Segumpal tanah liat basah bisa disulap menjadi gelas cantik untuk menyeruput kopi atau teh. Namun, di balik keindahan bentuknya, tersimpan proses panjang yang menuntut kesabaran, fokus, dan teknik yang presisi.
Pottery class atau kelas keramik kini bukan sekadar hobi, melainkan aktivitas yang dinilai mampu mendamaikan pikiran, atau populer disebut healing. Kali ini, detikJabar berkesempatan mencoba langsung pembuatan gelas di studio Buns Ceramics, Bandung. Prosesnya menerapkan teknik putar (wheel throwing) memakai mesin khusus. Bagi pemula, tantangannya bukan hanya imajinasi, melainkan cara mengendalikan tanah liat di atas mesin yang terus berputar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelas dipandu oleh Jaenal, instruktur keramik Buns Ceramics. Sebelum menyentuh mesin, langkah pertama adalah persiapan bahan baku. Setiap peserta mendapat jatah 750 gram tanah liat, jumlah yang pas untuk membuat satu gelas besar beserta dekorasi atau pegangannya (handle).
Di samping mesin, tersedia beberapa alat bantu. Ada spons untuk menyerap kelebihan air dan menghaluskan permukaan, serta wooden rib (alat kayu bersisi tajam) untuk merapikan dinding luar gelas. Selain itu, terdapat kotelin (cutting tool) untuk memotong kelebihan tanah di bagian bawah, serta kawat pemotong untuk memisahkan dasar gelas dari piringan mesin di tahap akhir.
Teknik Pertama: Wedging
Tanah yang disiapkan instruktur tidak bisa langsung dibentuk. Peserta harus melakukan wedging atau menguleni tanah. Tujuannya bukan sekadar melembutkan, melainkan memadatkan dan membuang gelembung udara yang terperangkap di dalam tanah. Jaenal mewanti-wanti risiko jika tahap ini dilewatkan. "Jika masih ada udara, tanah berisiko pecah saat proses pembakaran," jelasnya.
Saat melakukan wedging, tangan tidak boleh terlalu basah agar tanah tidak lembek dan lengket. Apabila peserta ingin membuat ornamen tambahan seperti bintang atau pita, disarankan memisahkan sedikit tanah di awal agar dekorasi tersebut tetap kering dan mudah dibentuk.
Saat duduk di depan mesin, posisi tubuh memegang peranan kunci. Siku harus terkunci rapat pada paha atau pinggul demi menjaga kestabilan tangan agar tidak goyang mengikuti putaran mesin. Kecepatan mesin dikendalikan melalui pedal kaki-mirip mesin jahit-yang harus dijaga agar tetap stabil.
Teknik Kedua: Centering
Jaenal menyebut centering sebagai tahap tersulit bagi pemula. Ini adalah proses menempatkan tanah liat tepat di titik tengah piringan. "Kalau tanahnya masih goyang atau geol, berarti belum center. Makanya harus dibuat stabil dulu," ungkap Jaenal. Teknik ini melibatkan penekanan tanah menggunakan kedua tangan yang basah; tangan kiri menahan dari samping, sementara tangan kanan menekan dari atas.
Teknik Ketiga: Coning
Setelah tanah stabil di tengah, proses berlanjut ke teknik coning. Peserta harus menekan tanah dari samping bawah hingga naik membentuk kerucut, lalu menekannya kembali ke bawah. Gerakan naik-turun ini bertujuan memadatkan partikel tanah liat secara maksimal.
Teknik Keempat: Open Up dan Pulling Up
Tahap open up dilakukan untuk menciptakan rongga gelas. Ibu jari menekan tepat di titik tengah hingga kedalaman tertentu. Di sini, kewaspadaan diperlukan agar tekanan tidak menembus dasar piringan karena gelas membutuhkan alas yang cukup tebal. Setelah lubang terbentuk, jempol digeser ke arah samping untuk melebarkan dasar gelas dengan jari kelingking sebagai tumpuan agar tetap stabil.
Selanjutnya adalah pulling up, yakni mengubah gumpalan tanah menjadi silinder tinggi. Teknik ini membutuhkan koordinasi dua tangan dan bantuan spons basah. Tangan kiri berada di bagian dalam gelas, sementara tangan kanan memegang spons di bagian luar. Keduanya bergerak naik bersamaan secara perlahan.
"Jaga kecepatan, jangan kaku, ikuti putaran mesin," pesan Jaenal. Namun, jangan terlalu lama memproses satu titik karena dinding yang terlalu tipis akan mudah roboh (collapsing).
Setelah bentuk silinder tercapai, peserta bisa berkreasi. Teknik collaring (mencekik leher gelas) digunakan untuk mengecilkan bagian atas, sementara tekanan dari dalam diperkuat jika ingin bentuk perut gelas yang gembung. Jika bibir gelas tidak rata, Jaenal menggunakan kawat untuk memotong bagian atas hingga simetris sempurna.
Teknik Terakhir: Penyempurnaan Bentuk
Langkah pamungkas adalah menggunakan wooden rib untuk meluruskan dinding luar dan cutting tool untuk merapikan kaki gelas. Setelah itu, gelas dikeringkan menggunakan alat pengering hingga mencapai kondisi setengah kering. Di tahap inilah dekorasi atau handle bisa dipasang menggunakan sisa tanah yang telah dipisahkan sebelumnya.
Setelah dekorasi rampung, gelas dapat langsung diwarnai dengan cat khusus. Namun, karya ini tidak bisa langsung dibawa pulang karena harus melewati proses pengeringan sempurna dan pembakaran di dalam tungku. Hasil akhirnya dapat diambil atau dikirim dengan estimasi waktu 2-3 minggu.
Pengalaman membuat gelas keramik mengajarkan bahwa di balik benda sehari-hari yang sederhana, terdapat proses rumit yang membutuhkan ketenangan. Bagi detikers yang tertarik mencoba, pottery class ini diselenggarakan oleh Buns Ceramics yang berlokasi di Gang Babakan Asih, Bojongloa Kaler, Kota Bandung.
(sud/sud)










































