Skenario Penangkapan Macan Tutul Kabur di Lembang Park & Zoo: Tembak Mati-Dibius

Skenario Penangkapan Macan Tutul Kabur di Lembang Park & Zoo: Tembak Mati-Dibius

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 28 Agu 2025 18:43 WIB
Macan tutul yang dievakuasi dari kuningan lalu kabur dari Lembar Park & Zoo
Macan tutul yang dievakuasi dari kuningan lalu kabur dari Lembar Park & Zoo (Foto: Dok BBKSDA).
Bandung -

Kabar mengejutkan datang dari objek wisata Lembang Park and Zoo, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ketika seekor macan tutul kabur dari kandang tempat penangkaran.

Macan tutul itu kabur pada Kamis (28/8/2025) sekitar pukul 05.30 WIB. Berdasarkan pengakuan pengelola, macan tutul berusia 3 tahun itu merupakan hewan yang dievakuasi dari kantor balai desa di Kabupaten Kuningan, beberapa hari lalu.

Macan tutul itu kabur dengan menjebol bagian atap kandang tempatnya dikarantina sebelum diobservasi dan dilepasliarkan di kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menangkap lagi macan tutul itu, tiga tim dibentuk. Berisikan pengelola Lembang Park and Zoo, dokter hewan, penembak bius, Dinas Kehutanan, BBKSDA, hingga TNI dan Polri.

ADVERTISEMENT

"Kita membentuk 3 tim, nah dari masing-masing tim itu sudah diwakili dokter hewan, penembak jitu, penembak bius, dan juga ada yang tulup (peniup bius dengan benda seperti sedotan). Tulup juga menggunakan bius juga," kata Humas Lembang Park and Zoo, Miftah Setiawan saat konferensi pers di Lembang Park and Zoo, Kamis (28/8/2025).

Miftah mengungkap ada dua skenario yang disiapkan guna menangkap hewan dengan nama latin Panthera pardus tersebut. Menangkap hidup-hidup dengan dibius atau ditembak mati.

"Macan tutul termasuk hewan yang dilindungi, kita berikhtiar ditangkap hidup-hidup. Namun jika di lapangan terjadi hal yang tidak diinginkan, atas izin dari pihak yang berwenang kita diperbolehkan untuk menembak mati macan tersebut," ujar Miftah.

Macan tutul tersebut pada dasarnya tidak berbahaya, namun karena tetap sifat dasarnya merupakan hewan liar reaksi dari macan tutul itu tidak akan diprediksi ketika ada di lingkungan baru.

"Intinya masyarakat kita minta tenang, karena tidak akan menyerang ketika bertemu manusia kecuali dia dalam keadaan terancam," kata Miftah.

Sisir Bagian Gunakan Drone Thermal dan Anjing Pelacak

Upaya pencarian macan tutul itu juga mengerahkan sumber daya selain manusia secara langsung. Misalnya menerjunkan drone thermal atau pendeteksi panas dan unit anjing pelacak atau K-9 milik Polda Jabar.

"Tim Dinas kehutanan juga menggunakan alat (drone) thermal untuk mendeteksi pergerakan satwa, mudah-mudahan bisa segera terdeteksi karena hewan ini nokturnal sehingga aktif di malam hari. Lalu ada anjing pelacak yang penciumannya jauh lebih tajam," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Agus Arianto.

Agus menyebut anjing pelacak sempat menemukan jejak dan kotoran macan tutul itu di area dalam Lembang Park and Zoo. Hal itu memunculkan optimisme jika hewan karnivora itu masih berada di dalam area Lembang Park and Zoo.

"Dari hasil pelacakan dengan anjing pelacak, ditemukan dugaan kotoran dan jejak tapak di sekitar area kebun binatang. Jadi kemungkinan besar satwa masih berada di area dalam sekitar sini," kata Agus.

"Untuk masyarakat, jika menemukan atau melihat satwa tersebut jangan langsung melakukan penanganan. Segera melapor ke polsek terdekat, aparat terkait, kebun binatang, atau kepada kami," imbuhnya.




(ral/mso)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads