Harapan petani garam di pesisir Kabupaten Cirebon untuk menikmati musim produksi tahun ini harus kandas di tengah cuaca yang tak menentu. Meski harga garam di tingkat petani kini terbilang menggembirakan, yakni berkisar Rp900 hingga Rp1.000 per kilogram, kenyataannya sebagian besar tambak justru dibiarkan kosong.
Sejak Mei 2025, lahan-lahan garam di Kecamatan Pangenan dan sekitarnya mulai digarap. Para petani bersemangat menyiapkan tanggul, memperbaiki tambak, hingga membeli bahan-bahan produksi. Namun, kerja keras itu tak berbuah manis. Musim kemarau tahun ini berbeda karena hujan masih kerap turun, bahkan air rob rutin merendam tambak.
"Sekarang katanya kemarau basah. Hampir tiap bulan tetap ada hujan. Kalau sudah begitu, kami tidak bisa produksi karena tambak terendam," keluh Ismail Marzuki, petani asal Desa Rawaurip, Kamis (28/8/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ismail mengaku sudah menggelontorkan biaya cukup besar sejak awal musim. Mulai dari sewa lahan, material untuk alas tambak, hingga memperbaiki tanggul yang rusak diterjang air rob. Sayangnya, modal yang keluar belum kembali karena produksi tersendat.
"Yang sudah bisa panen hanya segelintir orang. Itu pun jumlahnya sangat sedikit. Mayoritas memilih menunggu cuaca benar-benar kering," ujarnya.
Di pesisir Cirebon, persoalan bertambah pelik dengan adanya banjir rob. Air laut yang naik ke daratan membuat tambak tak kunjung kering.
"Kalau hujan sekali saja sudah cukup merusak. Ditambah rob, ya tambak makin sulit dipakai," kata Ismail.
![]() |
Secara ekonomi, dampaknya mulai terasa. Pasokan garam dari tingkat petani berkurang, sementara permintaan rumah tangga dan industri tetap tinggi. Jika kondisi ini berlanjut, harga di pasar bisa melonjak lebih tinggi. Bahkan, bukan tidak mungkin kebutuhan industri kembali bergantung pada garam impor.
Padahal, Cirebon selama ini dikenal sebagai salah satu sentra garam rakyat terbesar di Jawa Barat. Ribuan hektare lahan di pesisir utara menjadi andalan suplai garam untuk berbagai daerah. Namun, ketergantungan pada iklim membuat produktivitas mudah goyah.
Kini, sebagian besar petani memilih bersabar. Mereka hanya bisa menatap tambak yang kosong, berharap langit benar-benar cerah di minggu-minggu mendatang. "Kalau cuaca mendukung, kami pasti mulai lagi. Tapi kalau begini terus, lebih baik berhenti dulu daripada terus merugi," ujar Ismail lirih.
Hal senada dialami Moh Asral, petani garam lain di wilayah yang sama. Ia hanya sekali merasakan panen tahun ini, itu pun tak lebih dari 100 kilogram. Setelah hujan deras kembali mengguyur, lahannya terendam dan tak bisa lagi diolah.
"Informasinya harga garam sedang bagus. Tapi apa gunanya kalau kami tidak bisa produksi? Saya akhirnya tinggalkan lahan," ucapnya pasrah.
Fenomena "kemarau basah" yang disebut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memang menjadi momok tersendiri. Meski kalender menunjukkan musim kemarau, curah hujan tetap tinggi. Bagi petani garam, kondisi ini adalah kabar buruk, sebab produksi garam hanya bisa berjalan jika panas matahari stabil tanpa gangguan hujan.
(yum/yum)