Ahmad Dedi bisa dibilang menjadi saksi perubahan tren mainan anak-anak di Kota Bandung. Dedi kini membuka lapak di samping Jalan Ibrahim Adjie dan pasar mingguan di Gasibu Bandung. Ia sudah jual mainan dan barang-barang yang lagi tren.
Barang dagangan Dedi selalu berubah. Mengikuti tren. Kini, Dedi menjajakan lato-lato dan jas hujan plastik. "Sekarang musim hujan, terus juga lagi ramai lato-lato juga," kata Dedi saat berbincang dengan detikJabar di Jalan Ibrahim Adjie Kota Bandung, Rabu (28/12/2022).
Demam lato-lato memang melanda masyarakat Indonesia. Lato-lato sejatinya permainan tradisional yang juga pernah tren pada zaman dulu. Dedi juga mengaku pernah bermain lato-lato saat masih berstatus sebagai pelajar SD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lato-lato itu dulu pernah saya main juga. Sekarang saya jual," katanya seraya tertawa.
Pria berusia 58 tahun itu mengaku sudah berjualan mainan musiman dan barang lainnya sejak 1989. Awalnya, Dedi bekerja di pasar. Kemudian berhenti dan menjadi pekerja di salah satu supermarket lawas di Bandung.
"Sambil jualan waktu kerja juga, ya mainan zaman dulu mah banyak," kata perantau asal Tasikmalaya itu.
Dedi ingat betul saat dirinya pindah ke Bandung. Gunung Galunggung meletus kala itu. Kemudian ia merantau dan bekerja serabutan. Hingga akhirnya, Dedi bertemu dengan 'jalan ninjanya', yakni sebagai penjual mainan musiman.
Pedagang lato-lato di Bandung. Foto: Sudirman Wamad |
Ia bercerita sebelum demam lato-lato melanda, mainan burung-burungan gantung yang terbang sempat banyak diburu anak-anak. Burung-burungan terbang ini menggunakan tenaga baterai. Dedi menjualnya di kisaran harga Rp 30 ribuan.
"Sekarang, burung-burungan terbang itu sulit barangnya. Gesernya ke lato-lato," ucap Dedi.
Berbagai mainan pernah dijual Dedi. Lapaknya di pasar mingguan Gasibu selalu diberondong anak-anak. Menurut Dedi, yang paling langgeng dan stabil adalah penjualan mobil remot kontrol.
"Mobil remot masih saya jual. Ada pembelinya," katanya.
Dedi juga menjelaskan mainan lainnya yang sempat tren belakangan ini adalah mainan berbentuk kamera yang mengeluarkan gelembung. "Ini saya juga dulu jual. Ya ramai pembelinya," kata Dedi.
Dalam satu hari, Dedi bisa meraup omzet hingga Rp 300 ribu per hari dari hasil berjualan lato-lato dan jas hujan. Dalam satu hari, ia bisa menjual 10 hingga 15 lato-lato.
Dedi menyebutkan sejumlah mainan yang sempat musim pada zaman dulu periode 90'an hingga 2000. Ia pernah menjual mainan kitiran, monopoli, congklak, kuda-kudaan hingga remot kontrol.
"Kitir-kitiran itu dulu sempat ramai. Kalau mainan memang terus ganti, musiman," kata ayah dua anak itu.
(sud/yum)











































