Info Adopsi Bayi Korban Gempa di RSUD Sayang Cianjur Dipastikan Hoaks

Info Adopsi Bayi Korban Gempa di RSUD Sayang Cianjur Dipastikan Hoaks

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 30 Nov 2022 09:00 WIB
Beredar foto sejumlah bayi korban gempa Cianjur yang siap diadopsi. Dalam keterangan fotonya tertulis bagi siapapun yang ingin mengadopsi bisa datang ke RSUD Sayang.
Beredar foto sejumlah bayi korban gempa yang siap diadopsi. Dalam keterangan fotonya tertulis bagi siapapun yang ingin mengadopsi bisa datang ke RSUD Sayang (Foto: Istimewa).
Bandung -

Sebuah foto yang memperlihatkan sejumlah bayi di RSUD Sayang siap diadopsi viral di media sosial. Bayi-bayi itu dinarasikan sebagai korban gempa M 5,6 yang mengguncang Kabupaten Cianjur.

Pada bagian foto yang viral tersebut, terdapat keterangan "yang mau adopsi bayi silahkan datang ke rs sayang cianjur ibunya meninggal terkena gempa".

Pihak RSUD Sayang membantah informasi tersebut. Dalam unggahan di akun Instagram resminya @rsudsayang.someah dipastikan adopsi bayi korban gempa di RSUD Sayang adalah hoaks.

"Berita/informasi tersebut tidak benar, semua bayi dan anak yang ada di foto tersebut sudah dipulangkan atau dibawa masing-masing anggota keluarganya," tulis klarifikasi RSUD Sayang.

Sementara itu, polisi akan mendalami terkait unggahan tersebut. Polisi menilai unggahan soal adopsi bayi korban gempa bisa menyesatkan publik.

"Kita akan lakukan lidik pendalaman, apabila kita dapatkan dan bisa profiling orang-orangnya nanti akan kita proses," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Ibrahim Tompo, Rabu (30/11/2022).

Dia menyebut penyebaran informasi tidak benar melalui medsos, bisa masuk pelanggaran pidana. "Ini informasi harus kita klarifikasi, apabila kebenarannya tidak bisa dijamin ini masuk ranah pidana terkait informasi publik di medsos yang tidak benar adanya," ucapnya.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial. "Kita berharap masyarakat bijaksana melihat informasi yang bergulir dan tidak jadi residu informasi di masyarakat yang akhirnya menyesatkan informasi publik, setiap isu yang ada kita klarifikasi dan lakukan pendalaman," ujar Ibrahim.

(wip/mso)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT