Napas Tipis dan Perjuangan Hidup dari Perut Pongkor Bogor

Andry Haryanto - detikJabar
Senin, 19 Jan 2026 10:00 WIB
Suasana di pertambangan Pongkor, Bogor (Foto: Istimewa)
Bogor -

Siang itu para penambang sedang istirahat ketika asap datang tiba-tiba. Udara berubah pekat, dada sesak, mata perih.

"Teman-teman langsung pingsan," kata seorang pekerja yang selamat, namanya dirahasiakan.

Kepada detikJabar, Minggu (18/1/2026) malam, dia menceritakan detik-detik dramatis dan masih terlihat duka kepergian teman-temannya. Peristiwa tersebut terjadi Selasa 13 Januari 2026, dini hari.

Pemuda Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor itu menuturkan, ia berlari di lubang tambang yang digalinya secara tradisional untuk mencari celah udara segar ketika asap pekat muncul. Sebelas orang teman sesama petambang tergeletak tak sadar. Dua meninggal, lima selamat. Angka itu masih menghantui kepalanya.

Baginya, tambang adalah pilihan terakhir. Tahun 2020 ia memulung plastik di Bekasi di Bantar Gebang, Bekasi. Peristiwa longsor yang kerap terjadi membuatnya tak tentu untuk mencari rezeki di gunungan pembuangan akhir sampah di sana.

Akhirnya, dia memilih pulang ke rumahnya di Bogor. Beberapa warganya terlihat kerap membawa peralatan tambang seperti cangkul, sekop, dan pahat. Dia pun memutuskan untuk menjadi petambang emas di kawasan Gunung Pongkor.

"Cuma berharap ada rezeki buat keluarga," ujarnya.

Di Pongkor ia bekerja dengan alat pahat sendiri. Bila beruntung mendapatkan emas, ia dapat menjual ke penadah sebesar Rp 500 atau 600 ribu. Sekali lagi, itu pun kalau beruntung. Kalau tidak, dia akan terus menggali atau mencari lubang dengan kedalaman yang tidak bisa dia prediksi.

Rasa takut selalu ada, tetapi kebutuhan lebih keras. Setiap hari ia turun-masuk ke perut bumi bukan untuk kaya, melainkan sekadar menyambung hidup. Bagi mereka, pilihan sempit itu sering menjadi satu-satunya jalan mencari nafkah yang tersisa.

"Kerja karena keterpaksaan," katanya.

Pria berusia 33 tahun ini bukan tidak mau beralih pekerjaan lain. Namun keterbatasan keahlian dan modal usaha terkadang membuatnya tidak bisa memilih untuk menjadi pekerja tambang dengan peralatan dan pengetahuan seadanya.

"Pengennya garap tani. Kalau ada yang nyuruh (buruh tani) juga enggak apa-apa," ujarnya.

Legislator Jawa Barat dari PDIP, Doni Maradona Hutabarat, melalui sambungan telepon melontarkan kritik tajam terhadap lemahnya kehadiran negara di kawasan tambang Pongkor, Kabupaten Bogor. Menurutnya, aktivitas usaha sebesar tambang emas seharusnya membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, bukan justru menyisakan persoalan sosial.

"Kalau ada satu BUMN, apalagi menghasilkan emas, harusnya memikirkan warga sekitar. Dampak baik itu sederhana, warga bisa ikut bekerja, terakomodir, dan infrastruktur diperbaiki. Tapi nyatanya infrastruktur tidak dibangun," tegas legislator Dapil Kabupaten Bogor ini.

Namun kenyataannya, kata dia, banyak warga asli justru tidak terserap dalam aktivitas ekonomi formal. Mereka akhirnya mencari jalan sendiri demi bertahan hidup.

"Orang asli tidak diterima. Mereka butuh makan, akhirnya terpaksa cari nafkah dengan cara-cara berisiko," ujarnya.

Donni menilai persoalan ini tidak akan pernah selesai jika pemerintah pusat dan perusahaan tidak membuka ruang solusi yang jelas. Ia mengingatkan upaya yang pernah dilakukan untuk membentuk Koperasi Emas Pongkor sebagai jalan tengah.

"Kita sudah sempat perjuangkan koperasi emas Pongkor. Sempat berjalan setahun, tapi perpanjangan izinnya tidak ditindaklanjuti pihak ESDM. Akhirnya berhenti begitu saja," katanya.

Menurut Donni, kegagalan itu menunjukkan tidak adanya keberpihakan kebijakan kepada warga lokal.

Ia mengakui bahwa pengelolaan tambang memang harus melalui prosedur ketat karena berkaitan dengan lingkungan dan risiko tinggi.

"Kebijakan ada di kementerian pusat, itu memang kewenangannya. Tapi bukan berarti negara boleh tutup mata pada nasib masyarakat sekitar," ujarnya.

Setiap tahun daerah menerima dana bagi hasil dari aktivitas tambang. Namun bagi Donni, persoalannya bukan sekadar angka transfer.

"Ini bukan soal dana. Ini soal bagaimana negara hadir. Kalau kebijakan di kabupaten dibekukan dan warga tetap tak dapat solusi, masalah akan terus berulang," katanya.



Simak Video "Video Momen Polisi Gerebek Tambang Emas Ilegal di Madina, Sempat Diadang 12 Pria"


(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork