang dialami pengemudi saat terjebak dalam kepadatan lalu lintas yang parah.

Stres akibat kemacetan berdampak sistemik pada pengemudi. Melansir detikHealth, sindrom ini memicu gejala fisik dan mental seperti sakit kepala, kehilangan fokus, emosi yang meledak-ledak, hingga telapak tangan berkeringat.

ADVERTISEMENT

Cara Mengatasi Traffic Stress Syndrome

Berikut adalah 9 langkah sederhana untuk meredam traffic stress syndrome dilansir dari berbagai sumber:

1. Teknik Pernapasan

Teknik pernapasan adalah cara instan meredam stres di tengah macet agar Anda tetap tenang. Praktikkan pernapasan diafragma: tarik napas melalui hidung secara perlahan selama 4 detik, tahan selama 2 detik, lalu buang melalui mulut selama 6 detik. Ulangi beberapa kali hingga merasa rileks.

2. Merencanakan Rute dan Jadwal

Sebelum berangkat, periksa rute melalui aplikasi navigasi. Jika memungkinkan, pilih waktu keberangkatan di luar jam sibuk untuk menghindari puncak kepadatan kendaraan.

3. Istirahat

Istirahat adalah kunci. Jika kelelahan mulai melanda, jangan paksakan mengemudi. Mengutip laman Golfleet, mengemudi berjam-jam menurunkan konsentrasi secara drastis. Berhenti sejenak untuk peregangan atau sekadar menghirup udara segar dapat memulihkan tenaga.

4. Jaga Postur Tubuh

Atur posisi jok, sandaran, dan kaca spion untuk mendapatkan posisi ergonomis. Kenyamanan fisik berbanding lurus dengan stabilitas emosi. Selain itu, gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman saat berkendara.

5. Pola Makan Sehat

Konsumsi makanan bergizi sebelum berkendara dan pastikan tubuh terhidrasi. Kecukupan cairan sangat krusial untuk menjaga fokus dan mencegah kelelahan dini di jalan raya.

6. Work-Life Balance

Terapkan keseimbangan antara waktu bekerja dan istirahat. Gunakan waktu luang untuk aktivitas yang menenangkan. Pikiran yang segar akan lebih tangguh menghadapi tekanan kemacetan.

7. Mendengarkan Musik

Kebisingan jalanan dan suara klakson sering kali memicu sakit kepala. Alihkan stres dengan mendengarkan musik favorit atau instrumen yang lembut untuk menurunkan tensi ketegangan selama terjebak macet.

8. Berbincang dengan Penumpang

Jika tidak berkendara sendirian, manfaatkan waktu macet untuk berbincang. Diskusi ringan atau permainan kata dapat mengalihkan pikiran dari rasa jenuh dan membuat waktu terasa berlalu lebih cepat.

9. Siapkan Camilan

Sediakan camilan sehat di dalam kendaraan. Rasa lapar saat terjebak macet dapat memperburuk suasana hati. Camilan menjadi solusi praktis untuk menjaga energi dan menjaga emosi tetap stabil.

Traffic stress syndrome bisa menyerang siapa saja yang akrab dengan kemacetan. Jika dibiarkan, kondisi ini akan merusak suasana hati hingga kesehatan fisik. Namun, dengan pengelolaan yang tepat, perjalanan yang padat tetap bisa dihadapi dengan pikiran yang tenang.

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads