Matahari sore menyelinap di antara rimbun dedaunan, menciptakan pendar cahaya yang estetik. Di sebuah taman bacaan yang jauh dari kebisingan klakson kendaraan, suasana tampak kontras, tenang, teduh, dan intim. Di setiap sudut, terlihat beberapa pengunjung asyik dengan dunianya masing-masing.
Di Taman Baca Pelagia, Kota Bandung , Bale (23) dan Daffa (21) tampak menikmati atmosfer tersebut. Bagi mereka, taman bacaan ini bukan sekedar deretan rak kayu, melainkan ruang pelarian yang ramah bagi siapa saja.
Melampaui Sekat Introvert dan Ekstrovert
Selama ini, muncul stigma bahwa kegiatan membaca buku adalah wilayah kaum introvert semata. Namun, di mata Bale dan Daffa, literasi adalah dunia inklusif tanpa label sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bale, yang secara terbuka mengaku sebagai seorang ekstrovert, menepis anggapan bahwa orang yang gemar bicara tidak suka membaca. "Nggak sih, soalnya saya juga termasuk yang ekstrovert, banyak bicara, banyak interaksi sosial, dan senang di tempat ramai. Menurut saya, baca buku itu tidak ada hubungannya dengan introvert. Baca buku itu hobi, siapa saja bisa. Harusnya kesadaran membaca buku itu didukung, bukan malah dilabeli macam-macam," tegas Bale saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.
Daffa, yang memiliki kepribadian berseberangan dengan Bale, mengamini hal tersebut. "Ya saya sendiri introvert, tapi saya setuju. Nggak semua orang introvert itu baca buku, dan orang ekstrovert atau ambivert pun bisa baca buku. Lebih bagus lagi kalau semua orang rajin membaca, karena ilmu itu harus dicari," tambahnya.
Bagi kedua pemuda ini, bergaul dan membaca adalah dua hal penting yang saling melengkapi dengan proporsi tersendiri. Bergaul adalah cara mereka berinteraksi dengan sesama, sedangkan membaca merupakan cara mereka menghubungkan diri dengan beragam pemikiran.
Bale, yang sejak kecil akrab dengan buku dan koran, melihat literasi sebagai kompas untuk melangkah ke depan. Ia lebih banyak mendalami buku-buku sejarah untuk memetik nilai-nilai berharga.
"Mungkin lewat membaca, cara berpikir kita ke depannya jadi lebih tertata. Saya sendiri suka baca sejarah. Kita pegang nilai-nilai dari masa lalu supaya hal-hal kelam yang pernah terjadi jangan sampai terulang," kata Bale.
Sementara bagi Daffa, meski intensitas membacanya tidak setinggi Bale, ia tetap memandang buku sebagai sarana perbaikan diri. "Kalau saya pribadi, baca buku itu bisa membuat diri kita jadi lebih baik, setidaknya dari cara pandang terhadap sesuatu," ungkap Daffa.
Taman Bacaan: Ruang Bersantai yang Menenangkan
Selain koleksi buku, suasana yang tenang menjadi alasan utama Bale dan Daffa betah berlama-lama di sana, baik bagi kaum ambivert maupun mereka yang sekadar mencari ketenangan.
"Tempatnya cocok banget, tidak terlalu di pinggir jalan jadi tidak berisik. Tenang dan enak untuk ditempati," ujar Bale.
Daffa pun menambahkan bahwa pengunjung bisa membaca tanpa harus merasa kaku. "Ya sama sih, cocok. Tempatnya enak, tidak berisik, dan suasananya dapat banget. Apalagi kita bisa baca sambil bersantai makan atau minum di sini. Jadi tidak membosankan," pungkas Daffa.
Simak Video "Video Mengawali 2026 dengan Baca Buku? Ini Pilihan Judul untuk Kamu"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)











































