Sebuah video yang menampilkan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) berjalan dengan kondisi kaki pincang di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, viral di media sosial. Rekaman tersebut memicu keprihatinan publik karena satwa langka itu diduga menjadi korban aktivitas perburuan liar.
Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard Triwinarta Wahyu Wiryanta, membenarkan peristiwa dalam video tersebut. Ia menyebutkan, rekaman macan tutul dengan kaki terluka itu berasal dari kamera trap yang dipasang oleh tim ranger SCF saat melakukan penelitian di wilayah hutan Pegunungan Sanggabuana.
Baca juga: Jejak 'Sang Naga' di Sanggabuana |
Bernard menuturkan, peristiwa tersebut diduga terjadi pada 5 Oktober 2025. Kamera trap yang merekam macan tutul itu dipasang di bagian timur lereng Gunung Sanggabuana. Dalam potongan video yang sama, juga terlihat beberapa orang yang diduga pemburu liar bersama sejumlah anjing melintas di area tersebut dan berupaya merusak kamera trap.
"Iya, video itu kami dapatkan setelah kami mengambil data yang kami pasang di kamera trap beberapa bulan lalu, itu di sekitar wilayah timur Pegunungan Sanggabuana, bahkan beberapa pemburu liar terlihat melintas dan mencoba merusak kamera trap yang kami pasang," kata Bernard saat dihubungi detikJabar, Minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan, SCF saat ini tengah menempuh langkah hukum terkait dugaan perburuan liar tersebut. Langkah itu diambil setelah pihaknya berdiskusi dengan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dalam kunjungan ke Resimen Latihan Tempur (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Kabupaten Karawang, beberapa hari lalu.
"Kami juga mengambil upaya hukum, setelah kemarin berdiskusi dengan bapak Kasad di Menlatpur, karena beliau juga merupakan bapak asuh satwa langka yang berada di wilayah hutan Sanggabuana," kata dia.
Bernard menduga, kondisi pincang yang dialami macan tutul jawa tersebut kuat berkaitan dengan aktivitas pemburu liar. Dugaan itu diperkuat dengan temuan para pemburu yang sebelumnya terekam melintas dan merusak kamera trap yang dipasang tim SCF.
"Peristiwa ini kami duga ulah dari pemburu liar, yang sebelumnya juga sempat terlihat melintas dan merusak kamera trap yang kami pasang. Mengingat, tahun lalu kami juga sempat memproses hukum beberapa pemburu yang menjual satwa langka di wilayah Bogor, mungkin terindikasi bahwa pemburu ini merupakan orang yang belum terjaring dari proses hukum sebelumnya," paparnya.
Selain berkoordinasi dengan Kasad, Bernard mengungkapkan pihaknya juga telah melaporkan peristiwa tersebut kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mendorong Polda Jawa Barat untuk mengawal proses hukum kasus dugaan perburuan satwa dilindungi itu.
"Kami juga telah melapor kepada pak Gubernur, sebelumnya beliau juga aktif membela hak lingkungan di Pegunungan Sanggabuana, beliau memerintahkan Polda Jabar untuk mengawal hal tersebut," ucap Bernard.
Simak Video "Berendam Nikmat di Kolam Air Panas ala Jepang di Hotel di Karawang"
(dir/dir)