Salah Tuduh Aparat dan Trauma Keluarga Sudrajat Penjual Es Kue

Salah Tuduh Aparat dan Trauma Keluarga Sudrajat Penjual Es Kue

Andry Haryanto - detikJabar
Rabu, 28 Jan 2026 11:30 WIB
Salah Tuduh Aparat dan Trauma Keluarga Sudrajat Penjual Es Kue
Sudrajat, pedagang es kue yang dituduh dagangannya mengandung spons. (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

Sudrajat tak pernah membayangkan rutinitas yang ia jalani puluhan tahun akan berubah menjadi tuduhan yang menyesakkan dada. Penjual es keliling yang saban hari menyusuri jalanan Jakarta itu sempat dituding menjual es gabus berbahan spons kepada anak-anak. Tuduhan yang beredar cepat, menyisakan ketakutan bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga anak-anaknya.

Di tengah pusaran kabar itu, muncul permintaan maaf dari aparat yang yang menyebarkan tudingan dan bahkan diduga menyiksa si penjual es keliling tersebut. Namun bagi Sudrajat dan keluarganya, persoalan tak sesederhana kata maaf.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cukupkah keluarga menerima permintaan maaf yang disampaikan para penyebar fitnah tersebut?

Andi (19), anak kedua Sudrajat, dengan nada tertahan dan terbata-bata menjawab, "Kesel gitu, apalagi sama itu..." dia tidak melanjutkan kalimatnya.

ADVERTISEMENT

"Enggak usah dikata lagi, rasa takut mah masih ada aja. Apalagi kami orang kecil," Andi melanjutkan

Andi adalah satu dari lima bersaudara. Saban hari ia bekerja di pasar Citayam untuk membantu ekonomi keluarga sebagai kuli angkut. Pendidikan yang sempat ia jalani harus terhenti karena biaya.

"Mentok biaya. Terakhir yang sekolah (anak) yang kelima aja, sekarang kelas dua," katanya.

Ayahnya, Sudrajat, telah lama berjualan es. Bahkan sejak sebelum Andi lahir. Dari kotak es itulah dapur keluarga mereka mengepul selama hampir tiga dekade. Tuduhan es gabus itu sempat membuat Sudrajat takut melangkah keluar rumah. Bukan karena merasa bersalah, tetapi karena khawatir disalahpahami orang di jalan.

Kini, rasa cemas itu perlahan pudar. Dukungan dari banyak pihak membuat Sudrajat dan keluarga harus terus yakin untuk menyambung hidup dari es gabus.

"Seneng banget, tidak ada takut lagi dan bapak rencananya retap jualan es," kata Andi yang saat ini berada di Bandung untuk bertemu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.

Awal Mula Fitnah Tersebar

Kejadian bermula ketika Aparat TNI dan Polri mendatangi Sudrajat, seorang pedagang es kue jadul di Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026). Aparat polisi dan tentara tersebut mengaku bertindak setelah adanya laporan masyarakat yang mencurigai es yang dijual mengandung spons atau bahan berbahaya.

Tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah, aparat yang menjalankan respons awal terhadap laporan itu kemudian memeriksa dagangan Sudrajat dan merekam video yang memperlihatkan mereka memegang serta mencurigai es tersebut berbahan spons.

Dalam keterangannya kepada wartawan, aparat kemudian mengaku menyimpulkan terlalu cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan dari Laboratorium Forensik (Labfor). Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian memeriksak sampel es di laboratorium. Hasilnya, es tersebut aman dan layak dikonsumsi, tanpa temuan bahan berbahaya atau spons seperti yang dituduhkan awalnya.

Setelah hasil uji lab ini keluar, aparat yang terlibat, yakni Babinsa Kelurahan Utan Panjang dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada Sudrajat dan masyarakat atas kegaduhan yang disebabkan video viral tersebut.

Permintaan Maaf

Sementara itu, aparat TNI dan Polri yang mengamankan Sudrajat meminta maaf. Melansir detikNews, pengamanan Sudrajat semata untuk memastikan keamanan masyarakat.

Permintaan maaf itu disampaikan Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda Hari Purnomo dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan Mulyadi di Aula Mako Polsek Kemayoran pada Senin (26/1) malam.

"Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es hunkue yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial," ujar Aiptu Ikhwan dalam keterangannya yang diterima wartawan.

Ikhwan menyampaikan tindakan keduanya itu sebagai respons cepat terhadap laporan masyarakat yang khawatir adanya dugaan makanan berbahaya di lingkungan mereka, dalam hak ini pihak RW 05 Kelurahan Rawa Panjang. Hal itu juga untuk memastikan agar masyarakat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kedua, niat kami semata-mata untuk mengedukasi, agar tidak ada konsumen yang dirugikan dan memastikan masyarakat merasa aman dalam membeli makanan di lingkungannya. Dalam situasi tersebut, kami hanya berusaha menjalankan tugas dengan cepat untuk mencegah potensi bahaya," jelasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads