Seorang guru SMK di Cirebon mendapat banyak sorotan publik beberapa hari terkahir ini. Hal tersebut terjadi setelah guru bernama Muhammad Sabil itu melontarkan kritik kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui kolom komentar di akun instagram.
Sabil terpantik melontarkan kritik kepada Ridwan Kamil lantaran melihat orang nomor satu di Jawa Barat itu mengenakan jas berwarna kuning saat berkomunikasi dengan sejumlah siswa SMP di Tasikmalaya secara virtual.
Sabil menilai jas berwarna kuning yang dikenakan oleh Ridwan Kamil adalah simbol dari salah satu partai politik. Sehingga tidak pantas untuk digunakan ketika sedang berhadapan dengan lingkungan sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, kata-kata yang digunakan oleh Sabil saat melontarkan kritik terhadap Ridwan Kamil dianggap kurang sopan. Akibatnya, ia mendapat banyak hujatan dari sejumlah netizen. Selain itu, ia juga dipecat dari sekolah tempatnya mengajar.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Maman Imanulhaq meminta agar kedua belah pihak dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari peristiwa ini.
Menurutnya, kritikan yang disampaikan oleh Muhammad Sabil terhadap Ridwan Kamil merupakan hak bagi setiap warga negara. Hanya saja, ia meminta agar Sabil dapat menggunakan kata-kata yang santun saat ingin menyampaikan pendapat.
"Di satu sisi kita memang perlu mensyukuri yah kebebasan kita dalam berdemokrasi. Karena bagaimana pun salah satu faktor kita untuk menjadi negara maju adalah kebebasan berbicara, berpendapat, dan lain sebagainya. Tapi kebebasan ini bukan berarti kehilangan etika," kata anggota Komisi VIII DPR itu saat berbincang dengan detikJabar di Cirebon, Sabtu (18/3/2023).
"Jadi menurut saya apa yang dilakukan oleh Sabil adalah hak warga negara untuk berbicara. Jangan takut untuk terus mengkritisi. Tetapi bahasa tetap harus diperbaiki. Apalagi untuk seorang guru seperti Sabil," kata dia menambahkan.
Sementara kepada Ridwan Kamil, Maman Imanulhaq juga berharap agar ke depan Gubernur Jawa Barat itu bisa memperhatikan pakaian saat sedang beraktivitas.
Sebab, awal mula terjadinya polemik ini adalah berangkat dari Muhammad Sabil yang melihat Ridwan Kamil sedang menggunakan jas berwarna kuning saat sedang berkomunikasi dengan siswa SMP di Tasikmalaya secara virtual.
"Saya rasa pejabat publik juga sudah harus mulai bisa menempatkan diri. Mana dia sebagai pejabat yang mewakili warga, mana dia sebagai kader partai politik," kata Maman.
"Saya sendiri sebagai anggota DPR yang kalau keliling dan sebagainya, saya lebih memilih menggunakan atribut di mana saya menyesuaikan sebagai warga. Jadi Kang Emil pun jangan terlalu kuning kalau sedang jadi Gubernur. Harus bisa menempatkan diri," kata dia menambahkan.
Sekadar diketahui, seorang guru SMK di Cirebon banyak mendapat hujatan dari netizen hingga harus dipecat dari sekolah tempatnya mengajar. Kejadian ini bermula saat guru bernama Muhammad Sabil itu melontarkan kritik kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil melalui kolom komentar akun instagram.
Sabil terpantik melontarkan kritik lantaran melihat Ridwan Kamil mengenakan jas berwarna kuning saat sedang berkomunikasi dengan siswa SMP di Tasikmalaya secara virtual.
Ia menilai jas berwarna berwarna kuning yang saat itu digunakan Ridwan Kamil merupakan simbol dari salah satu partai politik. Sehingga tidak pantas digunakan saat sedang berkomunikasi dengan lingkungan sekolah.
Hanya saja, saat melontarkan kritik kepada Ridwan Kamil melalui kolom komentar akun instagram, Sabil dianggap kurang sopan gegara menggunakan kata Maneh.
"Dalam zoom ini, maneh teh keur jadi Gubernur Jabar atau kader partai atau pribadi?," tulis Muhammad Sabil saat berkomentar dalam postingan Ridwan Kamil.
"Ceuk maneh kumaha?," ucap Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil membalas komentar Sabil melalui akun instagram pribadinya.
Berangkat dari kejadian ini lah, Sabil pun mendapat banyak hujatan dari netizen. Tidak sampai di situ, usai melontarkan kritik dengan menggunakan kata 'Maneh' itu, Muhammad Sabil bahkan harus mendapat surat pemecatan dari sekolah tempatnya mengajar.
Namun, belakangan pihak sekolah menyatakan akan membuka kesempatan kepada Muhammad Sabil untuk kembali mengajar. Hanya saja, Sabil sendiri menyatakan menolak tawaran tersebut lantaran sudah merasa malu atau tidak enak hati terhadap lembaga pendidikan tempatnya mengajar.
(mso/mso)










































