Alarm Bahaya dari Dasar Laut, Cacing Zombie Menghilang!

Kabar Sains

Alarm Bahaya dari Dasar Laut, Cacing Zombie Menghilang!

Adi Fida Rahman - detikJabar
Senin, 29 Des 2025 12:30 WIB
Alarm Bahaya dari Dasar Laut, Cacing Zombie Menghilang!
Cacing zombie (Foto: Adisha Pramod/Alamy)
Bandung -

Kedalaman samudra kembali menyuguhkan kabar yang meresahkan. Para peneliti melaporkan menghilangnya cacing zombie, makhluk laut unik yang selama ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dalam. Lenyapnya organisme pemakan tulang paus ini memunculkan kekhawatiran serius akan terganggunya rantai kehidupan di dasar samudra.

Cacing zombie, yang secara ilmiah dikenal sebagai Osedax, memiliki cara hidup yang sangat tidak biasa. Mereka tidak dibekali mulut, anus, ataupun sistem pencernaan.

Kendati demikian, organisme ini mampu bertahan hidup dengan memecah dan menyerap nutrisi dari tulang paus yang jatuh ke dasar laut. Namun, dalam rentang pengamatan lebih dari sepuluh tahun, para ilmuwan tidak menemukan satu pun jejak keberadaan cacing tersebut di lokasi penelitian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak Terlihat Selama Satu Dekade Pengamatan

Kondisi ini terungkap melalui riset jangka panjang yang dipimpin oleh Fabio De Leo, ilmuwan senior Ocean Networks Canada sekaligus profesor di Universitas Victoria. Bersama timnya, De Leo menempatkan tulang paus bungkuk di dasar laut wilayah Barkley Canyon, yang terletak di lepas pantai British Columbia, Kanada.

Eksperimen ini dirancang untuk mempelajari bagaimana ekosistem laut dalam berkembang di sekitar fenomena "jatuhnya paus", yakni bangkai paus yang tenggelam secara alami ke dasar samudra. Dalam kondisi normal, bangkai tersebut menjadi pusat aktivitas biologis dan menarik berbagai organisme, termasuk cacing zombie. Namun kenyataan di lapangan justru berlawanan dengan harapan.

ADVERTISEMENT

"Selama lebih dari 10 tahun rekaman kamera bawah laut beresolusi tinggi, kami tidak menemukan kolonisasi cacing zombie sama sekali," ungkap De Leo. Dalam kajian ilmiah, absennya temuan semacam ini justru dipandang sebagai indikator adanya perubahan besar pada lingkungan.

Hilangnya Insinyur Ekologi Laut Dalam

Dalam ekosistem laut dalam, cacing zombie dikenal sebagai insinyur ekosistem. Mereka memegang peranan awal dalam proses penguraian tulang paus, sehingga kandungan nutrisi di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh organisme lain. Ketika Osedax tidak hadir, tahapan suksesi ekologi di sekitar bangkai paus menjadi terganggu.

Secara alami, tulang paus berfungsi layaknya "pulau kehidupan" di dasar laut, menyediakan sumber makanan dan tempat hidup bagi beragam spesies selama puluhan tahun. Ketiadaan cacing zombie membuat organisme lain kehilangan akses awal terhadap nutrisi penting yang tersimpan di dalam tulang tersebut.

Para peneliti menduga absennya cacing zombie berkaitan erat dengan kondisi lingkungan ekstrem di wilayah penelitian. Barkley Canyon berada pada zona minimum oksigen alami, di kedalaman hampir 1.000 meter di bawah permukaan Samudra Pasifik. Seiring meningkatnya pemanasan laut dan perubahan iklim, wilayah dengan kadar oksigen rendah ini terus meluas.

"Kami melihat kadar oksigen yang sangat rendah dan tidak biasa. Kondisi ini kemungkinan besar membuat lingkungan menjadi tidak ramah bagi cacing zombie," jelas De Leo.

Apabila perluasan zona minim oksigen ini terus berlanjut, maka berbagai lokasi jatuhnya paus di laut dalam dunia terancam kehilangan fungsi ekologisnya.

Ancaman Serius bagi Kelangsungan Spesies

Menghilangnya cacing zombie tidak dapat dipandang sebagai persoalan lokal semata. Larva Osedax diketahui mampu menempuh jarak sangat jauh melalui arus laut, menghubungkan satu lokasi jatuhnya paus dengan lokasi lainnya hingga ratusan kilometer. Ketika suatu wilayah tidak lagi mendukung keberlangsungan hidup mereka, jaringan konektivitas antarhabitat dapat terputus.

Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi menurunkan keanekaragaman hayati dan bahkan memicu kepunahan lokal cacing zombie.

Tekanan lingkungan juga tercermin pada organisme laut dalam lainnya. Peneliti mencatat bahwa bivalvia penggali kayu seperti Xylophaga masih ditemukan di kawasan tersebut, tetapi tingkat kolonisasinya jauh lebih rendah dibandingkan wilayah dengan kadar oksigen normal.

Cacing zombieCacing zombie Foto: Osedax McClain

Lambatnya proses kolonisasi berdampak langsung pada tertundanya penguraian karbon serta pembentukan habitat bagi organisme lain. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi ekosistem permukaan laut, tetapi juga merusak kehidupan yang tersembunyi jauh di dasar samudra.

Peringatan Keras dari Kedalaman Laut

Temuan ini menjadi alarm penting bagi komunitas ilmiah global. Selama ini laut dalam kerap dianggap stabil dan relatif terlindungi dari perubahan cepat di permukaan. Namun, lenyapnya cacing zombie membuktikan bahwa dampak pemanasan global dan penurunan oksigen laut telah menjangkau ekosistem paling ekstrem sekalipun.

"Ekosistem jatuhnya paus dan kayu laut dalam adalah sistem yang menakjubkan, tetapi juga sangat rentan," ujar De Leo. "Perluasan zona minim oksigen bisa menjadi kabar buruk bagi seluruh jaringan kehidupan di laut dalam."

Riset lanjutan kini terus dilakukan di berbagai lokasi lain. Para ilmuwan berharap penelitian selanjutnya mampu memberikan gambaran yang lebih utuh tentang masa depan ekosistem laut dalam-serta menjawab pertanyaan krusial apakah cacing zombie masih memiliki peluang untuk kembali sebelum kerusakan menjadi permanen.

Artikel ini telah tayang di detikINET

(afr/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads