Tanah masih basah oleh guyuran hujan yang tak kunjung reda. Lumpur tebal melekat di sepatu, menghambat setiap langkah. Pakaian para petugas basah kuyup, tubuh menggigil diterpa dingin. Berat. Begitulah kondisi yang dihadapi Tim SAR Gabungan dan para relawan saat melanjutkan pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Meski dihadapkan pada medan yang ekstrem dan cuaca yang belum bersahabat, semangat para personel tak surut. Mereka terus bekerja tanpa lelah, didorong harapan dari puluhan keluarga korban yang menanti kabar sanak saudara mereka yang hingga kini masih tertimbun material longsor.
Keluarga korban tidak diperkenankan ikut melakukan pencarian demi alasan keselamatan. Dari kejauhan, mereka hanya bisa berdiri di tebing dan pinggiran lokasi longsor, memanjatkan doa agar proses pencarian berjalan lancar dan para petugas diberikan keselamatan, serta jasad anggota keluarga mereka segera ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam operasi pencarian ini, Tim SAR Gabungan menerapkan berbagai metode. Mulai dari pencarian manual menggunakan cangkul dan peralatan sederhana, pengerahan alat berat untuk mengeruk material longsoran, hingga penggunaan drone guna memantau kondisi lokasi kejadian dari udara.
Tak hanya itu, anjing pelacak dari Unit K-9 Ditsamapta Polda Jawa Barat juga diterjunkan ke lokasi. Di tengah tanah yang masih labil dan basah, dua ekor anjing pelacak dengan kemampuan penciuman tinggi membantu tim dalam mendeteksi keberadaan korban.
Kedua anjing tersebut merupakan jenis Belgian Malinois berwarna hitam dan cokelat, bernama Boyka dan Aigo. Anjing pelacak berusia dua dan lima tahun itu didampingi oleh keeper masing-masing, yang merupakan personel terlatih dari Tim K-9 Ditsamapta Polda Jawa Barat.
"Upaya pencarian korban terus dilakukan secara intensif. Untuk mempercepat proses evakuasi, Tim K-9 Ditsamapta Polda Jawa Barat turut diterjunkan ke lokasi bencana. Anjing pelacak 9 yang didampingi oleh personel terlatih melakukan penyisiran di area longsoran yang sulit dijangkau alat berat. Kehadiran K-9 sangat membantu tim SAR gabungan dalam mendeteksi keberadaan korban yang diduga masih tertimbun material tanah, batu, dan puing-puing," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan, Rabu (28/1/2026).
Hendra menambahkan, pengerahan anjing pelacak merupakan bagian dari komitmen Polda Jawa Barat dalam memberikan respons cepat dan maksimal terhadap setiap bencana alam yang terjadi di wilayah Jawa Barat. Meski demikian, faktor keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan operasi.
"Proses pencarian dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi cuaca serta stabilitas tanah yang masih berpotensi mengalami longsor susulan. Tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, BPBD, Basarnas, relawan, serta masyarakat setempat terus bersinergi demi menemukan korban dan membantu warga terdampak," jelasnya.
Polda Jawa Barat juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta mengutamakan keselamatan diri, mengingat kondisi wilayah masih tergolong rawan bencana.
Dalam operasi SAR ini, Polda Jabar turut menerjunkan satu ekor anjing K-9 lainnya dari jenis Labrador Retriever. Selain itu, sejumlah anjing pelacak juga dikerahkan oleh polres jajaran Polda Jabar, TNI, dan relawan. Secara keseluruhan, jumlah anjing pelacak yang terlibat dalam pencarian dapat mencapai tujuh ekor.
Namun demikian, anjing-anjing tersebut tidak dapat diterjunkan secara bersamaan. Mereka bekerja secara bergantian karena setiap anjing pelacak hanya mampu bertugas maksimal selama dua jam sebelum harus beristirahat.
