Misteri geometri yang membingungkan para pakar selama hampir enam dekade, 'Moving Sofa Problem' (Masalah Sofa Bergerak) akhirnya terpecahkan oleh peneliti dari Korea Selatan.
Adalah Baek Jin-eon, seorang peneliti muda berusia 31 tahun, yang berhasil memecahkan teka-teki tersebut. Berkat dedikasinya, majalah bergengsi Scientific American menobatkan temuan ini sebagai salah satu dari 10 Terobosan Matematika Teratas Tahun 2025.
Apa Itu Moving Sofa Problem?
Diajukan pertama kali oleh Leo Moser pada tahun 1966, pertanyaan ini terdengar sangat sederhana namun sangat sulit dibuktikan secara matematis:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berapa luas maksimum bentuk dua dimensi yang dapat melewati koridor berbentuk L dengan lebar satu meter?"
Masalah ini populer karena siapa pun yang pernah mencoba memindahkan furnitur di apartemen sempit pasti bisa merasakannya. Secara matematis, para peneliti mencari angka luas yang disebut sebagai Konstanta Sofa.
Selama puluhan tahun, para ahli hanya bisa menebak-nebak. Pada tahun 1992, Joseph Gerver mengusulkan sebuah bentuk melengkung menyerupai "telepon genggam lama" dengan luas sekitar 2,2195 meter persegi. Namun, selama 32 tahun berikutnya, tidak ada yang bisa membuktikan apakah ada bentuk lain yang lebih besar dari itu.
Butuh Waktu 7 Tahun
Baek Jin-eon, yang kini meneliti di June E Huh Center for Mathematical Challenges, menghabiskan waktu tujuh tahun untuk menjawab tantangan ini. Berbeda dengan peneliti sebelumnya yang menggunakan simulasi komputer untuk memperkirakan jawaban, Baek menggunakan penalaran logis murni.
Dalam makalah setebal 119 halaman yang dirilis di server arXiv, Baek berhasil membuktikan secara absolut bahwa angka yang ditemukan Gerver pada tahun 1992 adalah batas atas yang mutlak. Artinya, secara matematis mustahil ada sofa yang lebih besar dari itu yang bisa melewati tikungan koridor L.
Di sebuah wawancara dengan media internal Korea Institute for Advanced Study (KIAS), Baek berbagi sisi humanis dari penelitiannya. Ia menggambarkan prosesnya sebagai siklus emosional yang berat.
"Anda terus membangun harapan, kemudian menghancurkannya, dan maju lagi dengan mengambil ide dari abu sisa penelitian sebelumnya," ujar Baek dilansir dari Koreaherald.
Ia mengaku lebih menyerupai seorang pemimpi. Baginya, riset matematika adalah pengulangan antara bermimpi (menemukan ide baru) dan terbangun (menghadapi kenyataan bukti logis).
Saat ini, makalah Baek tengah ditinjau oleh Annals of Mathematics, salah satu jurnal matematika paling prestisius dan selektif di dunia. Keberhasilan Baek bukan hanya soal memindahkan sofa, tetapi tentang menciptakan kerangka teori baru dalam masalah optimalisasi geometri yang sebelumnya tidak memiliki landasan hukum yang jelas.
Pencapaian ini membuktikan bahwa dedikasi pada "benih kecil" ide, seperti yang disebut Baek, dapat tumbuh menjadi jawaban atas pertanyaan yang telah menggantung selama setengah abad lebih.
Artikel ini telah tayang di detikINET
(afr/yum)










































