4 Fakta Unik Blue Pit Viper, Ular Endemik NTT yang Viral di China

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 18 Jan 2026 08:00 WIB
Blue Pit Viper di Zootopia 2 (Foto: People)
Bandung -

Orang-orang di China sedang gandrung 'memburu' dan memelihara ular warna biru pucat/turkuas yang merupakan ular endemik Indonesia. Gara-garanya, Blue Pit Viper itu muncul di film animasi besutan Disney, Zootopia 2.

Dikutip dari detikInet, karakter baru bernama Gary De'Snake yang disuarakan oleh aktor pemenang Oscar, Ke Huy Quan digambarkan sangat antusias dan bertanggung jawab, sehingga berhasil menghapus citra 'menyeramkan' pada reptil.

Gary De'Snake adalah mimesis (peniruan/terinspirasi oleh) Blue Pit Viper. Inilah ular biru asli nusantara yang pesonanya kini mendunia. Selain biru, 'insularis' juga punya warna kulit lain, seperti hijau bahkan kuning.

Tesis magister oleh Bagus Priambodo berjudul 'Phylogeography Study of Asian Pit Vipers in Indonesia Using Mitochondrial Genes (16S rRNA & ND4) and Nuclear Genes (7IβFIB & 3ITBP)' (2018) mengulas tentang persebaran dan warna ular pit viper itu.

"An interesthing phenomenon in Cryptelytrops insularis called islands pitviper. Among Asian pit vipers species, this species has more body color variations and corresponding to their spesific distribution. The common colour was green which distributed from Java to Lesser Sunda. Blue form only can be found in Lesser Sunda and yellow form can be found only in Wetar Island (Marlon, 2014)."

(Suatu fenomena menarik pada Cryptelytrops insularis disebut ular berbisa pulau. Di antara spesies ular berbisa Asia, spesies ini memiliki lebih banyak variasi warna tubuh dan sesuai dengan sebaran spesifiknya. Warna umum adalah hijau yang tersebar dari Jawa hingga Sunda Kecil. Bentuk biru hanya dapat ditemukan di Sunda Kecil dan bentuk kuning hanya dapat ditemukan di Pulau Wetar (Marlon, 2014).)

Profil Ular Blue Pit Viper

Ular ini tampaknya punya banyak nama. Selain merujuk pada nama ilmiah Cryptelytrops insularis, juga pencarian di internet dengan memasukkan frasa Trimeresurus insularis, merujuk pada ular yang sama dari daerah yang sama.

Blue Pit Viver, dinamakan juga Sunda Pit Viper atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai Ular Bangkai Laut adalah salah satu pemangsa paling ikonik di wilayah Indonesia Timur. Dengan warna yang eksotis dan tatapan tajam, ular ini menjadi subjek penting dalam studi filogeografi di kawasan Wallacea. Berikut ini profil ular biru tersebut dikutip dari laman Ular Asli Indonesia:

Klasifikasi Ilmiah

  • Suku: Viperidae (Viper)
  • Anak Suku: Crotalinae (Viper Berlubang/Pit Viper)
  • Marga: Trimeresurus
  • Spesies: Trimeresurus insularis
  • Panjang Maksimum: 93 cm

Deskripsi Fisik

  • Warna Tubuh: Umumnya berwarna hijau terang atau zaitun. Namun, pada populasi tertentu (seperti di Pulau Komodo dan Flores), ditemukan individu dengan warna biru pucat/turkuas yang menakjubkan.
  • Detail Tubuh: Terdapat belang-belang gelap di bagian atas. Bagian perut (bawah) berwarna hijau-kekuningan, putih-kehijauan, atau biru muda.
    Ciri Khas: Ekor bagian ujung berwarna merah (prehensile tail) dan mata berwarna cokelat atau merah.

Habitat

  • Distribusi Ketinggian: Menghuni hutan hingga ketinggian 880 m dpl.
  • Gaya Hidup: Bersifat Arboreal (hidup di pohon) hingga ketinggian 15 meter di atas tanah.
  • Aktivitas: Nokturnal (aktif pada malam hari).
  • Reproduksi: Ovovivipar (melahirkan). Sekali melahirkan menghasilkan 11-17 individu muda dengan ukuran 14-19 cm.

Ekologi

  • Mangsa Dewasa: Burung, tikus, dan tikus pohon.
  • Mangsa Muda: Kodok, cicak, dan kadal.
  • Kontribusi: Menjaga keseimbangan populasi vertebrata kecil di hutan-hutan tropis kering.

Persebaran Geografis

Ular ini memiliki sebaran yang luas di wilayah Lesser Sunda dan sekitarnya seperti Bali, Jawa (bagian timur), Lombok, Sumbawa, Sumba, Komodo, Rinca, Padar, Flores, Adonara, Alor, Roti, Timor, Romang, dan Wetar. Juga di mancanegara: Timor-Leste.

Interaksi dengan Manusia

Tingkat Bahaya: Berbisa tinggi dan berbahaya. Meski bisanya dianggap tidak sekuat beberapa jenis viper lainnya (setara dengan Trimeresurus albolabris), gigitannya tetap memerlukan penanganan medis segera karena racun hemotoksiknya.

Ancaman: Sering dibunuh oleh warga lokal karena ketakutan dan potensi bahaya. Selain itu, keindahan warnanya membuat ular ini sering muncul dalam perdagangan hewan ilegal.

Status Konservasi: Saat ini tidak memiliki masalah konservasi kritis di Indonesia, namun pengawasan terhadap populasinya tetap penting dilakukan.




(iqk/iqk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork