Riuh Pasar Kosambi yang Kini Tinggal Cerita

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 26 Jan 2026 07:30 WIB
Suasana terkini Pasar Kosambi, Kota Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Ramai. Itulah satu kata yang masih melekat kuat dalam ingatan Oleh (68) saat mengenang Pasar Kosambi, Kota Bandung, pada rentang tahun 1970 hingga awal 2000-an.

Penjual buah nangka itu bercerita, suasana pasar pada masa itu jauh berbeda dibandingkan sekarang. Jika hari ini pengunjung terasa berkurang, dahulu Pasar Kosambi nyaris tak pernah sepi.

Kepada detikJabar, Oleh mengisahkan awal mula dirinya berjualan di pasar yang telah berdiri sejak era Hindia Belanda tersebut. Warga asal Ciamis yang kini menetap di kawasan Cintaasih, Laswi, Kota Bandung, itu mengaku mulai berdagang karena diajak pamannya, Utar, yang kini telah meninggal dunia.

"Jualan tahun 1970, dulu jualan buah-buahan. Jualan diajak paman, namanya Utar," kata Oleh kepada detikJabar belum lama ini.

Oleh menuturkan, dirinya merantau ke Bandung pada usia belasan tahun dengan mengikuti sang paman yang kerap membawa hasil bumi dari Ciamis untuk dijual di Kota Kembang. Kala itu, perjalanan menuju Bandung masih sangat sederhana.

"Dulu ke Bandung dari Ciamis suka bawa kelapa, kelapa juga disimpan di atas bus, dulu naik Suburban Chevrolet, dulu ongkosnya dari Ciamis ke Bandung cuma seribu, pas usia belasan tahun pokoknya," ungkapnya.

Sebelum menetap sebagai penjual buah nangka, Oleh menjajakan berbagai jenis buah. Cara berjualannya pun jauh berbeda dibandingkan sekarang. Ia mengenang masa ketika buah-buahan belum dijual berdasarkan timbangan.

"Buah juga dijual perbiji karena dulu enggak ada timbangan, terus dibungkus pakai keranjang bambu karena belum ada kantong kresek," tuturnya.

Hingga kini, Oleh tetap memilih berjualan menggunakan gerobak roda. Baginya, cara tersebut lebih fleksibel dan memungkinkan dirinya tetap berada di pintu masuk pasar, seperti yang telah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu.

"Sejak dulu jualan gini, di pintu masuk pasar," ujarnya.

Oleh (68) pedagang buah nangka di Pasar Kosambi Foto: Wisma Putra/detikJabar

Menurut Oleh, perbedaan Pasar Kosambi dulu dan sekarang terletak pada bentuk bangunan dan penataan. Jika dahulu pedagang banyak berjualan hanya beralaskan plastik atau terpal, kini mayoritas telah menempati kios-kios permanen.
Namun, perubahan itu juga diiringi dengan hilangnya banyak hal yang dulu menjadi bagian dari denyut kehidupan Pasar Kosambi.

"Dulu di belakang pasar ada pabrik pacul, ada pohon ki hujan di belakang dekat masjid, sudah tidak ada," katanya.

"Lalu Sri Murni, tempat hiburan masyarakat, wayang ewog hilang. Lalu ada Restoran Si Botram sudah tidak ada dan didepan ada Pos Polisi," sambungnya.

Saking lamanya berdagang di Pasar Kosambi, Oleh bahkan masih mengingat nama-nama polisi yang dahulu berjaga di pos pasar tersebut, di antaranya Muhtar, Unep, Uyu, dan Budiman.

Ia menilai, ramainya Pasar Kosambi di masa lalu juga disebabkan minimnya persaingan. Berbeda dengan kondisi saat ini, ketika pasar tradisional harus berbagi pelanggan dengan supermarket dan minimarket.

"Beda, ramai dulu, apalagi sekarang jualan menurun. Dulu enggak ada supermarket ramai, warga langsung ke pasar belanjanya, bahkan saya jualann juga enggak sampai sore karena siang juga udah habis," jelasnya.




(wip/dir)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork