Dalam beberapa tahun terakhir, Generasi Z menjadi angkatan kerja baru yang semakin besar jumlahnya. Namun, kehadiran mereka di dunia kerja juga membawa fenomena baru yaitu kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa meskipun Gen Z tumbuh dalam era digital dan akses informasi tanpa batas, bukan berarti mereka mudah menembus pasar kerja.
Melansir detikEdu, data terbaru dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025 memperlihatkan situasi yang cukup kontras. Kelompok usia 15-24 tahun yang sebagian besar adalah Gen Z menyumbang tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 16,16 persen. Angka ini jauh di atas tingkat pengangguran usia 25-29 tahun yang hanya 3,04 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, laporan platform profesional iCIMS menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z masih optimistis akan mendapatkan pekerjaan pada 2025. Namun optimisme itu diuji oleh perubahan cepat di pasar kerja, terutama karena kehadiran artificial intelligence (AI) yang berperan besar dalam kebutuhan keterampilan baru.
Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan: mengapa Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan kesulitan mendapatkan pekerjaan?
Sulit menentukan keterampilan yang dimiliki
Laporan Forbes yang dikutip Jumat (28/11/2025) mengungkap bahwa salah satu persoalan utama terletak pada kemampuan Gen Z menilai keterampilan mereka sendiri. Sebanyak 40 persen responden Gen Z di AS mengaku tidak yakin bagaimana menentukan skill yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Akibatnya, mereka melamar banyak pekerjaan tetapi hanya sedikit yang mendapatkan respons. Tak sedikit pula yang akhirnya berencana mempelajari keterampilan baru demi meningkatkan peluang diterima.
Tidak cocok dengan tuntutan keterampilan berbasis AI
Banyak perusahaan kini memasukkan keterampilan terkait AI sebagai salah satu kriteria utama. Sementara itu, Gen Z yang baru lulus sekolah atau kuliah umumnya masih berada pada level pemula. Mereka melamar, tetapi belum memenuhi standar keterampilan yang diminta perusahaan. Ketidakcocokan inilah yang membuat mereka tersaring di tahap awal.
Perusahaan semakin selektif terhadap Gen Z
Beberapa perusahaan juga dilaporkan enggan mempekerjakan Gen Z, terutama karena anggapan bahwa mereka kurang memiliki etika kerja. Meskipun terampil mengikuti tren, perusahaan menilai Gen Z kerap datang dengan persiapan kerja yang kurang matang. Sebagian perusahaan bahkan lebih memilih opsi lain: mempekerjakan pekerja lepas (45%), merekrut kembali tenaga pensiun (45%), membiarkan robot atau AI mengambil alih pekerjaan (37%), bahkan membiarkan posisi tetap kosong (30%).
Idealisme yang terlalu kuat
Nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Gen Z mulai dari perawatan diri, ekspresi diri yang autentik, hingga keinginan membantu orang lain, sering kali berbenturan dengan budaya kerja yang sudah ada. Studi terhadap 77.000 orang di AS menunjukkan bahwa Gen Z cenderung menolak nilai generasi sebelumnya, terutama yang dinilai merusak sistem.
Masalahnya, nilai yang terlalu kaku bisa menciptakan jarak dengan dunia profesional. Bukan berarti perusahaan menolak nilai tersebut, tetapi mereka membutuhkan karyawan yang dapat menyesuaikan diri dengan dinamika kerja sehari-hari.
Menurut Suzy Welch, profesor di Sekolah Bisnis Stern - New York University, Gen Z perlu menyeimbangkan idealisme dengan realitas pekerjaan.
"Saya jarang menyarankan orang untuk mencoba mengubah nilai-nilai mereka. Ini seperti mengubah kepribadian; yang biasanya tidak akan bertahan lama," ungkap Welch.
Ia menegaskan, jika Gen Z membutuhkan pekerjaan segera, mereka perlu melihat tujuan lebih dulu sebelum mempertahankan nilai yang tidak bisa dinegosiasikan. Bila ingin tetap berpegang pada idealisme, mereka harus mencari perusahaan yang benar-benar selaras dengan nilai tersebut. Jika tidak, kompromi menjadi langkah yang diperlukan.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
(faz/dir)











































